Cerita pendek

Air Mata Nawangwulan


(Sumber gambar dari sini)

Pada penghujung usiaku, Kang, boleh kau menelanjangi kesetiaanmu sekali lagi.

Boleh kau ingkari janji sehidup sematimu ketika pertama kali ragaku tersesat jatuh di Mayapada, bahwasanya cinta akan selalu bersama kita –bahkan hingga nanti sangkakala dibunyikan sebelum segalanya dihancurkan.

Walau aku akan selalu ingat bagaimana hangat peluk yang kita bagi bersama, juga tatapanmu ketika kali pertama menawarkan pertolongan senja itu.

Sepasang manik mata menawan itu melirik dari balik kaca kedai kopi yang disinggahinya semenjak dua jam lalu. Seorang lelaki muda yang hari itu bertugas, tersenyum ramah dan menggant cangkir kosongnya dengan secangkir penuh kopi hitam pekat.

Secangkir lagi.

Pada cangkir yang kedua ini ia pasti akan tiba, gumamnya –menunggu seorang lelaki lain yang kerap dipanggilnya Kang.

“Nimas, kami tidak bisa berlama-lama menunggumu. Kami akan segera pulang ke khayangan,” titah kakangmbok –kakak tertuaku, yang hidup bersamaku sedari kecil, namun enggan setia menemani ketika aku harus mendekap di tempat asing ini.

Tahukah, Kang?

Tak ada gadis khayangan yang sudi menginjakkan kakinya berlama-lama di mayapada. Bagi kami, mayapada hanyalah tempat singgah dan bersenda gurau sesaat. Namun kala itu kau datang menawarkan kehidupan baru.

Secangkir lagi.

Disesapnya perlahan aroma kopi yang mengepul dari cangkir. Tak ada yang memerhatikan, semua makhluk fana kerap sibuk dengan dirinya sendiri, terlebih di kota besar dan zaman yang serba maju. Gadis itu memainkan sebuah gelang etnik yang melingkari pergelangan tangannya sembari menunggu. Ada sebuah keyakinan mencuat dari lubuk hatinya, bahwa si lelaki akan datang sebentar lagi.

Tetapi, semenjak senja itu tenggelam, aku sudah bisa menerima nasibku –bahwasanya, mungkin memang takdir yang mengharuskanku tinggal di sini.

Firasatnya benar.

Lelaki itu tiba. Melangkahkan kakinya memasuki kedai kopi, kemudian tersenyum dari kejauhan. Dengan langkah pasti, dihampirinya meja dekat jendela –tempat favorit mereka berdua, tanpa memesan kopi terlebih dahulu.

“Maaf, aku agak terlambat. Jalannya macet sekali.” Ucapnya dengan senyum mengembang.

Tak ada binar bahagia maupun senyum lain di wajah si gadis bergelang etnik. Bahkan sinar matanya meredup, seolah bingung harus berkata apa.

Tak pernah ada sedikit pun rasa benciku padamu, Kang, bahkan ketika kutemukan selendang merah jambu yang kau sembunyikan di dalam lumbung padi depan rumah kita.

Tak pernah ada sedikit pun rasa benciku padamu, Kang, walau aku terpaksa kembali ke khayangan dan meninggalkan Nawangsih –putri kecil kita, bersamamu.

Tak pernah ada sedikit pun keinginanku membencimu, Kang, walau baru saja aku mendapatimu tengah bersama kembang desa lainnya.

“Kenapa? Kamu sakit, Lan?”

Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap si lelaki sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan.

“Terus? Kok diem aja? Kamu marah aku datangnya telat?”

Kembali sebuah gelengan menyapa. Si lelaki urung mengungkapkan kejengkelannya, kini hanya kebingungan yang melanda seisi dadanya. Bergemuruh.

Entah kembang desa –atau kembang kota, kini aku tak paham lagi dengan segala misteri kehidupanku sendiri. Bukankah, memang banyak gadis yang ingin sekali meraih hatimu?

“Aku tahu siapa perempuan yang baru saja kamu turunkan di ujung jalan tadi.” Gadis itu bersuara, membuat gemuruh dalam dada si lelaki memucat dan menjelma badai.

“Lan? Kamu jangan becanda, dong, sayang. Aku barusan dari kantor, baru selesai meeting.” Jawabnya cepat –berusaha setenang biasanya.

Aku bahkan tak pernah bisa paham, Kang..

Mengapa tubuhku masih saja berada di tempat ini.

Mayapada, tempat yang dulunya kuanggap sebagai kutukan.

“Lan?” lelaki itu meminta kepastian, bahwa gadis jantung hatinya tidak mencurigai sesuatu. Walau kini jantung hati dan segala cinta yang ia janjikan dulu harus dibaginya dengan gadis lain.

“Aku akan mencarinya lagi.” Gumam gadis itu lagi –masih dengan tatapan redup, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Ia berdiri, untuk kemudian berbalik pergi. Tak lagi menghiraukan panggilan lelaki yang dulu pernah menjadi tempatnya menjatuhkan segenap rasa.

Suara berat itu tenggelam seketika, tepat ketika sepasang kakinya melangkah keluar dan menutup pintu kaca. Langit yang menaungi bumi tampak berubah gelap, disusul gerimis halus yang menghujam.

Nyanyian gadis-gadis khayangan nan memesona lalu menahan jatuhnya air mataku, Kang…

Menyadarkan, mungkin saja itu bukan dirimu.

Ki Ageng Tarub tak pernah mengingkari janjinya.

Barangkali, memang tak pernah ada jiwa Kakang di dalam raganya.

“Aku sudah memperingatkanmu, Nimas. Sudahlah. Ke mana lagi kamu akan mencari?” Suara seorang perempuan memotong lamunannya di tengah gerimis. Perempuan manis yang tampak lebih tua beberapa tahun dari umurnya sendiri, tengah menyender di depan kedai kopi.

“Apa yang kamu rasakan ketika pertama kali menyadari bahwa dirimu adalah titisan?”

“Merelakan masa laluku dan mencoba menjalani hidup yang sekarang.” Jawabnya santai, memandangi Nawangwulan dengan pandangan tidak mengerti.

“Aku tidak bisa merelakan masa laluku begitu saja. Ada Kakang di dalamnya, dan aku akan terus mencari.”

Barangkali, memang aku terpaksa mencari lagi.

“Sampai kapan, Nimas? Sampai kapan kau bertahan dengan cinta bodohmu itu?”

Kang, senja yang keseribu semenjak perpisahan kita sudah beranjak turun..

            “Sampai sangkakala dibunyikan dan bumi akan dihancurkan. Sebab ia telah berjanji, untuk terus mencintaiku selama itu. Bahkan jika lelaki-lelaki itu tidak setia, berarti tidak ada jiwa Kakang Jaka Tarub di dalam raga mereka.”

…kau di mana?

            Guntur bergemuruh di atas langit kelam Jakarta. Perempuan itu terpana, membiarkan rintik hujan yang semakin deras membasahi wajah sendunya. Tiba-tiba saja hatinya rindu pada Desa Tarub dan hangat pelukan Kakang.

*

Semacam prosa dibalut flashfiction, terinspirasi dari dongeng Jaka Tarub dan 7 bidadari. Ditulis dalam rangka bosan, jenuh, dan iseng (-_-)

Catatan:

mayapada = bumi

(Visited 23 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Air Mata Nawangwulan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *