Cerita pendek

Penyesalan Nur

Ingatkah kau, Sam, pada rasa panas yang menaungi kita..

Kala kau dan aku berdiri di bawah rindang pohon ketapang di muka Sekolah Belanda Pasar Ambacang.

Perempuan itu melangkah turun dari ranjang king size dengan bibir mengembang bahagia. Hari ini, sesuai dengan segala yang telah direncanakannya jauh-jauh hari, lelaki itu akan di eksekusi. Tangan keriput itu membelai setiap senti tubuhnya yang terbungkus lingerie hitam transparan, kala ia tengah menyiapkan segelas vodka di meja panjang yang ada dekat meja rias.

Malam ini adalah malam pengantin, di luar sana hujan turun diiringi petir bersahut-sahutan menggelarkan langit Jakarta. Sedangkan di rumah berpilar enam bak istana ini, mereka –sepasang pengantin, tinggal berdua saja usai para tamu dan keluarga berpamitan pulang.

Gerutuanmu yang kala itu membuka ceritera ini,

Sepasang remaja –agaknya serupa bagai anak seibu sebapa, karib yang tiada pernah menghabiskan hari jika tak berdua.

Ingatkah, kau, Sam?

Kala kita bermain-main di Gunung Padang bersama Arifin dan Bakhtiar. Mencari jambu keling sembari berburu. Menikmati masa-masa remaja yang ternyata sungguh membahagiakan tiada tara.

Sekelabat, terasa nanar di sepasang manik mata si perempuan muda. Teringat akan Ayah yang biasa menceritakan dongeng sebelum tidur untuknya. Cerita yang sama setiap malamnya. Ia lebih suka menyebut cerita itu sebagai dongeng saja, walau Ayah berkali-kali meralat bahwa kisah Siti Nurbaya dan Samsulbahri yang tampan itu adalah legenda.

Sekelabat, tatapan nanarnya menjadi buas, bagai induk serigala yang tengah mencari mangsa. Dengan telaten, jemari lentiknya menurunkan tangan keriput sang suami yang telah bergentayangan di puncak dadanya.

Ingatkah, kau, Sam?

Kala kau akhirnya harus menempuh pendidikanmu di Batavia dan meninggalkan seluruh kenangan remaja kita di Padang?

Sam, tiada sedikit pun niatku mengkhianatimu dengan pasrah pada takdirku yang buntung –diharuskan menikahi Datuk tua bangka yang tak secuil pun kucintai itu.

“Sebentar lagi, setelah minum.” Ujarnya, manis.

“Cepatlah sedikit, jangan berlama-lama dengan botol-botol vodka itu.” Bisik si suami, sebelum berbalik dan naik ke ranjang.

Tangannya mengaduk sesuatu di dalam gelas, sebelum akhirnya berbalik dan memamerkan senyum sekali lagi. Diantarkannya segelas vodka pada bibir si suami yang telah renta. Dengan lelah, si suami menurut dan menyesap vodka dari istrinya hingga tandas.

Duh, Sam, jika ini kau ada di hadapan, ingin sekali kekasihmu ini memeluk tubuh tegapmu hingga tersedu-sedu tak keruan.

Duh, Sam, kekasihku, masih pantaskah kupanggil engkau demikian?

Dua..

Samsulbahri,

Ingatkah kau perihal surat yang kutuliskan untukmu pada suatu masa?

“Barangkali, jika aku tiada boleh lagi memanggil engkau kekasih, tetapi abang. Barangkali, masih suka engkau menyambut peluk cium daripada adikmu yang sengsara ini.”

Tiga…

“Akkhhh!” Suara kesakitan yang amat menyayat hati, tepat ketika hawa panas bagai api menyala-nyala mulai membakar tenggorokan dan seisi kepala si tua bangka.

“Ka.. Kau!” Hanya itu yang mampu ia teriakkan pada istri keempatnya, si cantik muda belia yang ini tersenyum penuh arti.

Sungguh, Sam, tiada sedikit pun niat Ayahanda Baginda Sulaiman menjualku pada saudagar ringkih nan licik itu.

Sungguh, Sam, aku tak tega melihat Ayah sengsara oleh hutang menggunung yang dibebankan Maringgih padanya.

“Bagaimana rasanya, tua bangka? Bagaimana rasanya ketika sakit itu menjalar dalam tubuhmu?” perempuan itu tertawa, bukan tawa bahagia, bukan tawa membahana. Hanya sebuah tawa sinis yang lebih terdengar seperti sindiran. “Tapi tenang saja,” dibelainya perlahan kepala suaminya yang bermandikan uban. “Racun itu tidak akan membunuhmu, sesi setelah inilah yang akan mencabut nyawamu.”

Sungguh, Samsulbahri,

Tiada cintaku berlabuh, selain pada dirimu.

Perempuan itu beranjak, meninggalkan tubuh si tua bangka yang terduduk kaku di atas ranjang, kemudian membukakan pintu kamar bagi seorang lelaki muda berkaos biru malam –yang sedari tadi sudah siaga menunggunya.

“Selamat datang, sayang.” Dikecupnya bibir si lelaki dengan hati berbunga.

“Sekarang giliranku.” Lelaki itu menikmati bibir merah merekah di hadapannya, selama beberapa detik, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah tenang menuju tempat si tua duduk kaku dengan wajah merah padam menahan marah.

Hingga akhirnya seluruh jasad kita terbaring berdamping-dampingan di Gunung Padang selama berabad-abad..

..tak akan pudar cintaku untukmu.

Raga menjelma debu.

Jiwa menjelma duka.

Takdir menjelma pilu.

“Akhirnya hari ini tiba.” Ucap si lelaki dengan lengkungan senyum yang sama –sinis.

Si perempuan melangkah tenang, lalu memeluk tubuh lelakinya dari belakang. “Jangan terlalu buru-buru, Sam. Kematian yang terlalu cepat itu tidak menarik.”

“Aku ingin dia segera melayang ke akhirat. Lelaki bau tanah ini tidak pantas bernapas terlalu lama.” Rahang lelaki muda tadi mengeras, mengobarkan segala amarah yang selama ini dipendamnya. Amarah ketika menyaksikan kekasihnya harus berdampingan dengan si tua bangka di pelaminan. Amarah ketika menyaksikan tubuh kekasihnya yang cantik jelita disentuh seenaknya oleh si ringkih. Amarah yang kini menjelma dendam membara.

Duh, Sam..

…peluklah Nurbaya-mu ini untuk terakhir kali.

Sudikah engkau?

Lelaki itu meraih pistol yang sudah disiapkannya dari jauh-jauh hari. Tangan si perempuan terulur sekali lagi, memaksa si ringkih membuka mulutnya lebar-lebar. Keringat dingin membasahi wajah tuanya yang dibalut kulit-kulit keriput, namun tak ada yang mau peduli. Dalam hitungan tiga, peluru melesat ke dalam mulutnya, menghancurkan wajah buruk rupanya seketika, sekaligus mencabut nyawa dalam raga.

“Kamu menyesal?” Lelaki muda itu menarik kembali pistolnya dengan tenang. Perempuan tadi –kekasih hatinya, bergelayut manja memeluk lengannya.

“Tidak.” Jawabnya cepat. Tegas. “Nurbaya di masa lalu boleh saja menyesal dengan nasib buruknya, tapi aku tidak boleh mengalami penyesalan yang sama. Bahka, Baginda Sulaiman dalam dongeng itu lebih mulia ketimbang ayahku yang terang-terangan menjualku pada tua bangka busuk ini.”

Adikmu, Nurbaya,

Dengan segenap rindu.

Si lelaki meraih wajah perempuannya. Wajah manis yang dirindukannya siang dan malam. “Apa kamu bahagia?”

Perempuan itu tidak menjawab lagi, sepasang bibir mereka menyatu, bersamaan dengan tangan si lelaki yang kini berkelana di sekujur tubuhnya.

“Samsulbahriku..”

“Nurbayaku..”

Barangkali, cukup Sitti Nurbaya saja yang merasakan segala pilu sepanjang hidupnya. Perempuan-perempuan lain tak boleh lagi merasakan jajahan seperti Nurbaya. Barangkali, dengan cara ini, ia telah berhasil membalaskan dendam atas seluruh kesengsaraan Nurbaya di masa lalu.

Ya.

Barangkali memang begitu.

*

Gambar dari sini

Semacam gabungan prosa dengan flash fiction, terinspirasi dari kisah Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli yang pertama kali diterbitkan tahun 1922. Isi surat Nurbaya kepada Samsulbahri dikutip dari novel cetakan ke-37 terbitan Balai Pustaka, Jakarta tahun 2002, halaman 122-123.

(Visited 44 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *