Jadi ceritanya, kemarin itu pengin ke Kumpul Penulis sama sis @bellazoditama. Kita udah daftar dan sisbel udah bayar (berhubung anak Blogger Buku Indonesia ketiban freepas, gue bebas register fee, hahaha), tapi ketika kita sudah tiba di lokasi, ternyata acaranya nggak sesuai sama ekspektasi kita seminggu belakangan ini.

Berhubung kabarnya acara itu pake jasa EO dan berbayar pula (dengan tarif lumayan), kita ngebayangin sesuatu yang ‘wah banget’. Setidaknya, ramai. Tapi ternyata nggak ramai sama sekali, bahkan standnya sedikit dan hanya mendapat space kecil walau aulanya besar dan kelebihan tempat. Seinget gue (selain BBI) sih ada stand FLP Jakarta, GagasMedia, Mizan, Wardah, satu lagi lupa :p

Jadinya kita cuma bentar di sana, ngobrol-ngobrol sama anak BBI yang hadir, ngemil bentar, lalu capcus ke Kota Tua. Belakangan juga di twitter sempat ada info bahwa di kota tua lagi ada Fatahillah Food Fiesta. Saking penasarannya, kita bela-belain naik TransJakarta dari Blok M menuju Kota. Setelah kurang lebih setengah jam di perjalanan, tadaaa.. dua anak ilang tiba di Kotu 😛

mtf_YlqCF_134(view Museum Fatahillah di keramaian)

Setelah tiba di Kota Tua, gue sama Sis @bellazoditama teringat janji lama kami: meramal garis tangan.

Gue kurang yakin sebenernya, tapi akhirnya tergoda juga untuk ikutan. Kata peramalnya sih: bayaran seikhlasnya aja. Kalau ke peramal beneran kan bisa ratusan ribu, ke kita mah seikhlasnya aja, Neng.

Ya kita langsung happy dong, terus kita duduk deh kurang lebih setengah jam buat diramal. Gue dan sisbel ditangani dua orang berbeda. Yang ngeramal gue, udah tua. Dia menyebut dirinya Abah. Sedangkan yang meramal Sisbel, masih akang-akang muda gitu -konon dari Banten. Menurut pengakuan si Abah ini, mereka semua bukan saudara, tapi masih satu ilmu dan seperguruan, satu komunitaslah. Masih ada dua bapak-bapak yang umur nanggung. Mungkin 35-an, tapi gue nggak ngobrol. Abah sendiri mengaku berasal dari Cirebon dan dapat ilmu untuk menerawang orang karena turun temurun dari keluarganya.

Kami diramal garis tangan, juga berdasarkan tanggan/bulan/tahun lahir, terus Abah ngecek hari lahir gue dalam kalender Jawa gitu. Dia bilang, anak yang lahir di Selasa Pon wataknya keras dan lambangnya api. *panggil pemadam kebakaran* *untuk meredakan hati yang terbakar* #HALAH

Terus yang paling mengejutkan, entah kenapa, Abah ini bisa tahu banyak padahal gue tadinya sengaja diam dan senyum-senyum aja. Pengalaman gue, kalo kita ngobrol sama peramal, biarkan dia bicara. Sebab kalo kita terlalu banyak bicara, setelahnya dia hanya akan menyambung/menganalisis curhatan kita doang. Peramal abal-abal sih biasanya gitu.

Abah bilang, “Neng lagi kusut, ya? Apalagi masalah asmara. Mantan Neng itu egois, kalau Neng salah pasti diungkit terus, tapi kalau dia salah pasti nggak mau diungkit. Padahal, salah dia ke Neng lebih banyak daripada salah Neng ke dia. Dia banyak bohong sama Neng. Kadang Neng, nggak selalu kejujuran kita dibalas kejujuran juga sama orang lain -bahkan orang dekat sekalipun. Hati-hati, Neng. Jangan ceroboh. Neng kadang jujur ke orang dan nolong orang, tapi beberapa orang malah balas nusuk dari belakang.”

JLEB NGGAK?

HAH?

HAH?

Sebentar, gue pengin ketawa. Hahahaha : ))) FINALLY, SOMEBODY NOTICE. *you know what*

Lalu setelah itu gue disuruh milih lima (semacam kartu, tapi dilipet gitu, dan tertutup jadi gue nggak bisa lihat isinya) -entah apa namanya. Akhirnya gue pilih. Ada 5 gambar yang keluar. Intinya si Abah bilang gue orangnya boros, terus tahun-tahun belakangan ini adalah tahun penuh cobaan dalam hidup gue tapi jangan lupakan ibadah. Sempat keluar tulisan Arab yang artinya ‘Allah’ 😐 *cuci muka*

Terus katanya lagi gue cocoknya sama cowok Libra jadi bisa menyeimbangkan, oke gue nggak percaya banget bagian ini karena gue kurang percaya zodiak. Seorang teman yang kerja di majalah pernah cerita bagaimana artikel zodiak majalah dibuat. Najis bener kalo gue percaya, hahaha. *mendayung menjauh*

Terusnya lagi, tangan kanan gue diolesin minyak yang gue ndak tahu apa. Kata Abah itu minyak aura, tapi gue sangka minyak nyongnyong. Terus dia baca ayat-ayat yang gue nggak tahu, semacam bahasa arab gitu, katanya untuk membuka aura biar cerah dan banyak yang suka; karena kadang walau ada cewek cantik tapi auranya tertutup, tetep aja banyak yang kurang suka bahkan sirik atau benci. Katanya gitu. Duh, gue berasa dipasangin susuk *raba-raba badan*

Dan dengan polosnya sisbel bilang, “sis, abis diolesin minyak tadi kamu berasa panas nggak, sih?”

SEE?

SEE?

ITU MINYAK APA?

JANGAN-JANGAN MINYAK GORENG.

*diganyang*

Dan sialnya sampe pagi ini baunya masih berasa. 😐 Kurang suka baunya walau wangi, karena gue curiga sama itu minyak.

Pas udahan konsultasinya, si Abah basa-basi soal tarif yang konon kabarnya kan seikhlasnya. Ternyata definisi seikhlasnya beda. Dia tetap mematok tarif senilai 50rb, tapi gue yang kudu ikhlas ngasihnya. #HeningLama

Akhirnya kami masing-masing bayar 50rb, lalu cabut nyari tukang roti sambil sibuk nyium telapak tangan masing-masing yang abis diolesin minyak aura -_-“

Dan ketika akan beranjak, si Abah kasih kartu nama. Katanya kalau ada apa-apa dan mau cerita, silakan hubungi dia. Ternyata oh ternyata, namanya ada “Ki”-nya gitu. PARANORMAL dong? Gue jadi berasa, “eh, barusan gue konsultasi ke paranormal dong?” dengan muka bego bin lugu. (dan sialnya lupa foto si Abah beserta lapaknya, nggak inget sama sekali).

*gigit roti jadul*

IMG-20140316-WA0004(noh kartu namanya) paranormal, bos 🙁

Daann setelah berlalu dari sana, akhirnya gue sama sisbel liat-liat Fatahillah Food Fiesta. Tapi kami batal masuk karena jajanannya kurang menarik -_- Walau sempat bener foto-foto di depannya *ogah rugi*

mtf_YlqCF_136

Pas lagi asik jepret sana sini, eh kita liat ada dua cewek lagi jajan roti. Bukan sembarang roti, kata Sisbel itu roti jadul. Kurang tahu nama lengkapnya. Tapi begonya ketika beli, gue lupa foto rotinya. Adanya malah foto abang-abang tukang roti. JENG JEEENGG.

mtf_YlqCF_138

(si abang ini lucu hahaha, gue nanya ke dia “Bang, boleh difoto ya?” terus dia bilang, “boleh.” akhirnya gue jepret buat blog. Cewek sebelah gue juga foto, kayaknya mereka orang asing atau warga keturunan. Matanya sipit-sipit dan putih banget)

Setelah jajan roti  berakhir, di tengah lapangan Fatahillah ada debus. Biasa, tiap hari juga ada sampe bosen malah nontonnya. Tapi tetap aja rame. Gue liat dua turis Korea bengong-bengong berdua liatin anak kecil dicambuk. Hahaha.

mtf_YlqCF_132

(Tim debus yang biasa main di Kota Tua Jakarta)

Setelah kelar liat debus bentar, gue sama sisbel jadi laper. Akhirnya memutuskan beranjak. Sebenernya mau ke KFC aja, tapi akhirnya malah ngiler liat tukang pecel yang mangkal. Akhirnya makan pecel. Sisbel beli nasi pecel pake telor. Gue beli pecel pake gorengan. Akhirnya cita-cita jangka pendek gue tercapai: makan pecel di kota tua. Soalnya dulu pernah ngajak emak ke sana, tapi emak ogah makan pecel. Terjadilah percakapan singkat ini…

Emak: ih, banyak lalernya. Masa kamu mau makan ini?

Me: mentok-mentok nanti mules dikit, Ma. #KemudianDiseretPulang

Dan cuma sama sisbel doang sih gue bisa bebas makan apapun dan hangout segila apapun, hahaha. Kami berdua sepakat, makan tuh yang penting kenyangnya dulu, sakit perut dikit urusan belakangan #TimKotaTua :)))

Setelah dari sana, kita sempat ke Alfamidi Kota Tua untuk santai-santai selama kurang lebih satu jam. Waktu akan pulang menuju stasiun, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. EH TERNYATA, NONI BELANDA DAN TENTARA YANG BIASA MANGKAL DEPAN FATAHILLAH SUDAH BERGANTI SAMA TIM SETAN; KUNTILANAK, POCONG DAN SUSTER NGESOT.

Kuntilanaknya yang paling eksis. Dia berdiri di samping meriam sambil pura-pura melayang, rame banget yang fotoin dia. Ah manusia, giliran kuntilanak palsu aja dirubungin, giliran kunti beneran malah kabur :)))

mtf_YlqCF_145(si kunti makin difoto makin jadi, dia narsis berat. Liat sana liat sini, jepret! Liat sana lagi, jepret! *jorokin kuntinya*)

mtf_YlqCF_142(ini dia suster ngesot yang sesuatu banget itu. Gue lagi sibuk fotoin dia, di samping gue banyak orang foto-foto dia juga. Dia nyaut gini, “silakan.” tapi… tapi… SUARANYA COWOK! TERNYATA DOI COWOK. KAMPRET. #MelipirPergi)

Sebenernya ada satu lagi di sudut kanan Museum Fatahillah, semacam fairy princess di film despicable me 2. Gue rasanya pengin teriak, “LOOK! THAT’S A FAIRY PRINCESS!” sambil ngacak-ngacak pipi gembul, biar kayak Agnes, anaknya Mr. Gru. Tapi lalu Sisbel merusak imajinasi gue dengan bersabda…

“Kayaknya perinya juga cowok, deh, sis.”

#HancurBerkepingKeping

Akhirnya kita melipir ke stasiun kota dan sisbel pamit pulang lagi ke bekasi. Buat sis @bellazoditama, makasih banyak ya jalan-jalan dan traktiran pecelnya. Aku padamu! :))

Nanti kapan-kapan kita jalan-jalan lagi. Sampai jumpa di #KentjanJakarta berikutnya. Ayeeee!

*peperin minyak aura*

IMG-20140316-WA0009

(iya, ini foto paling jelek kemarin itu. Tapi nggak apa-apa. Sesekali pasang foto jelek berdua. Bosen pasang foto cantik berdua mulu, apalagi abis buka aura, nanti banyak yang daftar, repot kan) ~~~o/


EDITED:
Tulisan sis @bellazoditama bisa dibaca di sini

(Visited 225 times, 1 visits today)

7 Thoughts to “#KentjanJakarta 2 – Kota Tua Jakarta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *