Cerita pendek

(Obat) Penawar Jatuh Cinta

Sore itu, gerimis turun membasahi jendela coffeeshop –muram serupa air mata yang kerap mengalir dari sepasang matamu. Aku duduk terpaku di meja paling sudut, tempat favorit kita, memandangi manik mata yang sama sekali tak menatap padaku. Sepasang indera penglihatan itu dulunya penuh binar-binar bercahaya, namun kini hanya mampu memberikan pandangan kosong pada secangkir kopi hitam pesananmu, yang bahkan nyaris mendingin di cangkirnya.

“Aku ingin berhenti jatuh cinta,” ucapmu suatu hari, dan kini kamu ulangi untuk kesekian kalinya.

Aku tak punya jawaban bagus untuk menentang kalimatmu, walau pun aku ingin. Sangat ingin. Bagaimana mungkin perempuan secantik kamu ingin berhenti menjatuhkan hati? Bagaimana mungkin, perempuan penuh cinta sepertimu malah ingin berhenti jatuh cinta?

“Aku ingin berhenti jatuh cinta,” ucapmu, ketika air mata itu jatuh lagi, bersamaan dengan nyanyian Adera yang menggema dari speaker sialan itu. Aku tahu kamu benci sekali lagu ini. Setidaknya, semenjak…

“Aku benci lagu ini,” kamu memotong kata-kata yang sedari tadi hanya mampu kuucapkan dalam hati, lalu menyeka butir air mata dengan punggung tangan.

Lagu ini, yang dulu sempat menjadi lagu favoritmu, namun ironisnya kini mampu membuatmu benci setengah mati, hanya karena seorang yang pernah teramat sangat kamu cintai, telah berhasil membuatnya berubah jadi lagu penuh mimpi buruk.

“Aku benci lagu ini.” Kamu mengucapkannya sekali lagi, berbarengan dengan isakan menyakitkan.

Rahangku mengeras, menahan kesal. Seketika aku berdiri dan hendak menghampiri Jo –seorang teman yang bekerja di sini. Ia bisa saja mengganti lagu sial ini menjadi seribu lagu lain yang menjadi favoritmu –atau mungkin lagu-lagu favorit kita. Tubuhku baru saja berdiri dan hendak melangkah, namun genggaman tanganmu menghentikannya.

“Liv…”
“Biarkan, Ben.” Genggaman tanganmu terasa begitu hangat di punggung tanganku, hangat yang mencerminkan getir hatimu kini. “Aku harus berusaha melawannya, kan?”

Namun kepalaku menggeleng pelan, aku tahu kamu belum mampu. Aku tahu kamu tidak bisa melawannya hari ini. “Olivia…”

“Duduklah, temani aku dulu.” Kamu masih berusaha membujukku, seperti seorang ibu kala membujuk anak lelakinya yang tengah merajuk.

Kalau ada hal-hal yang tidak mampu kutolak di dunia ini, salah satunya adalah kemauanmu, Olivia. Maka aku menyerah dan menjatuhkan kembali tubuhku di sofa merah tadi, menunggu kamu bercerita lagi. Entah kenangan buruk, entah pengalaman patah hati, entah tangismu tadi malam. Entah.

“Menurutmu, Ben, apa di dunia ini ada obat penawar jatuh cinta? Aku ingin berhenti jatuh cinta.”

Aku menggeleng pelan. “Mustahil, Liv.”

“Ah, aku lupa. Kamu terlalu rasional, ya.” Bibirmu mengembang, lalu memberikan tawa palsu padaku. Tawa yang menyedihkan.

Lagu Adera yang penuh cinta itu akhirnya selesai, berganti dengan senandung lagu lain, yang sialnya mungkin cocok dengan suasana hatimu dan mendung langit kota kembang senja ini.

When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste

“Liv, come on.” Aku bingung harus berkata apa, hanya mampu menggenggam tanganmu yang mengepal di atas meja.

“Aku ingin berhenti jatuh cinta, Ben. Sedih itu nggak enak. Maksudku, sedih yang sesedih ini ternyata nggak enak.” Kamu mulai meracau lagi. Seratus hari setelah cintamu pergi, menyisakan patahan yang cukup parah di hatimu, yang hingga kini belum mampu kamu obati sendiri.

“Ben, lagu ini bagus..” Bibirmu tersenyum kecut. Bibir yang biasa kamu poles dengan lipgloss rasa stroberi, namun kini tampak kering dan memudar.

Ketia seseorang jatuh cinta atau patah hati, seluruh lagu yang senada dengan suasana hatinya pasti akan terdengar bagus, Olivia.

Kamu tahu, Olivia? Aku iri padanya. Lelaki itu, yang bahu dan dadanya pernah kamu jadikan sandaran, yang di hadapannya kamu memberikan tawa riang, yang tentangnya kamu bercerita segala hal mengenai cinta, namun kini membiarkanmu patah separah ini.

Aku iri padanya.

Sebab kamu tidak pernah menyebut namaku sebahagia kamu menyebut namanya, dulu.

Aku iri, sebab di dadaku, kamu tak pernah menyandarkan segala bebanmu, seperti yang kamu lakukan padanya. Dulu.

Aku iri padanya, karena bahkan setelah kepergiannya yang begitu menyesakkan, kamu tak pernah menyadari rasa yang menjalar di hatiku.

“Kamu marah padanya, Ben?”

Dan seperti biasa, kamu selalu mampu membaca isi hatiku dengan baik. Kita bersahabat belasan tahun, jadi bagaimana mungkin tebakanmu meleset.

“Aku nggak suka dia menyakiti kamu, Liv.”

“Kamu nggak perlu begitu.” Matamu yang tak lagi berbinar, menatapku ragu-ragu, “kalau dia meninggalkanku karena orang lain, mungkin saja aku bukan perempuan yang baik. Ben, kamu nggak perlu membuang energimi untuk perempuan sepertiku.”

Sekali lagi, kamu membaca pikiranku dengan tepat.

Barangkali, Olivia, rasa cemburu itu persis dengan cinta –akan sangat kelihatan ketika kita berusaha menutupinya rapat-rapat. Tapi racauanmu sama sekali tak beralasan. Aku tahu, tak ada alasan untuk percaya pada kalimatmu barusan…

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes

…karena aku akan tetap di sini.

“Olivia..” Aku menatap manik matamu lekat-lekat, ada sisa-sisa air mata yang mengering di sana. “Aku nggak punya obat penawar jatuh cinta…”

Kamu mendesah kecewa, kemudian menunduk.

“….tapi aku punya cinta yang tidak akan pernah menyakitimu.”

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
(Fix You – Coldplay)

*826 Kata tidak termasuk judul.
*Sumbangan judul dan nama tokoh dari Kak @adit_adit

Posted from WordPress for Android

(Visited 24 times, 1 visits today)

6 thoughts on “(Obat) Penawar Jatuh Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *