Mereka berempat masih di sana. Satu tempat yang sama, satu malam yang sama. Bergabung puluhan anak manusia lainnya menghabiskan waktu mereka untuk dance mengikuti irama musik yang hingar bingar. Mendapati bahwa hati mereka merasakan sebuah kebahagiaan semu di bawah penerangan lampu kerlap-kerlip. Mendapati bahwa masalah mereka hilang dalam sekejab, setelah menenggak cairan-cairan warna-warni yang mereka pesan sendiri.

Lelaki itu menatap awas pada sebuah tubuh seksi yang berjoget di lantai dansa. Sesekali oleng ke kanan dan ke kiri. Beberapa lelaki muda yang lewat menggoda bahkan berjoget bersamanya, sebelum akhirnya bosan sendiri dan pergi, namun lelaki yang kini sedang berada di hadapan wanita itu sepertinya semakin lama semakin senang, ia tak juga beranjak sedari tadi. Si lelaki pertama yang masih berdiri tak jauh dari meja bartender kemudian menenggak habis sisa tequila di gelasnya, lalu turun ke lantai dansa dan menarik paksa si lelaki hidung belang yang kini mulai mencoba menggerayangi tubuh si wanita.

Terjadi adu jotos, namun hanya si lelaki pertama yang terus melancarkan serangan. Lelaki kedua tengah mabuk dan tidak punya tenaga lagi untuk melawan, membuat ia akhirnya tersungkur jatuh ke lantai. Sedangkan tamu-tamu lain sibuk sendiri dengan diri mereka, dan juga musik DJ yang masih hingar bingar.

Tak ada yang peduli.

“Lo selalu begini, Rhey. Nggak bisa melepaskan semua masalah tanpa clubbing, minum dan muntah.” Ares berbisik pelan sambil menggendong tubuh Rheya yang kini benar-benar sudah limbung.

“Res?! Lho, Res? Itu si Rheya tepar lagi?” Sebuah suara lain menyambut mereka di tengah jalan.

“Iya. Pulang sekarang, Hes! Kunci mobil mana? Sama lo, kan?” Ares berteriak dengan suara agak keras, karena suara mereka kelamaan semakin tenggelam akibat suara musik yang berdentum.

“Ayo deh, buruan!” perempuan rambut ikal bernama Hestia itu menenggak habis bir pesanannya, lalu berlari mendahului Ares ke arah pintu keluar.

Mereka berdua sibuk ‘mengamankan’ Rheya dari club yang masih ramai. Sepasang mata lain mengawasi dari kejauhan, menatap tidak suka pada Ares yang kini tengah menggendong tubuh Rheya. Ia melirik jam di tangannya, pukul setengah tiga dinihari. Di luar sana mungkin kota ini masih gemerlapan, tampak hidup sepanjang waktu. Namun ada sesuatu yang kini mulai meredup.

Hatinya sendiri.

Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Dengan satu tangan, ia meraih benda kecil itu dari dalam kantung jaket  kulit cokelat yang ia kenakan, “ya, Hes?”

“Ze, lo di mana, sih? Rheya jackpot lagi, nih. Kita pulang sekarang! Gue tunggu di parkiran.” Suara Hestia terdengar parau.

Tanpa menjawab lagi, Zea segera menandaskan minumnya, meletakkan gelas kosong di atas meja, lalu beranjak pergi setelah meninggalkan beberapa lembaran seratus ribuan untuk membayar pesanan mereka semua.

Zea mendengus kesal. Baginya pesta ini belum usai, musik masih terdengar menggoda di daun telinga. Namun lagi-lagi mereka semua harus pulang hanya karena Rheya sudah mabuk berat. Semuanya demi Rheya. Si bungsu yang selalu mereka sayang sedari kecil itu. Rheya yang cantik, Rheya yang seksi dan menarik bagai seorang dewi yang dipuja banyak orang. Nyatanya ia memang seorang dewi. Mungkin dewi cinta, hingga kini Ares semakin kepayang dibuatnya.

*

            Ares membaringkan tubuh Rheya di atas ranjang apartemennya. Setelah melepaskan sepatu gadis itu dan menyelimutinya, lelaki berambut cepak itu melangkah menuju pantri, meraih dua botol air mineral dari dalam kulkas.

“Kayaknya ini lebih sehat setelah mabok.” Ares meletakkan dua botol air itu di atas meja di ruang tengah. Di sofa ruang tengah, Hestia duduk dengan mata sayunya, lelah menyetir selama satu jam. Sedangkan di sampingnya ada Zea, yang masih memasang wajah kaku.

“Kayaknya diantara kita berempat cuma dia yang paling mabok, deh.” Zea berujar sinis sambil meraih remote dan menyalakan TV LCD 32” di hadapan mereka.

“Dia cuma lagi ada masalah, Ze.” Ares menenggak air mineral yang sama sekali tak disentuh kedua sahabatnya.

“Dan dia selalu punya penyelesaian yang sama untuk semua masalahnya.”

“Udahlah, Ze. Jangan bikin kita semua makin capek. Kepala gue pusing, nih.” Hesti memotong ucapan Zea, lalu memijit pelan kepalanya yang berdenyut.

Semuanya diam. Hanya terdengar suara dari film-film siaran TV kabel milik Ares. Zea diam-diam mencuri pandang ke arah Ares. Dugaannya tidak meleset, lelaki itu juga mencintai Rheya.

*

            Rheya terbangun dengan kepala berat, matanya mengerjap-ngerjap pelan. Ia menghela nafas pelan ketika mengetahui di mana ia berada. Kamar apartemen Ares. Lagi.

“Hai, udah bangun?” seolah panjang umur, Ares tiba-tiba saja sudah muncul di balik pintu, membawakan sepiring sandwich dan segelas susu cokelat kesukaan Rheya.

“Gue mabok lagi, ya, Res? Muntah, nggak?” Rheya mengucek matanya sambil menegakkan tubuh dan merenggangkan otot-otot tubuhnya.

“Haha, iya. Mobil gue lagi-lagi jadi korban, tuh.” Ares tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Rheya. “feel better?”

            “Uhm, yeah.” Rheya mengangguk pasti, lalu mencomot sandwich yang diletakkan Ares di meja kecil di samping ranjang.

“Rhey?”

“Hmm?”

Any problems?”

            Rheya menggeleng.

“Seenggaknya lo nggak perlu bohong ke kita bertiga, Rhey. Kita semua sahabatan sejak kecil, kan? Gue tahu kelakuan lo kalo lagi ada masalah.”

Rheya berhenti mengunyah, padahal mulutnya masih penuh sandwich. Perlahan gadis itu terisak, merasa gagal menutupi sandiwara untuk tetap terlihat baik-baik saja di hadapan ketiga sahabatnya.

“Kalo nggak mau cerita sekarang nggak apa-apa, Rhey. Nanti, ya.” Ares meraih Rheya ke dalam pelukan, mengusap-ngusap punggungnya dengan sayang.

“Res, kok di kulkas nggak ada…” Zea yang kemudian memberondong masuk ke kamar  tanpa izin tidak sengaja menangkap pelukan itu. Sepasang matanya kembali memandang tidak suka ke arah Ares.

*

            Rheya menatap kosong pada tiga buah buku tebal yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. Rinjani, seorang sahabat karibnya di kampus berbaik hati memilihkan buku-buku itu diantara rak yang berjejer. Buku yang menjadi bahan untuk tugas paper Rheya minggu depan. Tanpa diberitahupun, Rinjani sudah hafal dengan sikap Rheya. Wajah gadis itu selalu kusut tiap kali ada masalah, dan itu dibawa-bawanya hingga ke kampus. Jadi, bila seharian Rheya hanya diam dan banyak melamun, bisa dipastikan ia memang sedang ada masalah.

“Rhey, deadline papernya Selasa depan, ya.” Rinjani menegur sambil menyuapkan potongan terakhir batagor ke dalam mulutnya.

“Iya.” Rheya mengangguk pelan sambil mengaduk-aduk sisa es jeruk yang tinggal setengah gelas. Kantin mulai menyepi, satu-persatu pengunjungnya mulai pergi.

“Gue harus cabut, nih. Topan udah jemput. Lo nggak apa-apa sendirian?” Rinjani meraih tas dan diktat-diktat kuliahnya.

Rheya hanya mengangguk tanpa menjawab.

“Kalo ntar nggak ngerti tentang papernya, BBM aja. Kita kerjain bareng-bareng. Ya, Rhey?” Rinjani menepuk pelan bahu Rheya, lalu beranjak dari sana.

Setelah tubuh Rinjani menghilang di antara kerumunan orang, Rheya kembali tenggelam dalam lamunannya. Ia benci jika masalah kedua orangtuanya merasuki kepala. Ia tidak suka memikirkannya, namun juga tak mampu melupakannya dan menganggap masalah sialan itu tak pernah ada. Berkali-kali ia menyarankan Mama untuk bercerai saja, namun Mamanya seolah menulikan telinga, tidak mau mendengar saran Rheya. Sementara Papa sendiri masih sibuk dengan perempuan-perempuan murahan yang dibayarnya di luar sana, hanya sesekali pulang ke rumah. Kepulangan yang selalu berujung keributan dan berakhir pada bekas-bekas lebam di wajah Mama. Rheya benci memikirkan itu semua.

Sesosok tubuh lain menghampiri meja Rheya. Gadis itu tidak menyadarinya hingga si lelaki mencoba menepuk bahunya. “Rheya?”

“Eh?” Rheya tersadar dari lamunannya. “Zea? Sejak kapan di sini?”

“Baru aja. Emang lo nggak nyadar ya kalo gue di sini?” Zea menyulut rokok mentolnya.

“Ares mana? Kok nggak bareng? Bukannya hari ini ada jadwal gym bareng?”

“Ares tadi nggak nge-gym. Gue SMS nggak dibales.” Zea menghembuskan asap rokoknya.

“Oooh.” Rheya meraih ponselnya lalu mendial kontak Ares.

“Nelpon siapa, Rhey?”

“Ares. Mau minta jemput. Gue nggak bawa mobil, takut nabrak kalo nyetir.”

“Gue bawa mobil, kok. Bareng aja.”

“Rumah lo kan nggak searah, Ze. Ntar bolak-balik. Belum macetnya.” Rheya mengangkat bahu, menolak halus ajakan Zea.

Terdengar nada tunggu sejenak, sebelum akhirnya suara berat Ares menyapa. “Halo?”

“Res? Di mana? Sibuk, nggak?”

Zea diam, mendengarkan percakapan Rheya dengan pandangan kosong. Asap rokoknya terus mengebul. Ia tahu dalam keadaan apapun Ares akan selalu ada untuk Rheya. Meskipun lelaki itu sedang demam dan tidak enak badan, Ares biasanya akan menyempatkan diri menjemput Rheya dari kampus. Terlebih jika Rheya sendiri yang meminta. Dan nyatanya Rheya memang sering manja, selalu meminta bantuan Ares untuk melakukan ini dan itu. Karena Rheya sendiri memang lebih nyaman ada bersama Ares, ketimbang bersama Zea.

“Udah balik, Rhey? Gue jemput sekarang, ya? Lagi di jalan, nih.” Suara Ares terdengar lagi.

“Iya. Gue tunggu di tempat biasa. Bye, Ares.” Sambungan ponsel pun terputus.

“Gimana Rhey?” Zea penasaran.

“Ares bilang tunggu, dia on the way.

Zea menghela nafas pelan, lalu menatap dua manik mata Rheya dalam-dalam. “Rhey..”

“Kenapa, Ze?”

“Lo sayang sama Ares?”

*

Rumah Sakit, sorenya.

“Minum dulu, nih.” Hestia menyodorkan sekaleng minuman soda ke arah Zea. “Lo itu sebenernya kenapa, sih? Kayaknya semingguan ini uring-uringan terus? Muka lo juga makin pucat aja, kayak orang kurang tidur.”

“Emang gue keliatan uring-uringan?” Zea membuka kaleng minuman tadi, lalu meneguk isinya. “Ya emang kurang tidur, gimana mau tidur tenang kalo kalian ngajak clubbing mulu tiap malem.” jawabnya cuek.

“Percuma dong gue kerja jadi psikolog, kalo gue nggak nyadar perubahan sikap sahabat gue sendiri,” celetuk Hestia sembari melemparkan beberapa berkas di tangannya ke atas meja, “kalo boleh gue nebak, ini masalah Rheya. Iya, kan?”

“Si bungsu manja itu..” Zea tertawa misterius, lalu kembali sibuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah menolak untuk menatap mata Hesti.

“Dia memang paling kecil diantara kita, paling manja juga. Tapi gue rasa selama ini kita nggak punya masalah dengan itu, kan? Ares sendiri..”

“Ares sendiri selalu seneng manjain dia. Ngikutin segala kemauannya, nganter jemput dia ke kampus.”

“Lo… cemburu sama mereka?” Hesti menaikkan alis, sebuah senyum tersungging di bibir merah mudanya karena baru saja berhasil menangkap nada tidak suka pada suara Zea.

“Tau apa sih lo soal cinta.” Zea menyindir.

Hesti mengangguk-angguk setuju. Ia memang tak pernah mau tahu apa-apa soal cinta. Ia bahkan tak percaya pernikahan, apalagi jika dihadapkan hanya pada sebuah kisah cinta picisan. Tapi ini berbeda untuknya. Ini kisah cinta sahabat-sahabatnya.

“Gue memang nggak tahu apa yang lo sembunyiin, ya, Ze.” Hesti duduk di samping Zea, lalu mendekatkan mulutnya ke daun telinga Zea. “Tapi yang pasti, gue tahu lo lagi cemburu sama mereka.” Bisiknya pelan.

Zea tertegun. Hestia benar. Lalu ingatannya melayang pada foto seseorang yang ia selipkan diantara foto-foto lain di dalam dompetnya. Foto yang didapatnya dari hasil menggunting foto mereka berempat. Foto Ares yang tengah tersenyum lebar sambil merangkul tubuh Rheya.

Namun di sepotong foto yang ada di dompet Zea, hanya ada sosok Ares.

Tanpa Rheya.

*

            “Rhey? Kok bengong?” Ares mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Rheya.

“Nggak apa-apa. Ares mau makan apa?” Rheya berujar sambil menatap ke sekeliling. Suasana food court mall tampak begitu ramai malam ini.

Ares tersenyum, lalu menunjuk sebuah counter es krim. “Es krim cokelat dulu, mau?” Ditawarkannya es krim favorit Rheya, setidaknya mungkin bisa menetralkan perasaan gadis itu.

Rheya mengangguk setuju, “Rheya atau Ares yang mau ngantri?”

“Gue aja. Bentar, ya.” Ares tersenyum semakin lebar, lalu beranjak dan melangkah menuju counter es krim tadi.

Rheya terus menatap punggung Ares dari kejauhan, teringat pertanyaan Zea kemarin siang di kantin kampus.

“Lo sayang sama Ares?”

Lamunan Rheya buyar ketika ponsel yang ditinggalkan Ares di atas meja berdering. Nama Hesti tampil di layarnya.

“Iya, Hes? Ares lagi ngantri es krim.” Rheya menjawab santai.

“Rhey?” Suara Hesti terisak-isak. “Bilangin Ares, ke RS Siloam sekarang. Zea masuk UGD!”

Rheya tak bisa menjawab, tubuhnya terasa kaku. Di seberang sana, ponsel dalam genggaman Hesti perlahan jatuh ke lantai. Gadis berambut ikal itu melepaskan tangisnya yang sudah tertahan sejak tadi, teringat ucapan Zea di ruangan prakteknya kemarin. Tentang persahabatan mereka berempat. Tentang Rheya.

Dan tentang Ares.

“Gue merasa berarti sejak mengenal dia lebih dekat. Hidup gue berawal dari sini, ketika gue tahu bahwa gue cinta dia, Hes. Tapi kayaknya, gue nggak bisa ngerusak kebahagiaan dia sekarang. Jangan bilang ke dia tentang ini, please. Gue divonis kanker. Mungkin tinggal dua atau tiga bulan lagi.”

*

…dari rasa cinta

Cerpen lama yang diposting ulang.

(Visited 28 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *