Cerita pendek

Death Vindicta

Dua orang pengendara motor menyalip dari sisi kanan jalan, sementara Honda CRV hitam itu tetap berada di tempatnya karena tidak bisa bergerak ke arah mana pun. Wanita separuh baya yang duduk di kursi belakang berdecak kesal, seolah tidak sabar untuk segera mengakhiri kemacetan sore ini. Hujan deras baru saja selesai melaksanakan tugasnya membasahi tanah Jakarta, membuat seisi kota berbondong-bondong pulang dari kantor seolah menghindari malam.

“Aduh, Pak, itu barusan kenapa nggak disalip balik aja?” Tanyanya tidak sabar, ketika lelaki tua yang sudah sepuluh tahun menjadi supir keluarga itu mengalah pada mobil lainnya.

“Maaf, Nya.  Mepet sekali sama mobil kita, takutnya malah tabrakan.”

Wanita itu meraih sebuah koran harian dari jok depan, matanya tampak resah ketika membaca headline, namun secepat mungkin ia menepis segala rasa cemasnya. Tangannya mengipas-ngipaskan koran, seolah merasa begitu kepanasan, padahal AC mobil menyala sempurna. Pak Kardiman merasa heran melihat kelakuan Nyonya majikannya, tapi enggan bertanya. Dari raut wajah saja ia bisa menebak bahwa sang nyonya sedang dilanda kegelisahan.

Tok.. tok..

            Sebuah tangan kasar mengetuk jendela mobil perlahan, Nyonya Mariana menoleh ke samping kanan dan mendapati seorang lelaki berbadan kekar dan berwajah sangar sudah berdiri di samping mobilnya. Tangan kiri lelaki itu terangkat, masih mengetuk-ngetuk jendela mobil seolah meminta izin masuk,  sementara tangan kanannya bersembunyi di dalam jaket kulit cokelat yang ia kenakan. Selintas Nyonya Mariana bisa menangkap apa yang tengah disembunyikan orang asing itu.

Sebuah pistol.

Firasatnya semakin tidak enak, buru-buru ia menoleh ke arah depan dan mendapati jalanan masih stuck di tempat yang sama, tidak ada celah sama sekali untuk menyalip.

“Pak, usahakan cepat!”

“Mau gimana, Nya. Macetnya parah sekali.”

“Pak, pastikan seluruh pintu terkun…”

“Selamat sore, Nyonya Mariana Raharja. Maaf menganggu Anda di tengah jalan begini.”

Perintah yang ternyata terlambat sepersekian detik, karena seorang perempuan muda berkacamata hitam sudah masuk dari sisi kiri dan langsung menutup pintu dengan lincah. Pandangan matanya terhalang oleh lensa kacamata, namun Nyonya Mariana bisa merasakan bahwa perempuan itu tengah menatapnya seperti serigala tengah menatap iba pada buruan.

“Si.. siapa kamu?!”

Tidak ada jawaban. Segalanya berakhir dalam gerakan cepat. Nyonya Mariana tidak ingat apapun lagi setelahnya. Koran bisnis yang tadi ada di genggamannya, terbuang begitu saja dari tangan, namun headlinenya tidak pernah berdusta –atau berganti rupa.

MISTERI KERJASAMA PROYEK RAHARJA GROUP DAN HADIROUTOMO GROUP

FAKTA ATAU ISU BELAKA?

*

Kediaman keluarga Raharja, saat yang sama..

            Asap panas mengepul dari pisang goreng dan teh manis yang terhidang di atas meja, di dalam ruang kerja Bambang Raharja. Si empunya rumah tampak risau, hingga tidak sempat lagi memikirkan teh hangat dan pisang goreng yang biasa menjadi camilan favoritnya. Sementara di hadapannya, seorang pria setengah baya yang rambutnya mulai memutih, menatap sahabatnya itu dengan pandangan khawatir.

“Kamu harus hati-hati sama mereka. Reputasi mereka, kan..”

“Mereka bukan orang yang gampang dijerat hukum begitu saja, Man. Walau semua orang juga tahu bahwa bisnis mereka kotor. Kamu sendiri tahu itu. Maksudku, seluruh pengacara di kota ini juga tahu!”

Herman mengangguk mengerti. “Mereka mengincarmu. Karena hanya kamu yang menolak kerjasama itu.”

“Kalau aku menerima proyek mereka, berarti aku menjebloskan perusahaanku sendiri! Bisnis kotor seperti itu tidak pernah ada dalam rencanaku.”

Tangan Herman terulur, meraih cangkir tehnya. Setelah meneguk minuman hangat itu sedikit, ia berdehem pelan –seolah tengah berpikir panjang. Ia tahu, Bambang Raharja –sahabatnya semenjak kuliah ini, adalah seorang yang sangat menjunjung tinggi kejujuran.  Mungkin hal itu pula yang membuat sang sahabat mampu merintis perusahaannya hingga menjadi besar seperti sekarang. Tapi sejatinya, jalan bagi seorang yang lurus tak akan pernah benar-benar lurus. Selalu ada pihak yang berusaha membelokkan keyakinan lurusnya.

“Iya, mereka berusaha menguasai banyak perusahaan dengan cara licik. Anehnya, banyak yang tunduk begitu saja.”

“Karena tidak mau ambil pusing mengurusi mereka. Hadiroutomo Group bukan perusahaan yang menyenangkan untuk diajak negosiasi.” Bambang tertawa getir. “Mereka punya banyak koneksi ke segala bidang, bisa menjerumuskan siapa pun sewaktu-waktu.”

“Ya, aku paham. Makanya aku menyuruhmu hati-hati.”

Bambang tidak menjawab, tehnya yang mulai mendingin dibiarkan menganggur begitu saja di atas meja. Herman mengetuk-ngetukkan jarinya, berusaha membunuh kebisuan di antara mereka. Beberapa detik kemudian ia kembali buka mulut, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan. “Gimana kabar Seruni dan Sekar?”

“Seruni baik. Hari ini aku menyuruhnya pulang ke rumah. Di kost-kostan tidak terlalu aman untuk situasi sekarang.” Bambang mengingat putri bungsunya yang jelita, kini tengah kuliah di universitas nomer satu negeri ini. “Kalau Sekar..” Ada kesedihan hinggap di raut wajah Bambang sebelum kalimat itu dilanjutkan, “belum terlalu stabil. Seharusnya dia ada di kamar sekarang. Kematian Gading membuatnya depresi.”

“Kehilangan memang tidak pernah mudah. Apalagi mereka sudah tunangan, kan?”

“Ini semakin berat saja.” Bambang memijit kepalanya yang mulai penat.

“Santailah, kawan. Akan kubantu sebisaku.”

Belum sempat Bambang berterima kasih atas perhatian itu, jeritan ponsel pintarnya sudah menyela.

“Halo?”

            “Bapak Bambang Raharja? Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa Nyonya Mariana..”

*

            Seorang gadis berambut sebahu duduk diam dan menatap tajam pada dinding kamar yang hari ini terasa lebih dingin. Ia memeluk lututnya erat-erat, seperti berusaha menghindarkan dirinya dari sesuatu yang akan menyerang. Di atas ranjang, tergeletak sebuah koran yang diam-diam dicurinya dari ruang kerja Ayah pagi tadi. Ayahnya melarang siapa pun menyalakan televisi di rumah selama beberapa hari, barangkali berusaha menjaga perasaan putrinya. Tapi Sekar tidak bodoh, ia tahu seluruh berita tidak hanya di televisi –ada koran yang menjadi media penyebar berita setiap pagi.

Maka headline itulah yang tertera di koran nasional edisi hari ini.

NYONYA MARIANA RAHARJA TUTUP USIA

            Jakarta (29/1) Nyonya Mariana Raharja, istri dari pemilik tunggal Raharja Group –Bambang Raharja, tutup usia Kamis sore (28/1) kemarin dalam usia 47 tahun. Menurut saksi yang ada di TKP, beberapa orang sempat menerobos masuk ke dalam mobil Almarhumah sesaat sebelum kejadian. Motif sementara diduga perampokan yang…

Sekar tidak melanjutkan kalimat yang dibacanya. Tanpa sadar sepasang tangan itu meremukkan koran tadi hingga berantakan. Bel dari arah depan lalu mengusik indera pendengarannya, berlanjut dengan suara langkah Bi Ijah yang tergopoh-gopoh membukakan pintu. Seharusnya semua biasa saja, mungkin itu tamu Ayah, atau mungkin tetangga sebelah, atau petugas ekspedisi yang mengantarkan paket, atau barangkali utusan ketua RT yang biasa menagih uang ronda setiap akhir bulan.

Ya, seharusnya segalanya berjalan biasa saja.

Namun teriakan Bi Ijah tengah malam itu membuat segalanya menjadi tak biasa.

“YA ALLAH, NENG SERUNI! Neng! Bangunnn…” Jeritan kaget itu melengking seketika saat jasad Seruni yang sudah tidak bernyawa ditinggalkan begitu saja di depan pintu rumah. Tubuh telanjang Seruni dibalut selimut putih yang setengahnya bahkan sudah memerah, sementara wajah cantiknya tampak pucat pasi.

Tanpa suara.

Tanpa napas.

Seharusnya segalanya berjalan biasa saja, jika Hadiroutomo Group tidak pernah mengincar perusahaan ayahnya.

Semenjak malam itu, segalanya tidak pernah sama lagi.

*

            Semenjak malam itu, segalanya tidak pernah sama lagi. Malam itu juga, Om Herman –sahabat Ayah, menjemput Sekar ke rumah. Seharusnya Sekar ikut terbunuh bersama Bi ijah sesaat setelah jasad Seruni diantarkan ke rumah. Karena selang beberapa menit kemudian beberapa pria berbadan tegap dan seorang wanita muda menerobos masuk dari pintu belakang, mengincar siapa saja yang tersisa. Ayah telah diserang di jalan sebelum mayat Seruni tiba, hingga mereka tinggal membereskan sisa anggota keluarga yang ada di rumah mewah berpilar enam itu.

Tapi Sekar lolos dari maut.

Om Herman berlari masuk ke dalam rumah bersama beberapa anggota polisi yang datang bersamanya. Setelah mendapati mayat Seruni dan Bi Ijah, kekhawatirannya semakin bertambah, berharap semoga masih ada yang tersisa dari keluarga Raharja. Sampai ketika bunyi pintu lemari itu mengusik mereka semua.

Sekar mendengar suara Om Herman dari arah luar, rasa-rasanya hanya pria tua itu yang kini bisa menyelamatkannya. Dengan gemetar, ia beringsut, berusaha keluar dari persembunyian. Seorang intel dari kepolisian yang pertama kali menyadari bunyi-bunyi aneh dari dalam lemari kamar Bambang Raharja. Ia mendekat, membuka lemari dan menyibakkan seluruh pakaian yang tergantung rapi.

Setelah seluruh pakaian disingkirkan, tampak sebuah pintu lain yang telah terbuka setengahnya, di dalam lemari kokoh itu. Ruang persembunyian yang hanya diketahui oleh Bambang beserta anak istrinya. Ruang yang tadinya hanya iseng diusulkan Sekar untuk dibuat di belakang lemari karena terkesan unik dan lucu, namun hari ini menyelamatkan nyawanya.

Sekar Raharja semakin gemetar ketakutan melihat wajah sang intel, ditepisnya kedua tangan yang terulur dengan gerakan cepat. Seketika itu juga, Om Herman maju dan menarik tubuhnya pelan. “Sekar! Sekar, ini Om Herman. Tenang.. Tenang!”

Isak tangis Sekar pecah seketika di pelukan Om Herman. Pria itu sudah dianggapnya seperti ayah sendiri, karena selama puluhan tahun menjadi sahabat baik Bambang Raharja. Pria yang paling tahu kisah jatuh bangun keluarganya. Pria yang kini menjadi harapan Sekar satu-satunya untuk menyelamatkan diri.

“Jangan sampai ada yang tahu bahwa dia masih hidup. Samarkan saja keberadaannya.” Om Herman berbisik pada seorang petinggi polisi, lalu membawa Sekar masuk ke dalam mobil.

Kehidupan baru saja dimulai, sesaat setelah seluruh pembunuhan berantai itu berakhir.

*

“BG alias Brewok menjadi tersangka terakhir yang tertangkap pasca pembunuhan terhadap keluarga Raharja. Motif diduga karena dendam. Tiga tersangka lainnya telah membenarkan, bahwa ada dendam pribadi terhadap pemilik tunggal Raharja Group tersebut, yang kemudian menjadikan mereka gelap mata. Sementara itu Herman Setiadi, S.H. –pengacara keluarga Raharja, mengatakan..”

“Duh, sayang, kamu nonton apa? Kita ganti film aja, ya?” Tante Suri –istri Om Herman buru-buru menyambar remote televisi dan mengganti channel, seolah menghindarkan Sekar dari berita yang tengah ditontonnya.

Sekar diam, menurut saja. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya pasca kejadian malam itu. Ia ditempatkan di salah satu villa Om Herman, di daerah puncak. Tante Suri rutin mengunjunginya, bahkan nyaris setiap hari. Sementara di depan villa, ada satpam yang berjaga dua puluh empat jam.

Melihat Sekar hanya diam, Tante Suri berusaha mengajak bicara lagi. “Atau kamu mau baca buku? Ada beberapa bukunya Om dan novel-novel Tante di perpustakaan, siapa tahu kamu tertarik.”

Sekar tidak punya pilihan selain mengangguk, lebih baik ia menyingkir daripada harus meladeni obrolan Tante Suri. Gadis itu sedang tidak berminat membicarakan apapun, selain pada kesepiannya sendiri. Jadi, ia melangkah tenang dan berbelok masuk ke dalam perpustakaan pribadi Om Herman. Tidak ada buku yang mampu menarik perhatian sekar pada awalnya, jemari lentiknya hanya berputar di antara beberapa buku; membaca judulnya sekilas, berpikir, lalu batal meraihnya.

Setelah bosan mencari, Sekar memutuskan meraih satu buku secara acak untuk dibaca. Jemarinya singgah di sebuah buku cover biru malam yang bergambar wajah seorang jenderal perang yang sekaligus dikenal sebagai Bapak Mongolia: Genghis Khan. Sekar tampak kurang tertarik pada buku yang baru saja ditariknya, tapi ia akhirnya membuka –lagi-lagi secara acak, sebuah halaman buku.

Mungkin tidak ada tokoh lainnya yang bisa menandingi Genghis Khan dalam hal kematian yang disebabkan langsung olehnya. Satu dari banyak daftar perbuatannya yang mencengangkan adalah Genghis Khan diceritakan telah membunuh 1.748.000 orang dalam 1 jam. 1.748.000 adalah populasi kota di Persia, yaitu Nishapur. Di sana menantu kesayangan Khan tewas oleh panah orang Nishapur. Mendengar hal itu, Putri Khan sangat terpukul dan memohon agar setiap orang yang ada di Nishapur dibunuh. Khawatir masih ada yang hidup, diduga Putri Khan meminta setiap tubuh orang Nishapur dipenggal kepalanya, lalu tengkoraknya dikumpulkan membentuk piramid.[1]

Setelah buku tersebut ditutup, Sekar akhirnya tahu ke mana ia akan menuju. Ternyata kehidupan memang baru saja dimulai. Terkadang dari cinta, terkadang dari dendam, atau barangkali dari sebuah kehilangan.

*

Tentang Brewok

Lelaki bertato naga itu masih ingat ketika malam sebelum polisi meringkusnya dari rumah kontrakan sempit yang berlokasi di Selatan Jakarta, majikan yang membayar mereka –biasa dipanggil Bos Besar, menelepon. Ia berjanji bahwa mereka berempat tidak akan lama di penjara, ini hanya masalah waktu sekaligus taktik untuk menipu media.

“Media itu cepat bosan. Nanti kalau ada kabar artis cerai, masalah kalian pasti dilupakan. Pegang janji saya, kalian semua akan keluar dari sana tidak lama lagi.” Suara berat Bos Besar terdengar dari seberang. Bahkan walah tanpa bertatap muka pun, Brewok tahu bosnya tidak berbohong. Setiap kata yang keluar dari mulut Bos Besar adalah janji yang wajib ditepati, karena itulah ia betah bekerja padanya walau hanya sebagai pembunuh bayaran.

Ketiga partnernya; Noni, Kriwil, dan Codet sudah meringkuk di penjara semenjak beberapa hari lalu karena diringkus dengan mudah oleh polisi. Awalnya mereka mengira tidak harus berususan dengan jeruji penjara dan bisa langsung menutup kasus pembunuhan itu secara misterius, namun kolega Herman Setiadi dari petinggi kepolisian terus didorong untuk mengusut kasus pembunuhan keluarga Raharja, sampai akhirnya nama mereka semua muncul sebagai tersangka. Bos Besar sendiri bersih, ia selalu bersih, karena tidak ada pihak yang mampu menyinggungnya. Kepolisian dan hukum negara sulit membuktikan bahwa ia adalah dalang dari banyak kasus hitam yang terjadi di ibukota, serta beberapa kota besar lain.

Bos Besar selalu bersih, karena ia memiliki banyak uang. Money can buy everything. Termasuk kenyamanan dan perlindungan terhadap hukum. Semua bukti yang mengarah padanya sudah dibersihkan oleh keempat pembunuh bayaran yang diutusnya untuk menghabisi keluarga Raharja.

Lamunan Brewok buyar ketika seorang sipir membukakan gembok selnya dan menatap napi lain yang tengah meringkuk di ujung ruangan. “Ada yang mau ketemu.” Katanya dingin.

Jam besuk. Tidak banyak orang yang datang membesuknya semenjak tiba di tempat muram ini, apalagi keluarga. Keluarga besarnya tidak pernah suka dengan pekerjaan yang ia pilih, sehingga lebih terkesan tidak peduli jika mengetahui Brewok tertangkap atau mendekam di bui. Seringnya, bawahan Bos Besar yang datang memberikan info-info terbaru mengenai dunia luar.

Dulu –sebelum disidang, Bos Besar memberi pesan khusus mengenai apa saja yang harus dijawabnya ketika ditanyai oleh jaksa penuntut umum. Brewok menjalankan segalanya dengan patuh, kemudian dijebloskan ke sebuah Lembaga Pemasyarakatan di daerah Jakarta Timur.

Codet dan Kriwil ada bersamanya, terkadang mereka bertemu ketika apel pagi. Ketiganya ditempatkan di kamar yang berbeda, namun tetap ada kesempatan untuk berkomunikasi diam-diam beberapa kali, karena setiap pagi pintu kamar akan di buka sementara blok tetap terkunci. Selain itu, ketika apel dan senam pagi, seluruh penghuni sel akan keluar menuju lapangan blok, membuat mereka lebih leluasa memantau satu sama lain.

Brewok sudah bekerja bersama Codet, Kriwil dan Noni selama bertahun-tahun, hingga tidak pernah ada kesulitan bagi mereka untuk berkomunikasi tanpa suara. Ada kode-kode yang hanya dimengerti oleh mereka berempat. Namun sulitnya, ketika di bui, Noni akan dipisahkan ke sel wanita. Ia sendirian dan ketiganya tidak bisa memantau sejauh itu. Maka, biasanya utusan Bos Besar  yang lainnya ditugaskan mengunjungi Noni di sana.

Sesaat setelah sipir itu keluar, sipir lainnya kembali membukakan sel, membuyarkan isi kepala Brewok untuk kedua kalinya. Dari tatapan datar lelaki muda itu, Brewok tahu, bahwa kali ini dialah yang akan dipanggil keluar.

Meja petak itu tidak terlalu besar, seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan bersetelan rapi menunggu Brewok sambil menghembuskan asap rokoknya dengan tenang. Brewok mengenal wajahnya yang familiar –salah satu kaki tangan Bos Besar. Mata mereka terpaut semenjak Brewok memasuki ruangan, disambung senyum aneh dari si lelaki yang membesuknya.

“Apa kabar lo?”

“Buruk. Gue mulai bosan dikurung di rumah boneka ini.” Brewok menjawab sinis.

Lelaki itu tertawa. “Santai man, sebentar lagi. Gue nggak bisa lama-lama, tapi ada info lain dari Bos. Nggak lama lagi kalian akan diberi tugas baru, jadi siap-siap aja. Salam buat Codet sama Kriwil, bilangin, nyelundupin cimeng ke sel itu susah, jadi jangan sering-sering sakau. Ngerepotin gue aja.”

“Noni gimana?”

“Kemarin Sita  udah besuk dia. Baik-baik aja. Malah kayaknya dia jadi majikan di sel cewek. Hahaha.”

Brewok tidak tertawa sama sekali. Sense of humornya sedang tumpul, terkubur oleh kebosanan akan dinginnya jeruji besi. Lelaki itu mematikan rokoknya yang masih ada setengah batang, lalu berdehem dan akhirnya berdiri. “Gue cabut sekarang. Ini terakhir kali gue besuk. Lima hari lagi, lo semua bebas.”

Lelaki berbadan kekar itu terpana, untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya, bagaimana caranya Bos Besar bisa membebaskan mereka dalam kurun waktu tidak terlalu lama. Ia tahu di beberapa kalangan, hukum bisa dibeli. Namun tidak menyangka prosesnya akan secepat itu. Instan.

Kaki tangan Bos Besar berlalu dari hadapannya, Brewok berbalik pergi dikawal seorang sipir yang sedari tadi sudah menunggu. Mereka melangkah keluar ruangan dan nyaris bertabrakan dengan seorang Reserse wanita berjaket kulit yang melintas di depan pintu. Pandangan mereka sempat beradu, tubuh wanita itu tampak tidak terlalu besar dan tegap, usianya pun tampak lebih muda dari yang lainnya. Brewok sempat menangkap kegugupan di matanya, namun sipir lain yang melintas bersamanya segera menyela.

“Ayo.”

Mereka melanjutkan langkah. Tatapan Brewok berhenti di sana, namun tatapan Serse yang ditabraknya tidak.

Sekar, yang kini berambut pendek cepak dan berlindung di jaket kulit hitamnya menatap Brewok penuh dendam.

Bayu, sipir senior yang mendampingi Sekar berbisik tidak tenang. “Caramu ini gila, Sekar. Tapi aku punya banyak hutang budi pada Tuan Raharja, jadi sekali ini saja. Apa Pak Herman tahu bahwa kamu…”

“Aku akan keluar secepatnya, Bay. Dan aku janji, kamu tidak akan ketahuan.”

“Aku tahu konsekuensinya. Tapi itu tidak sebanding dengan segala perbuatan Hadiroutomo. Juga tidak sebanding dengan segala kebaikan ayahmu pada keluargaku. Nah, ayo aku tunjukkan blok dan kamar-kamar mereka.”

*

            Malam itu beberapa petugas mengecek blok dan kamar-kamar, setelah memastikan semuanya terkunci rapat, dua orang pemuda itu berbalik pergi. Namun yang tidak mereka ketahui adalah seorang sipir lain melintas masuk ke dalam blok tempat Brewok dikurung. Ia menenteng kunci-kunci kamar, lalu membukakan sel tempat lelaki itu mendekam.

“Kamu! Keluar sekarang.” Bayu menggumam singkat. Brewok menatapnya aneh, ia menoleh pada kelima napi lain yang sudah tertidur pulas, tidak ada yang bereaksi. Hanya ia satu-satunya yang masih terjaga menjelang subuh begini. Bayu mengangguk pelan ketika Brewok menatapnya seolah memastikan kebenaran perintah barusan. “Ayo.”

Brewok menurut, karena sedang malas berurusan lebih panjang dengan petugas LAPAS. Paling tidak, lima hari lagi ia akan bebas dan menghirup udara segar. Jadi, tidak masalah jika kali ini mengikuti prosedur yang seharusnya. Mereka melangkah di sepanjang lorong, hingga tiba di belakang gedung. Tempat itu sepi dan mencekam, Bayu berhenti melangkah, lalu berbalik meninggalkan Brewok sendirian. Ketika lelaki itu berbalik bingung hendak menyusul Bayu, sebuah balok kayu menghantam kepalanya telak. Darah segar mengalir, meninggalkan penat yang teramat sangat.

Butuh sekitar beberapa menit sampai akhirnya Brewok sadar bahwa tubuhnya sudah terkapar tidak berdaya di tanah basah –bekas hujan tadi sore. Ada orang lain di sana, seseorang yang tadi memukulnya bertubi-tubi dengan balok kayu. Sementara Bayu tidak tampak lagi batang hidungnya. Firasat Brewok berubah buruk, tangannya yang bermandikan tato naga terulur untuk menyentuh darah yang masih tersisa di kepala.

“Anjing!” Ia mendengus kesal, lalu berusaha bangkit berdiri namun tubuhnya hilang keseimbangan dan kembali jatuh ke tanah, tidak mampu menopang berat sendiri.

“Woi! Keluar lo kalo berani!” Di sela napasnya yang tersengal-sengal, Brewok masih sempat mengumpat dan menantang penyerang misterius itu. Pandangan matanya agak buram karena darah terus mengucur dari kepala. Brewok memicingkan mata ketika sesosok tubuh mendekat dan berjongkok di sampingnya.

“Brewok alias Baron. Apa kabar di bui?” Suara itu menyapanya tenang.

Suara wanita!

“Lo.. si.. siapa?! Hah?!” Brewok berusaha menetralkan pandangannya, namun tidak berhasil.

“Masih ingat Nyonya Mariana Raharja? Meninggal dalam sebuah perampokan di dalam mobilnya sendiri?” Tangannya bergerak, menjambak kasar rambut gondrong milik Brewok. Walau pun tubuh mereka tidak imbang, namun wanita itu mampu memegang permainan, karena Brewok sudah semaput dan tidak mampu lagi berdiri –apalagi menyerang.

Mendengar nama Mariana Raharja disebut-sebut, firasat Brewok semakin tidak enak. Seharusnya kebebasan itu sudah di depan matanya! Lalu siapa wanita ini?!

Ia yakin seisi rumah Bambang Raharja sudah terbunuh.

Tanpa bekas.

“Siapa saya tidak penting. Siapa yang menyuruhmu membunuh seluruh keluarga Raharja, itu yang paling penting!”

Brewok tertawa, tawa yang penuh ejekan. “Memangnya kalo gue bilang, lo bisa apa? Hakim juga nggak bisa apa-apa kalau tahu siapa orangnya!”

Ucapan sombong Brewok membuat Sekar naik pitam. Ada kemarahan yang menggunuung di dalam dadanya, hanya sekedar menunggu waktu untuk meledak. “Saya bukan hakim, tapi saya bisa menghakimi kalian dengan cara yang lebih adil daripada mereka yang di pengadilan!”

Brewok tidak siaga, tanpa sempat menjawab lagi, tubuhnya diserang tanpa ampun. Hanya kilatan pisau yang tampak oleh sepasang bola mata buram itu sebelum terpejam untuk selamanya.

“Hukuman yang pantas untuk seorang perampok dan pembunuh.” Sekar menarik pisau tajam itu dari ulu hati Brewok, lalu mengarahkannya pada jari-jari tangan. Dalam gerakan cepat, satu per satu jari Brewok rontok dibuatnya. Jari-jari itu diangkatnya dengan pandangan puas, lalu ditebarkan begitu saja di atas tubuh Brewok yang kaku. Bau anyir dari darah segar yang membasahi Brewok terbang terbawa angin, menusuk hidung.

Ia membawa pisaunya menyingkir, setelah meninggalkan pesan yang ditulis dengan cat pilox di dinding gedung –tak jauh dari mayat Brewok.

NYAWA DIBAYAR NYAWA!

*

Tentang Codet dan Kriwil

            Subuh baru akan tiba sekitar dua jam lagi, masih ada waktu bagi Sekar untuk mengunjungi Kriwil dan Codet. Bayu mengatur segalanya dengan baik, hingga Sekar tidak perlu lagi bersusah payah memancing mereka keluar. Kriwil dan Codet tidak ada di sel masing-masing. Tadi, sebelum tidur malam, ruangan mereka telah dipindahkan ke tempat baru, jauh dari napi-napi lainnya. Ketika pintu ruangan terbuka, Sekar mendapati keduanya tengah mengerang kesakitan di lantai dengan mulut berbusa. Obat terlarang yang seharusnya diselundupkan kaki tangan Hadiroutomo hari ini telah dicampurnya dengan bubuk racun mematikan, dan baru saja melintas masuk ke dalam tubuh kedua penjahat tadi.

“Bagaimana rasanya, Chandra? Atau bisa saya panggil Codet saja, biar lebih akrab?” Sekar menyunggingkan senyum sinis sambil memainkan pisaunya di wajah Codet.

Di samping Codet, Kriwil sudah kehilangan napasnya terlebih dulu, karena tidak sanggup menahan kerasnya racun yang ia tenggak begitu saja.

“Aakkhh!” Codet berjuang sekeras tenaga, menahan rasa panas di tubuhnya. Racun itu bekerja cukup cepat, mematikan fungsi-fungsi organ tubuh.

Masih ada beberapa jejak darah Brewok di pisau itu, namun kini benda tersebut sudah berpindah dan mengiris-ngiris wajah Codet. Lelaki itu semakin mengerang kesakitan, namun tak ada yang mampu mendengar. Ruangan kedap suara.

Sekar menikmati siksaan demi siksaan yang dilancarkannya terhadap tubuh Codet, hingga akhirnya memutuskan bahwa pesta akan usai di sini.

Subuh akan segera turun.

Segalanya selesai dalam beberapa belas menit. Sekar melangkah pergi menerobos pintu belakang gedung dan menaiki mobil yang telah disiapkan Bayu, meninggalkan dua mayat baru yang terkapar telanjang bulat.

Separuh tubuh bagian bawah Kriwil sudah melepuh karena siraman air keras, sementara mayat Codet yang berwajah rusak terkapar tak jauh dari sana, menggenggam potongan lidahnya sendiri.

Pesan di dinding dituliskan Sekar dengan dendam yang menggebu, dendam untuk Seruni –adiknya yang manis. Amarah dalam dadanya yang menggunung itu kini telah tuntas. Sedangkan Noni hanya tinggal tunggu giliran.

Dinding muram itu menjadi saksi bisu kematian Codet dan Kriwil. Tulisan Sekar terpampang, masih dengan cat pilox.

KAMI PEMERKOSA,

DAN INI ADALAH KEMATIAN YANG PALING PANTAS UNTUK KAMI BERDUA!

*

Tentang Noni

            Waktu apel pagi belum lagi tiba, namun pintu sel Noni sudah terbuka dengan kasar. Seorang sipir membukakannya dengan terburu-buru, sementara di belakangnya Sita –asisten Erwin Hadiroutomo, sudah menunggu dengan wajah pucat.

“Kamu! Keluar sekarang.” Perintahnya pada Noni. Napi wanita lainnya tampak kecewa, mungkin ada yang berharap bahwa panggilan itu untuk mereka. Sel penjara yang sumpek dan bau sama sekali bukan tempat menyenangkan untuk menghabiskan hari.

Noni bergerak cepat, keluar dari sel, lalu mengikuti langkah Sita. “Kita pergi sekarang.” Sita memutuskan, bahkan sebelum Noni mengganti baju tahanannya dengan pakaian biasa.

“Ta, ada apa?” Napas Noni memburu, feelingnya mengatakan bahwa sesuatu yang tidak diharapkan telah terjadi. Tapi apa?

Sita berusaha mengatur air mukanya agar terlihat wajar, ia menyalami sipir yang tadi membebaskan Noni dari sel. “Terima kasih, pengacara kami akan mengurus berkas-berkasnya segera.”

“Sama-sama, Bu Sita.”

Setelah itu, Sita langsung berbalik pergi disusul Noni dan beberapa bodyguard Hadiroutomo yang telah menunggu di depan gedung LAPAS. Mobil mewah berkaca hitam itu melaju dalam kecepatan tinggi, membelah jalanan Jakarta.

“Sita! Lo belum jawab gue, ada apa? Bukannya masih empat hari lagi?” Noni sibuk mempertanyakan kebebasannya yang begitu tiba-tiba. Bukannya tidak senang menghirup udara segar, tapi jika ada sesuatu yang dikerjakan terburu-buru, pasti ada hal lain yang tidak beres melatarbelakanginya.

“Subuh tadi Brewok, Codet dan Kriwil dibunuh.” Sita menjawab datar, tanpa ekspresi berarti.

“Hah?! Siapa yang bunuh?”

“Mana gue tahu!” Sita menjawab kesal, semua hal yang terburu-buru tidak pernah menyenangkan baginya, “menurut informan kita, ada keluarga inti Raharja yang masih hidup.”

“Siapa? Sekar? Sekar dikabarkan sudah mati bunuh diri di hari yang sama dengan Mariana..”

“Jangan percaya apapun yang dilihat mata, Noni! Pake otak!” Sita menunjuk-nunjuk kepala Noni. “Kelamaan di bui kok lo jadi bego begitu?! Semua berita bisa direkayasa. Apalagi pengacara mereka bukan orang sembarangan, kan?”

“Tapi nggak ada siapa pun di rumah itu selain pembantunya.”

“Buang dulu kebodohan lo, baru ngomong lagi ke gue!” Sita berdecak kesal, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Bangsat!” Noni merasakan dadanya naik turun, susah payah ia menahan rasa khawatir dan napasnya yang masih memburu. Seharusnya ia tidak perlu takut, tapi siapa yang mampu membunuh tiga napi sekaligus di dalam tahanan?!

Mungkin tepatnya, siapa yang mampu membunuh tiga napi tersangka pembunuhan –sekaligus, di dalam tahanan yang notabene aman dan selalu di bawah pengawasan sipir?

“Gimana mayatnya? Parah?” Tanya Noni dengan pandangan nanar.

Sita mengangguk, “Mengenaskan.” Ada rasa gusar yang sempat singgah di nada suaranya, “ jari-jari tangan Brewok dipotong, kemaluan Kriwil melepuh karena disiram air keras, sedangkan Codet.. Ah, damn! Gue jijik kalo inget itu lagi!” jawabnya kesal. “Ada orang lain yang lagi ngincer kita. Dan cuma ada satu orang yang berpotensi untuk itu.”

“Sekar Raharja.”

Tatapan sinis dari mata Sita menyerang sepasang bola mata Noni. “Jangan percaya bahwa seseorang benar-benar sudah mati, sebelum kita membunuhnya dengan kedua tangan sendiri!”

*

(4.108 words)

Sedikit gambaran,

IMG-20140204-WA0008

IMG-20140204-WA0010

Catatan:

*dibuat atas rikues @ridoarbain

*ending sengaja digantung biar yang nyuruh yang meneruskan endingnya : ))

*Pictures by @ridoarbain

*Vindicta (Bahasa Latin), artinya dendam


(Visited 32 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Death Vindicta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *