Uncategorized

“Aku ikut!”

Kamu mengikuti Dimas walau ia melarangmu keluar dari ruang pesta. Kamu masih sanggup mengejar dan menemukannya, karena ternyata ia dan para pengawal ada di lobby hotel seperti dugaanmu. Namun kehebohan di lobby membuat pandanganmu mengabur. Sesosok tubuh bersimbah darah tergeletak di depan pintu masuk hotel, orang-orang mengerumuninya sambil menggeleng prihatin atau berpandangan dengan bingung.

Kamu tak ingin berprasangka buruk, namun hatimu betul-betul gelisah. Kakimu berlari kencang dan menerobos keramaian itu. Kamu berhasil menerobos mereka semua, walau salah satu pengawal mengejar dan berusaha menahanmu.

Tepat ketika kamu melihat wajah yang terbaring penuh darah itu, kamu berteriak keras sambil menangis. Ayahmu ada di sana, memejamkan matanya dan seketika kamu tahu bahwa beliau sudah tiada. Seorang pengawal menarik lenganmu kuat sekali, menahanmu agar tidak mengacaukan TKP (Tempat Kejadian Perkara). Tak lama, Dimas datang dan memelukmu.

Malam tahun barumu berubah menjadi mimpi buruk. Seseorang telah membunuh ayahmu, kalian sebagai anak-anaknya meyakini hal itu, walau belum ada bukti apa-apa. Polisi menduga beliau bunuh diri, namun Dimas marah besar. Seorang Iptu muda dari kepolisian mendatangi rumahmu, berkata bahwa ia akan menyelidiki kasus ini untuk keluargamu. Perlahan, ia tersenyum ramah padamu.

  1. Awal yang baik, sepertinya aku bisa percaya padanya. Papa tak mungkin bunuh diri. Semoga kasus ini terungkap segera. 
  2. Berkata bahwa kamu dan keluargamu tidak ingin mereka melanjutkan penyelidikan dan berpikir bahwa mungkin saja ini murni bunuh diri. 
(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *