Sisa puntung rokok berserakan di atas asbak, namun lamunan lelaki muda itu tak jua berhenti. Ingatannya terbang pada kejadian tempo hari. Rumah sakit, tengah malam, dan hujan yang membawa kilatan guntur menakutkan di langit Jakarta. Mereka semua ada di sana, mendampingi sesosok tubuh yang terbaring lemah dan langsung dilarikan ke UGD. Mama menangis ketakutan, rasa sedih yang menumpuk membuatnya takut. Takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi tak lama lagi, takut bahwa putra bungsunya akan pergi begitu saja tanpa sempat menghadiri pernikahan sendiri.

Sedangkan di samping Mama, seorang perempuan juga terisak, namun berusaha menguasai dirinya. Ia memeluk Mama, lalu menenggelamkan wajahnya dalam dekapan. Mama mengangguk –seolah itu sebuah penghiburan, lalu menepuk-nepuk punggungnya lembut. Perempuan itu tidak pintar bersandiwara, ia tidak ingin terlihat lemah padahal dirinyalah yang lebih rapuh daripada Mama.

“Bel, minum dulu.” Lelaki itu teringat kata-kata pertamanya malam kemarin, kata-kata yang diucapkannya sambil menyodorkan sebuah minuman botol pada Bella.

“Minum, Nak. Ayo, minum dulu..” Mama sendiri menguatkan hati, menyadari bahwa tunangan putranya ini jauh lebih sedih ketimbang dirinya.

Bella hanya meneguk air mineral itu sedikit, kemudian menggeleng dan mengembalikannya ke tangan Yudis –kakak kandung Jody.

“Jody akan baik-baik aja, Bel.” Mata Mama yang berkaca-kaca menatap Bella.

Bella mengangguk paham, kemudian menggenggam tangan Mama erat-erat. Yudis merasa pilu setiap kali menatap wajah Bella yang sembab usai menangis. Mereka bertiga bersahabat semenjak kecil, dan Bella selalu menjadi penengah diantara keduanya. Bella dengan senyum manisnya, Bella dengan gelak tawanya, Bella yang apa adanya, Bella yang ceria, Bella… Bella… Bella adalah nyawa bagi mereka!

Yudis mengira semuanya akan tetap begitu untuk seterusnya. Barangkali jika mereka tak pernah beranjak dewasa, semuanya masih akan sama seperti dulu. Bella akan tetap menjadi sahabat bagi mereka dan selalu ada untuk keduanya. Namun hidup punya sebuah fase yang tak dapat dihindari; beranjak dewasa lalu jatuh cinta. Ketika mereka beranjak remaja hingga kini, ternyata Jody-lah yang beruntung mendapatkan hati Bella sepenuhnya. Sangat tidak adil bagi Yudis yang juga menyukai Bella sejak lama. Namun, ia akhirnya memilih memerhatikan Bella dari belakang, bahkan tanpa sepengetahuan Jody. Berkali-kali ia berangan dalam imaji, bahwa suatu hari Bella akan tertawa dalam pelukannya, bukan dalam pelukan Jody seperti yang selama ini ia saksikan.

Namun, sepertinya harapan Yudis terlalu muluk. Bahkan ketika tubuh Jody yang mengidap kelainan jantung itu semakin lemah dan terus-menerus terkapar di rumah sakit, Bella tetap tidak menyerah untuk mendampingi –malahan perempuan itu jadi semakin setia. Yudis masih ingat bagaimana cara Bella menggenggam tangan Jody ketika adiknya itu terbangun dari tidur panjang usai pingsan mendadak di rumah. Wajah pucat Jody tersenyum, Bella membalasnya hangat sekali, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Jody.

“Kamu udah bangun..”

“Aku tidurnya lama, ya?” ada nada sedih dalam suara lelaki itu.

“Pengaruh obat tidurnya, tapi kata dokter kamu bakal cepat sembuh.”

Jody tahu Bella berbohong demi menyemangatinya. Bibirnya mengulum senyum tipis. “Bel.. Kalau nanti aku pergi..”

“Kamu nggak akan ke mana-mana, Jo!” Bella memotong, ia tidak suka Jody mengucapkan kalimat-kalimat pesimis seperti itu. Baginya, keajaiban tetap ada. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi pada diri sang tunangan.

“..kamu masih percaya, kan, sama dongeng kita?”

Bella terdiam sesaat. Ia ingat dongeng itu. Dongeng kita, begitu mereka menyebutnya. Di usianya yang mulai dewasa, Bella masih menyukai hal-hal berbau fairytale dan Jody selalu membelikannya buku-buku dongeng atau searching cerita di internet untuk kemudian didongengkan pada Bella.

Dongeng kita..

            ..bahwa ketika jiwa seseorang pergi dari raganya, maka yang mati hanyalah raga. Namun cinta tak akan pernah sirna. Pangeran yang ‘pergi’ itu berpesan pada sang putri, bahwa ia akan tetap ada di sana –di samping kekasih hatinya. Ia akan datang menjelang malam, menjelma menjadi kunang-kunang gemerlapan dan mengitari wajah sang putri yang dirundung duka lara.

            Konon katanya, kunang-kunang berasal dari kuku orang yang sudah meninggal.

Air mata Bella menetes, susah payah ia mengangguk, hingga tangan Jody yang masih lemah terulur untuk membelai pipinya. “Jangan.. na..ngis, Bel.”

“Aku sayang kamu, Jo. Selalu sayang kamu.” Bella memeluk tubuh ringkih itu kedua kalinya.

Tidak ada yang bisa mendengar obrolan mereka, karena Mama dan Yudis sedang berjaga di luar kamar. Namun gerak-gerik keduanya masih bisa terpantau dari kaca kecil di pintu kamar. Rahang Yudis mengeras ketika mendapati telapak tangan Jody membelai wajah Bella dan bagaimana hangatnya tatapan Bella untuk Jody. Seharusnya, tangannya sendiri juga boleh membelai Bella seperti itu! Seharusnya Bella milik mereka berdua!

Seharusnya Jody tidak memonopoli Bella untuk dirinya sendiri!

Seharusnya..

Seharusnya mereka tidak pernah beranjak dewasa!

*

            Bella menatap kosong pada jalanan di depannya, sementara di kursi kemudi, Yudis memegang setir mobil dengan tenang. Beberapa kali lelaki itu mencuri pandang pada perempuan di sampingnya, namun Bella tampak tidak menyadari –atau mungkin memang tidak peduli.

“Bel? Are you okay?” Ia mencoba buka suara.

Bella menggeleng pelan. “Jody akan baik-baik aja, kan, Yud?”

Yudis mengambil jeda, ingin sekali ia berteriak, tidak! Tidak! Biar anak itu mati saja! Toh memang kelamaan ia akan tetap mati! Hidupnya sudah tidak lama lagi, kan?! Namun sejenak diurungkannya niat itu. Bella menunggu jawaban Yudis dengan tidak sabar, kemudian menyambung. “Kita mau ke mana, sih, emangnya? Aku janji ke rumah sakit sore ini. Harus mampir ke bakery beli roti kesukaan Jody dulu.”

Bella mengulurkan tangannya untuk menyalakan CD player, memainkan lagu-lagu dari kaset yang ada di dalamnya.

Tak terasa gelap pun jatuh

Di ujung malam, menuju pagi yang dingin

Hanya ada sedikit bintang malam ini

Mungkin karena kau..

..sedang cantik-cantiknya[1]

“Payung Teduh..” Senyum Bella mengembang.

Jangan menangis terus, nanti air matamu habis dan kau tak akan bisa melihat kunang-kunang lagi. Kau lihat? Di bawah lampu penerangan itu…” Ingatannya melayang pada kata-kata Jody waktu itu, ketika tangisannya pecah seusai Jody membacakan dongeng itu kesekian kalinya.

Dongeng mereka..

Ada kelegaan di dinding hati Yudis ketika menatap senyum itu, nyaris saja telapak tangannya mendarat di punggung tangan Bella, namun segalanya mendadak sirna ketika gadisnya menyambung, “..lagu favorit Jody.”

Jody..

            Kenapa harus selalu Jody?

            Kenapa Jody selalu istimewa karena penyakitnya?!

Mama selalu memanjakan Jody, Papa sendiri tidak pernah memaksa Jody sekolah atau kuliah yang rajin, sedangkan Yudis sendiri akan dihukum jika ketahuan bolos, walaupun kadang ia terpaksa bolos untuk sebuah alasan. Semua yang dilakukannya selalu salah di mata mereka, sedangkan Jody seolah tak bercela hanya karena kelainan pada jantungnya.

Dan kini anak itu menguasai hati Bella sendirian.

Ia memiliki segala yang diinginkan Yudis dalam hidup; perhatian, kasih sayang, kenyamanan, dan cinta Bella!

Bella Gagarmayang..

Yudis tidak perlu bersusah payah menaklukkan banyak perempuan di luar sana, namun mengapa hanya perempuan ini yang tak pernah bisa ia rengkuh ke dalam pelukan?!

Kadang juga ia takut..

Tatkala harus berpapasan di tengah pelariannya

di malam hari

menuju pagi..

Sedikit cemas.. banyak rindunya~

*

            Perempuan itu memijit kepalanya yang berdenyut akibat tertidur semenjak beberapa jam lalu. Jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul tiga sore. Hidungnya meraup oksigen dengan rakus, seolah berusaha melegakan seluruh sendi-sendi pernapasan yang terasa kaku. Perlahan, tangannya menggapai pinggir meja di samping ranjang, lalu berusaha menegakkan tubuh.

“Bik! Bibik!” Ia berteriak tidak sabar, masih setengah linglung dengan keadaan kamar sendiri. Tak lama setelah suara itu menggema di rumah sepinya, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh masuk sambil menenteng kemoceng.

“Iya.. Iya, Nya? Ada apa? Maaf, Bibik lagi bersih-bersih.” Jawabnya, berusaha sesopan mungkin, padahal dalam hati bingung sendiri dengan kelakuan sang nyonya rumah –mendadak bangun dan berteriak merajuk seperti anak kecil yang terjaga dari tidur siang.

“Aduh, Bik. Ini udah jam berapa? Kan tadi saya bilang, bangunkan saya jam sepuluh. Saya mau ke rumah sakit.”

“Lah, tadi Nyonya sudah bangun sendiri.” Bibik semakin tidak mengerti. “Bahkan Nyonya sempat ngobrol sebentar sama Den Yudis. Lalu setelah Den Yudis keluar kamar, dia pesan sama Bibik, kalau Nyonya teh kelelahan, jadi nggak boleh diganggu. Begitu, Nya.”

“Yudis? Memangnya tadi dia mampir? Bukannya langsung ke rumah sakit? Jody, kan..” Mama Jody berusaha memutar reka ulang kejadian demi kejadian hari ini dalam kepalanya. Semenjak tadi malam Yudis yang kebagian giliran menjaga Jody di rumah sakit, sedangkan ia dan Bella pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat. Namun, seharusnya tadi pagi ia kembali lagi dan Bella akan datang sore-sore sesuai janji.

Tapi, bagaimana mungkin…

“Bibik kurang tahu, Nya. Den Yudis nggak bilang apa-apa. Tapi kayaknya buru-buru, Non Bella juga sempat telepon ke rumah, nanyain Den Yudis jadi jemput apa nggak.”

“Bella? Dijemput?” Keningnya berkerut, tampak berpikir keras. Ada banyak sekali rencana yang kacau balau dan berubah total semenjak tadi malam.

“Iya, Nya. Sesudah Bibik jawab telepon itu, baru ketemu Den Yudis yang keluar dari kamar Nyonya. Terus dia langsung pergi.”

Mama Jody semakin gelisah dengan pikirannya sendiri, reka ulang yang tadinya hanya seputaran kejadian kemarin malam hingga hari ini, berputar semakin jauh dan jauh ke belakang. Percakapan dengan almarhum suaminya beberapa bulan lalu kembali terngiang-ngiang, seolah menghantui.

“Pa, Mama beneran takut. Menurut Papa, apa kita harus menanyakannya pada Yudis?”

            “Sudah, Ma. Sudah.. Yudis kan sudah dipanggil jadi saksi di kantor polisi dan tidak ada bukti bahwa dia tersangka.”

            “Tapi menurut adik Mona..”

            “Dia hanya panik, Ma. Anak itu kalut. Jangan terlalu dipikirkan.”

            Ingatan tentang sang suami mengabur sedikit, sebuah rekaan lain berkelabat datang, memburu pikirannya sambil menciptakan kegelisahan-kegelisahan baru.

“Tante, malam itu Kak Mona pergi dijemput Kak Yudis. Tante jangan bilang-bilang dia, tapi.. Tapi saya lihat Kak Mona ketakutan sekali. Saya nggak pernah lihat kakak saya sepucat itu.”

            “Maya.. tenang.. ada apa sebenarnya malam itu?”

            “Kata kakak, kalau terjadi sesuatu… saya nggak boleh menemui Kak Yudis –apapun alasannya. Katanya, Kak Yudis itu mengerikan.” Gadis belia itu terisak-isak di pangkuan Mama Jody, butuh waktu cukup lama untuk menenangkannya. Tangisannya baru reda ketika mendengar suara mobil Yudis menderu dari halaman depan rumah. Sebelum Yudis turun, ia buru-buru meraih tas selempangnya dengan pandangan cemas, “ma.. maaf, Tante. Saya.. Saya permisi. Tante janji kan nggak akan cerita masalah itu?”

            “Maya..”

            “Saya masih merasa kematian Kak Mona ada hubungannya dengan anak Tante. Maaf.. Saya harus pergi.”

            …

            “Bella itu cantik, ya, Ma? Seandainya aku yang beruntung mendapatkan dia lebih dulu daripada Jody..”

            …

            “Nya?” Telapak tangan yang keriput itu dikibaskan di depan wajah sang nyonya, berusaha mengembalikan ingatannya ke alam nyata. “Nyonya?”

“Eh? Iya, Bik. Kamu boleh keluar sekarang.”

Bik Inah yang masih tidak paham dengan wajah bingung nyonya majikannya memilih diam dan keluar sesuai perintah. Sedangkan Mama Jody langsung menyambar gagang telepon yang ada di meja, mendial nomor yang belakangan dihapalnya dengan baik.

“Halo?”

“Dokter, saya mamanya Jody.”

“Oh, iya. Selamat sore, Bu. Saya sedari tadi mencoba menghubungi, tapi handphone Ibu sepertinya mati.”

“Saya ingin bertanya tentang Jody, Dok.”

“Bukannya seharusnya saya yang bertanya, Bu? Membawa Jody pulang tanpa izin saya dan pihak rumah sakit, sama sekali bukan tindakan yang menyenangkan.” Suara Dokter Ferdi terdengar heran.

“Jody pulang? Tapi saya nggak merasa membawa dia pulang..”

“Jody menghilang tadi malam dari kamarnya, perawat terakhir melihat abangnya yang menemani. Jadi saya yakin nggak mungkin ada penculik yang iseng melarikan pasien kami, Bu.”

“Yudis?” Mama Jody menutup mulutnya dengan telapak tangan, seolah sadar akan sesuatu.

“Ya, saya mencoba menelepon…”

“Terima kasih, Dok. Saya harus pergi sekarang!” Gagang telepon dibanting dengan kasar, lalu secepat kilat perempuan setengah baya itu berdiri dan membuka pintu lemarinya. Seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru usai menelpon Dokter Ferdi, kini tubuhnya menjadi lebih bugar daripada beberapa menit lalu. Tak butuh waktu lama untuk membongkar laci lemari hingga ia menemukan benda yang dicari. Ketika ia sudah bersiap dan akan meraih kunci mobil, manik matanya menangkap benda mungil yang telah hancur di dalam tong sampah kamar.

Sebuah ponsel.

Hembusan napasnya semakin memburu, ia yakin kali ini dugaannya tidak akan salah. Ia harus segera menyusul mereka.

*

            “Yud? Kita mau ke mana, sih?” Bella semakin tidak sabar ketika mobil Yudis mulai melaju meninggalkan lampu merah di belakang mereka. Gadis itu mengedarkan pandangan, mencoba mencari tahu di mana mereka berada sekarang. Satu-satunya yang berhasil ditangkapnya adalah, mereka baru saja keluar dari kawasan kota Jakarta. Ini arah yang sangat berlawanan arah dengan rumah sakit tempat Jody dirawat.

“Ada kejutan untukmu.” Ia menjawab tenang, kilatan tajam di matanya tak tertangkap oleh pandangan Bella, namun tidak ada sedikit pun curiga yang terbersit di benak Bella. Ditatapnya calon kakak iparnya itu dengan pandangan datar.

“Yud, serius. Aku harus ke bakery beli roti buat Jody. Sebentar lagi jam…”

“Jody juga sudah menunggu di sana.” Yudis melemparkan sebuah senyum penuh arti. Senyum yang bahkan tidak diketahui maknanya secara gamblang.

Bella berpikir sejenak. Bagaimana mungkin Jody keluar dari rumah sakit tanpa ada yang memberitahunya? Bahkan mama Jody juga tidak terdengar kabarnya dari pagi.

“Kamu akan menyukai kejutannya, sayang.” Yudis menggumam pelan, nyaris seperti berbisik.

Bella menoleh, menatap lelaki itu lekat-lekat.

Sayang?

Apa barusan ia tidak salah dengar?

*

Mobil Yudis berbelok memasuki gerbang sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari kota mereka. Perbatasan Jakarta dengan Bandung. Ada beberapa rumah milik keluarganya yang dibiarkan kosong, karena almarhum Papa membelinya hanya semata-mata demi investasi. Cuma ada seorang tukang kebun dan pembantu yang sehari-hari ditugaskan merawat rumah, namun hari ini keduanya diliburkan. Yudis sudah mengatur segala hal dalam kepalanya –jauh-jauh hari.

“Jody dan Mama di dalam?” Bella turun ketika tangan Yudis membukakan pintu bagian penumpang.

“Jody ada di dalam, tapi Mama sedang ada urusan lain. Nanti menyusul.”

“Mama nggak bilang kalo hari ini Jody pulang,” Bella tampak bingung, “lagian, kata Dokter Ferdi…”

“Rencana mendadak.” Yudis memotong. Wajah tampannya tampak misterius ketika meraih tangan Bella dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Bella masuk dengan tidak sabar, mencari-cari di mana Jody berada. Namun Yudis menolak memberitahunya langsung. Lelaki itu malah mempersilahkannya duduk di ruang tamu. “Mau minum apa?”

“Apa aja, deh. Nggak begitu haus.”

Yudis menghilang, berbelok menuju dapur. Sedang Bella, masih duduk tenang di ruang tamu sambil memerhatikan beberapa lukisan koleksi almarhum Papa Jody yang tergantung di dinding. Matanya membulat ketika meneliti sebuah lukisan abstrak yang tidak diketahui maknanya. Ada begitu banyak arti yang bisa terkandung dalam sebuah karya seni, dan ada banyak pendapat berbeda untuk menafsirkannya.

Bella tersentak dari lamunan ketika ia mendengar suara aneh dari dalam kamar. Suara parau dan letih, juga kalimat-kalimat yang tidak selesai diucapkan.

“Yud?” Perempuan itu berdiri dari sofa cokelat yang sejak tadi didudukinya, lalu melangkah menuju pintu kamar yang tidak jauh dari ruang tamu. Ia merasa bodoh memanggil nama Yudis, bukankah jelas bahwa tadi lelaki itu berbelok ke dapur belakang? Tidak mungkin suara itu..

“Aakkkhh..” Rintihan pelan itu terdengar lagi, rintihan kesakitan. Suara lelaki..

“Jo.. Jody?” Bella berbisik pada dirinya sendiri, seolah takut bahwa suaranya akan didengar Yudis.

Sepasang matanya melirik ke arah dapur, masih belum ada tanda-tanda Yudis akan kembali. Seketika tangannya terulur membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Perempuan berambut ikal itu tidak siaga, hingga nyaris berteriak keras ketika mendapati tubuh Jody yang berdarah terikat di sebuah kursi. Di pojok lain ruangan, ada beberapa mayat wanita yang terkapar mengenaskan. Wajah cantik mereka bahkan kini memerah bermandikan darah masing-masing. Bella tercekat, namun kemudian mempercepat langkahnya ke arah Jody.

“Jo? Sayang, kamu dengar aku, kan?” Bella menepuk pelan pipi Jody karena lelaki itu dalam keadaan setengah sadar. Hanya rasa sakit yang membuatnya mampu mengerang lemah.

Bella terisak-isak, dengan gemetar tangannya terulur untuk membebaskan ikatan tali yang meringkus sepasang pergelangan tangan Jody. “Tahan, ya, sebentar lagi. Kita keluar dari sini.” ucapnya sambil terus berusaha melepaskan ikatan.

“Nggak akan ada yang keluar dari sini, sayang!” Suara itu menyapa dari arah pintu.

Tegas.

“Yud! Kamu udah gila?!” Bella berteriak, menatap Yudis lekat-lekat. “Jody lagi sakit! Kamu menyekap adikmu sendiri?!”

“Sepertinya memang aku sudah gila!” Yudis tertawa. Ada setitik nyeri dalam hatinya ketika melihat kemarahan Bella. Semua orang selalu memikirkan kepentingan Jody, tanpa memedulikan dirinya.

Dan sekarang Bella pun melakukan hal yang sama.

Bella agak takut melihat perubahan sikap lelaki itu. Wajah Yudis berubah sinis, menatap marah ke arahnya. Lalu mulai maju perlahan dengan sebuah pisau di tangan kanan. “Semua orang..” sahutnya, “semua orang selalu menomorsatukan anak manja itu! Mama, Papa, guru-guru di sekolah, dan bahkan kamu, Bel! KAMU!”

“Yud.. aku.. aku nggak ngerti..”

“Kamu nggak ngerti? Apa yang kamu nggak ngerti, sayang? Biar aku jelaskan!” Desis Yudis tajam. “Aku cinta sama kamu dari dulu! Tapi kamu bahkan memilih anak penyakitan itu untuk..”

“Aku nggak pernah memilih dia karena dia sakit, Yud! Bukan karena kondisinya!” Bella balas berteriak. “Aku.. cinta sama Jody.”

Di samping Bella, Jody masih mampu mendengar pertengkaran itu samar-samar. Ia berusaha mengangkat wajahnya yang terasa berat, “per…gi… Bel. Per…gi!”

Hanya itu yang mampu ia ucapkan, berharap kekasihnya berhasil lolos dari maut yang sebentar lagi akan diciptakan abangnya sendiri. Tadi malam Jody tidak mengerti mengapa Yudis mengajaknya pulang dari rumah sakit –bahkan tanpa sepengetahuan dokter dan Mama. Namun kini ia tahu, rasa sedih karena merasa terabaikan membuat abangnya berubah menjadi pribadi yang begitu mengerikan.

Yudis telah berubah menjadi abang yang tidak lagi dikenalnya..

“Wah, wah.. Pangeran dan Tuan Putri berusaha saling menyelamatkan. Manis sekali.” Yudis berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh ketika mengucapkan kalimat itu. Air mata kepedihan, air mata penolakan.

“Si.. siapa mereka, Yud?” Bella bergidik ngeri menatap mayat-mayat perempuan tadi.

“Aku nggak tahu.” Yudis mengangkat bahu. “Aku nggak tahu mereka siapa. Yang aku tahu, mereka mirip sekali dengan kamu, Bel.” Ia tertawa miris. “Tapi sayangnya, wajah yang mirip pun tidak cukup untuk melampiaskan cinta tak kesampaian. Jadi lebih baik mereka mati.”

“Pembunuh! Kamu pembunuh!” Spontan Bella meneriakkan kata-kata itu, kata paling menyakitkan yang didengar Yudis –dari mulut perempuan yang amat dicintainya.

“Jo, gue kira lo memang pemenang dalam segala hal.” Yudis berkata meremehkan. “Tapi ternyata gue salah. Lo kalah masalah maut. Nyawa lo ternyata nggak akan sepanjang itu.”

“Sayang..” Bella membelai pelan wajah Jody, namun tangannya langsung direnggut kasar oleh Yudis.

“Lepas, Yud! Lepas!” Bella berontak ketika Yudis menyudutkan dirinya ke pojok dekat dinding, semakin dekat ke arah mayat-mayat perempuan yang berserakan bagai seonggok sampah busuk.

Bau bangkai mulai menerpa indera penciuman, Bella menangis terisak, tangannya kosong –tidak ada senjata untuk melawan, pikirannya pun bingung. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis pilu.

Jangan menangis terus, nanti air matamu habis dan kau tak akan bisa melihat kunang-kunang lagi. Kau lihat? Di bawah lampu penerangan itu..” Yudis menunjuk ke arah meja kecil tak jauh dari mereka, ada botol kaca berisi kunang-kunang dan potongan-potongan kuku.

“Kunang-kunang akan menyimpan kenangan dari seseorang yang sudah meninggal, kan, Bella?” Senyum Yudis mengembang. “Atau setidaknya, kenangan dari orang yang akan meninggal.”

Bella menggeleng cepat. Tidak! Bagaimana mungkin Yudis tahu kalimat itu. Dongeng itu.. dongeng itu hanya miliknya dan Jody!

            “Kamu..”

            “Seluruh potongan kuku Jody sudah rapi di dalam sana. Anggap aja kenang-kenangan. Aku juga nggak mau membiarkan kamu ditinggal tanpa sepotong kenangan pun.”

“Memangnya menurutmu aku akan menerima kamu kalau Jody nggak ada? Iya?! Kamu mimpi!” Bella menggertak, namun kalimat itu malah membuat Yudis kesenangan. Ia tertawa semakin lebar, terdengar menakutkan.

“Kamu tahu, sayang? Lelaki punya banyak cara untuk mendapatkan seorang perempuan. Cara pertama bernama cinta, cara kedua bernama rekayasa. Aku bisa melakukan apapun..” Yudis menatap tubuh Bella dengan pandangan nakal, lalu tertawa semakin keras ketika mendapati wajah perempuan itu bersemu merah.

“Aku nggak sudi nikah sama pembunuh..”

            Ekspresi wajah Yudis berubah seketika, saat kalimat itu terlontar dari bibir mungil Bella. “Bilang sekali lagi! BILANG SEKALI LAGI!” Tangannya langsung bergerak dan mendarat di pipi Bella. Sebuah tamparan keras dan kasar, membuat Bella tersungkur jatuh.

“Yud.. Ja.. Jangan!” Jody menahan perih di hatinya ketika melihat Bella diperlakukan begitu jahat.

“Kita sudahi permainan memuakkan ini.” Yudis berbalik meninggalkan tubuh Bella yang tersungkur, menggenggam erat pisaunya dan menghampiri Jody.

Bella yang masih kaget dengan tamparan keras Yudis berusaha mencari cara agar bisa mencegah lelaki itu melukai adiknya sendiri. Secepat kilat tangannya meraih botol-botol bir kosong yang tersusun tak beraturan di atas meja.

“Jauhi dia!” Bella berteriak kalap lalu menghantamkan botol itu tepat di kepala Yudis, membuat langkahnya oleng, lalu dengan sisa-sisa tenaga, didorongnya tubuh Yudis yang jauh lebih besar hingga terpojok di dinding.

“Hhh..” Yudis meraba pelipisnya yang berdarah, kilatan matanya bertabrakan dengan bola mata Bella yang panik.

“Ja.. jangan mendekat.” Ancaman itu terdengar lucu di daun telinganya, perempuan ini seperti putri salju tak berdaya yang mengancam ratu jahat berkekuatan sihir, jelas tidak akan berpengaruh apa-apa.

“Sebaiknya kamu minggir, sayang. Aku nggak mau kamu mati duluan. Kamu kan belum jadi pengantin..”

“Aku bilang ja…”

“Aaarrgghh!” Yudis bergerak maju, lalu mengunci kedua tangan Bella hingga sisa botol yang digenggamnya terjatuh. “Jangan paksa aku menyerang kamu di sini.”

“Lo liat ini, Jo? Hah? Hahaha!” Dikecupnya pipi Bella dengan perasaan yang meluap-luap, seakan memanas-manasi perasaan Jody.

Bella merasa jijik dengan perlakuan Yudis, namun tidak mampu melepaskan diri.

“Minta maaf dulu, baru aku lepasin.” ujarnya di daun telinga calon adik iparnya, lelaki itu menikmati permainan yang sudah lama dirancangnya. Dan hari ini akan benar-benar menjadi hari yang berbeda.

Bella bergeming, hingga tangannya dipelintir lebih keras. “Aku bilang minta maaf! Aku nggak senang sama serangan kamu barusan, sayang. Kayaknya selama ini kamu bukan tipe cewek yang suka main kasar.”

Bella tersedu menahan isak tangisnya, dilihatnya samar-samar Jody mengangguk, memohon agar ia mengikuti perintah Yudis.

“Ma.. af..” diucapkannya kata itu dengan setengah hati.

“Sekarang minggir!” Yudis mendorong tubuh sintal itu sekali lagi, tapi kali ini Bella langsung berteriak ketakutan karena tersungkur tepat di samping sebuah mayat yang wajahnya tidak utuh. Bau anyir dari bulatan bola matanya yang keluar dari sarang membuat siapa pun nyaris muntah.

“Selamat tinggal, adik kecil. Abadi di neraka.” Yudis mengucapkan kalimat barusan untuk Jody, tepat ketika pisau terayun.

            DAR!!

Jody sudah menutup matanya, bersiap menunggu jemputan malaikat maut, namun suara ledakan itu membuyarkan segala. Ia membuka mata, lalu mendapati tubuh Yudis bersimbah darah di pangkuannya. Pandangannya seketika menatap Bella, namun gadis itu sendiri masih tampak lemah dengan sudut bibir yang berdarah.

“Ma.. Mama..” Bella dan Jody berseru berbarengan, ketika menyadari wanita setengah baya itu sudah ada di depan pintu.

“Seharusnya aku tahu sejak lama, bahwa anak ini jauh lebih sakit daripada adiknya.” Gumamnya sedih, sebelum hening kembali menyapu ruangan.

Tangis Bella menggema di ruangan, bersamaan dengan jerit kesakitan Yudis. Ada sebuah lubang tertancap timah panas tepat di jantungnya, membuat napasnya tersengal. Sepasang kaki melangkah dan semakin dekat, hingga ia mengenali siapa penembak misterius tadi.

“Ma…ma..”

“Maaf, Yud.. Mama nggak pernah mengajari kamu menjadi pembunuh..” Bisiknya pilu.

“Sayang!” teriakan Bella adalah hal terakhir yang didengarnya sebelum benar-benar hilang kesadaran, tapi kali ini ia memang benar-benar kalah.

Dugaan Yudis meleset, panggilan sayang itu masih tertuju untuk Jody, dan adik kecil yang dianggapnya malang itu ternyata bahkan lebih beruntung perkara ancaman maut.

*

[1] Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan

(Visited 45 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *