Cerita pendek

Seharusnya Kamu Tetap Mati

Perempuan itu adalah makhluk yang paling sulit dilenyapkan. Seharusnya ia mati saja bersama ayahnya yang tak berguna itu, dalam kecelakaan mobil lima belas tahun lalu. Atau barangkali, mati tertelan arus Pantai Selatan, ketika ia tengah asik berenang.

Perempuan itu adalah makhluk yang paling sulit dilenyapkan. Namanya Gagarmayang, nama yang diberikan oleh ibu kandungnya –yang seorang putri keraton. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan, hingga ayahnya butuh pemuas nafsu yang baru, yang lebih cantik dan muda.

Perempuan itu adalah makhluk yang paling sulit dilenyapkan. Berulang kali aku menjebaknya, namun tidak pernah satu pun perangkap mampu mencabut nyawanya.

Aku meninggalkannya sejauh mungkin, lalu ia kembali diantar seorang tak dikenal.
Aku meracuni susu cokelatnya, namun susu itu tumpah sebelum ia sempat meneguk.
Aku bahkan membiarkan tubuh kecilnya tenggelam ketika berenang di Pantai Selatan, walau akhirnya seorang turis berhasil menyelamatkan nyawanya.

“Ada sesuatu yang melindungi anak itu. Tapi jika kau tetap ingin segalanya utuh, kau harus melenyapkannya segera.” Begitu Nyai Cakradewi –guruku, menasehati.

Aku meraba wajah yang sudah tidak bersahabat, seharusnya aku tidak bisa menua. Tidak bisa melemah. Namun anak itu masih hidup, bahkan menjelma menjadi seorang gadis ayu yang amat disanjung lelaki-lelaki muda –persis seperti diriku belasan tahun lalu. Dan aku tidak menyukainya!

Rumah mewah peninggalan Mas Bowo kami tempati bertiga, bersama Eyang Putrinya –seorang nenek tua bangka yang hidup namun tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Sehari-hari, Gagarmayang yang rajin mengurusi segala keperluannya.

Aku tidak pernah memusingkan tua bangka itu, karena kurasa ia akan mati jika waktunya sudah tiba. Namun, Gagarmayang masih menjadi perempuan yang paling sulit dilenyapkan hingga kini –hingga usianya menjelang dua puluh satu.

Aku tidak pernah memperlihatkan sikap bersahabat padanya, namun ia terus memanggilku Kanjeng Ibu dengan nada santun.
Aku tidak pernah mengurusnya, namun ia selalu patuh.
Aku bahkan berdoa ia langsung mati saja, ketika nyawanya berada di ujung tanduk di ruang ICU. Bahkan aku nyaris bersorak girang ketika dokter menggelengkan kepala dan mengucapkan kata maaf atas nyawanya.

Tapi sekali lagi aku kecewa, bahkan setelah matisuri selama beberapa menit, detak jantungnya kembali.

“Seharusnya kamu mati saja!” Sering kuucapkan itu padanya, bahkan di depan Eyang Putrinya sendiri.

Gagarmayang tidak pernah menjawab atau membantah, hanya menunduk dengan wajah kecewa. Eyang Putri juga tidak pernah melerai, bagaimana mungkin? Untuk berpikir saja, kepalanya sudah pikun!

Aku tidak pernah memperhitungkan tua bangka itu selama belasan tahun ini, dan ternyata sikap bodoh itulah yang akhirnya membunuhku.

“Seharusnya kamu tetap mati waktu itu! Seharusnya kamu tidak…” aku masih sempat mengumpatnya ketika napasku tersengal, ketika tubuhku tengah tergolek lemah di ranjang rumah sakit.

“Jika aku mati, siapa yang akan mengurus Eyang?” Gagarmayang menjawab santun. “Jika aku mati, siapa yang akan membalaskan dendam Ayah…”

Senyumnya berubah misterius, namun tampak sangat puas, “…pada Kanjeng Ibu?”

“A… apa… mak…sudmu?” Aku tercekat. Dadaku terasa nyeri, namun napasku selamat karena tabung oksigen yang membantu.

“Kecelakaan itu disengaja.” Gagarmayang tersenyum, kini melembut. “Jika aku mati, siapa yang membalaskan dendam Ayah..”

Ia menoleh ke belakang. Pintu kamarku terbuka, sesosok tubuh ringkih hadir. “Iya, kan, Eyang?”

Eyang Putri menyeringai tajam, baru kali ini kulihat wajahnya seseram itu. Aku langsung menyadari, kekuatan apa yang melindungi Gagarmayang selama ini!

Namun segalanya terlambat.

Seketika itu juga aku merasa dadaku semakin panas, bersamaan dengan mengalirnya cairan –yang entah apa, dari jarum yang disuntikkan Gagarmayang ke dalam infus.


*sumbangan judul dari Kak @adit_adit

Posted from WordPress for Android

(Visited 17 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *