Cerita pendek

Pada Jam Tiga Dini Hari

3/3/2003
03.00am

“Hhhh…” Perempuan itu menghirup oksigen sekeras yang ia bisa. Peluh bercucuran di tubuhnya yang kini tak lagi ramping, padahal dingin AC yang menyala cukup menusuk tulang. Ia masih berusaha mengatur napas yang tersengal, ketika tubuh di sampingnya terbangun.

“Ariana, kamu mimpi buruk, sayang?” Damar –suaminya, merangkul tubuh itu dari samping.

Ariana menggeleng, namun wajahnya tidak bisa berdusta. “Aku..”
“Minum dulu.” Tangan Damar segera meraih segelas air putih dari meja kecil di samping ranjang, usai menyalakan lampu tidur.

Ariana meneguk air hingga tandas setengah gelas. “Aku..”

Oeeee.. Oeee…
Suara lemahnya terhenti, terpotong oleh tangisan makhluk mungil yang menjerit dari dalam box bayi –tak jauh dari ranjang. Damar tersenyum tipis, lalu turun dan menghampiri putra kecil mereka. Setelah mengecek beberapa hal, ia mengangkatnya dan menyerahkan bayi itu ke tangan Ariana. “Sepertinya dia haus.”

Ariana menghela napas panjang, sebenarnya ia sedang tidak ingin menyentuh atau mengurus bayi dinihari begini. Beberapa hari belakangan, ia selalu gelisah dan tidak tenang setiap pukul tiga dini hari. Kepalanya akan terasa sakit seolah akan meledak, atau kali lain, ia merasa begitu sedih dan tertekan. Suara anak itu biasanya hanya akan menambah keresahannya.

“Sayang?” Damar menegur lagi, ketika mendapati tubuh Ariana menegang. Istrinya terbuyar dari lamunan pendek, lalu meraih tubuh Panji -anak pertama mereka.

Ariana menggendongnya setengah hati, sementara itu si bayi terus meneguk minuman malamnya hingga tertidur lelap beberapa belas menit kemudian.

“Dia sudah tidur.” Damar meraih tubuh kecil itu, lalu menempatkannya kembali ke dalam box. Setelah selesai, ia berbalik menghampiri tubuh istrinya yang masih mematung di ranjang. “Sayang, what’s going on?” Nada cemas terdengar dari suaranya, tangan Damar terulur ke pipi istrinya, mengusap-ngusap pelan.

Ariana menggeleng, menahan isak tangisnya. Hari ini, untuk kesekian kali, jam tiga dinihari menjadi saat-saat terburuk baginya. Jam yang sama dengan jam kelahiran Panji dua minggu lalu, namun masih menyisakan sakit dan trauma jauh di dalam hatinya.

Mereka menghabiskan waktu dalam diam, hingga Ariana tertidur pulas. Damar memeluk tubuh istrinya erat hingga pagi datang menjelang, walau akhirnya terbangun lebih dulu dan berangkat kerja pagi-pagi sekali setelah mengganti popok Panji. Sang istri bangun ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi, itu pun karena tangisan Panji lagi-lagi mengganggu tidur gelisahnya –tidur yang penuh mimpi buruk.

Oeee… Oeee…
Mendadak Ariana merasa ngeri pada suara tangis itu. Suara itu selalu mampu membuatnya sakit dan ketakutan. Seluruh flashback kejadian dua minggu lalu sering datang dan mengganggu pikirannya. Ia ingat bagaimana rasa ngilu yang menjalari setiap senti tubuhnya ketika melahirkan Panji, juga setelah bayi itu akhirnya lahir ke dunia.

Itu memang kelahiran pertama yang dialaminya, dan Ariana masih merasa takut. Terlebih, ketakutannya bertambah saat Daniel -bos perusahaan majalah tempatnya bernaung, menelepon berkali-kali, bertanya kapan ia akan ikut pemotretan lagi.

“Rianaaa, please deh, bok. You kapan mau dipotret lagi? Buruan deh itu body you yang udah kayak buntelan dikurusin dulu. You kan tahu, ada beberapa client yang cuma mau diiklanin sama muka you. Kalo bisa pake orang lain, sih, mending eyke pake orang yang lebih cucok body-nya!”

Atau ketika Rita, teman arisannya yang super bawel itu menelepon ke rumah dan menyerang tanpa basa-basi, “Jeng! Parcel yang saya kirim sudah sampai, kan? Wah, selamat lho ya, atas kelahiran anaknya. Pasti sekarang jadi lebar banget? Nanti deh saya rekomen tempat perawatan yang oke, biar body Jeng bagus lagi. Maklum, biasanya laki-laki suka selingkuh kalo istrinya mulai nggak cantik. Haha, becanda lho, Jeng.”


Pandangan mata Ariana yang terpaku ke dinding langsung tersadar ketika ponsel pintarnya menjerit. Nama Damar terpampang di layar. Makan siang yang tengah dimasak terpaksa ditinggalkannya. “Ya?”
“Honey, how are you doing?”
Fine. Aku lagi masak.”
“Jangan capek, ya, badannya. Kalau mau, pesan delivery aja. Atau mau aku bawain sesuatu? Aku siap-siap istirahat sekarang.”
“Jangan, kantormu kan lumayan jauh.”
“Everything for you, babe.”

Wajah pucat Ariana nyaris tersenyum, tapi tersentak oleh suara lain di belakang. “Mas Damar? Sedang sibuk?”

Suara wanita.

Wanita yang sepertinya cukup familiar di mata Ariana. Belum sempat Ariana bertanya, Damar memotong dengan nada tidak suka. “Kok kamu bisa masuk? Saya sedang tidak ada waktu.”

“Comeon, sudah berapa kali aku minta maaf atas kejadian yang dulu-dulu? Aku pengin kita bisa sama-sama lagi.”
“Please, hargai istri dan anakku. Aku punya tanggungjawab yang..”
“I don’t care ’bout her! Kamu kan..”
“Stop it!”
“Halo? Sayang, aku pulang sekarang, ya? Nanti kita makan sa… Halo? Ariana? Ariana?!”

Tut… Tut…
Oeeee.. Oeee…

Suara itu lagi.

Ariana mengerang marah, menutup telinganya rapat-rapat, dan melempar seluruh barang di atas meja makan hingga jatuh berkeping-keping. Tangisan itu terdengar semakin menyeramkan di daun telinga. Sebuah suara berbisik dari dalam dirinya, suara yang datang dari jauh. Napas Ariana tertahan saat ia meraih pisau yang tadi digunakannya untuk memotong wortel. Benda itu berkilat tajam, seolah menertawakan kegugupannya.

Oeee.. Oeee..
Jika suara itu tidak bisa diam, maka Ariana harus membuatnya tidak terdengar lagi!

Oeee… Oeeee…
Panji kecil yang malang, terus meraung kehausan tanpa seorang pun mendengarnya. Ariana menulikan telinga untuk selamanya; dari segala jerit tangis bayi, omelan Daniel, gosip Rita, maupun suara mantan kekasih Damar yang memuakkan.

Segalanya kini telah musnah.

Siang itu, Ariana menebus tidur-tidur malamnya yang tertunda karena tangisan Panji -dengan darah segar yang mengalir deras dari nadinya, membuat ubin putih itu dibanjiri warna merah yang paling sempurna.

Warna merah yang hidup


*864 words
*Judul sumbangan dari @danissyamra
*Trauma dan ketakutan pada ibu pasca melahirkan biasa dikenal dengan istilah Baby Blue.
*ide tentang baby blue dari @bellazoditama
*riset dari google, seperlunya

Posted from WordPress for Android

(Visited 31 times, 1 visits today)

6 thoughts on “Pada Jam Tiga Dini Hari

  1. hih serem. Tapi di beberapa tempat memang ada kejadian seperti ini.. *mesti kuat iman* . btw, katanya guru biologi, justru kalau tidur tanpa mimpi adalah kondisi tidur yang paling nyenyak :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *