Pelanggan biasa memanggilnya Little Dona, selalu menatap nakal pada tubuhnya, membuatnya muak. Dona tumbuh diantara desahan dan asap rokok, diantara bau alkohol dan lembaran-lembaran rupiah. Sesekali ada beberapa jeritan didengarnya, namun tidak sebanyak desah yang berasal dari kiri-kanan kamar. Dona, ibunya, biasa dipanggil Mamih.

Teman-teman sekolahnya biasa meneriaki Dona sebagai ‘anaknya germo’. Itu juga yang membuat Dona muak lalu memilih berhenti. Ia kemudian menganggur di rumah bordil Mamih yang tidak terlalu luas, namun memiliki bar kecil di dalamnya. Dona tidak perlu bekerja, karena segalanya telah tercukupi.

Lamunan Dona buyar ketika tubuh di atasnya mendesah puas. Seketika ia merasakan sakit yang luar biasa. Gaek itu berdiri, mengenakan pakaiannya, lalu meninggalkan segepok Rupiah di atas ranjang. Setelah ia keluar, Mamih berdiri di pintu dengan puntung rokoknya.

Terisak.

“Kita butuh banyak uang, dan hanya ini satu-satunya cara yang aku tahu, Mih.”

Mamih diam.
Entah karena kalimat barusan, atau karena teringat bahwa tubuhnya tengah digerogoti kanker, atau barangkali karena melihat darah perawan yang membekas di seprai.


*ditulis untuk #CeritaKruBFG
#FF161Kata
Tema: Dona.
#AturanKruBFG: autotext wajib » ( ´o`)y━・~~

(Visited 21 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *