Cerita pendek

#CeritaKruBFG – Mengugat Anggoro

Arum tahu Anggoro berbohong. Ucapannya tentang Ambar, rekaan ulang ceritanya, segalanya. Namun, ia tidak mampu menggugat kakaknya itu. Terkadang, didapatinya tatapan yang menusuk dari mata Anggoro. Sepertinya, kepulangannya dari rantau tahun ini akan menjadi kepulangan terberat.

Ambar kini hanya bisa duduk termangu sambil menatap kosong pada dinding. Satu-satunya yang diteriakkannya seolah mengisyaratkan sesuatu hanyalah, “pembunuh!”

Suatu malam, Arum mendapati Anggoro pulang dalam keadaan mabuk berat, menerobos masuk ke kamarnya, meracau dan mendekap tubuhnya dengan kasar. Hanya satu nama yang kerap terucap; Ambar. Arum semakin panik ketika tubuhnya didorong hingga tersungkur jatuh. Dengan sisa-sisa kekuatan, diraihnya guci ukuran menengah yang terpajang di kamar.

Lalu segalanya berlalu begitu saja; racauan, jeritan Anggoro, dan darah merah pekat.

Kemudian, yang terpikirkan olehnya hanya lemari. Lemari tua milik mendiang ibu mereka. Tanggannya terus menggali, tubuh Anggoro yang bersimbah darah diseretnya perlahan-lahan. Sampai sebuah benda berbungkus sarung ditemukanya diantara galian bawah lemari.

Mayat bayi penuh belatung.

Dari kejauhan, didapatinya senyum aneh tersungging di bibir Ambar.
“Pembunuh!”


*ditulis untuk #CeritaKruBFG
Flash Fiction 161 kata, sesuai tanggal kelahiran Bookaholic Fund, 16 Januari.
*terkait bahasan tentang ‘incest’ di grup WA BFG – disponsori @siputriwidi ._.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *