Cerita pendek

Tanpa Karet Nasi Uduk, Cinta Kita Bukan Apa-apa

Pagi yang biasa di kota kita, selalu dan selalu, aku mendapatimu tengah merawat mawar-mawar kesayangan yang tumbuh mekar di taman mungil depan rumah.

Pagi yang biasa di kota kita, namun cintaku padamu tak pernah biasa-biasa saja, selalu mekar seperti kelopak mawar kesayanganmu setiap harinya.

Pagi yang biasa di kota kita, namun tidak dengan rumah mungil yang kita cicil dengan susah payah puluhan tahun lalu. Rumah mungil yang selalu mampu menentramkan hati, satu-satunya rumah tempatku pulang –selain hatimu.

“Nasi uduknya ada di meja, hampir saja telat. Pagi ini ramai sekali.” Kamu tengah meneliti mawar-mawarmu ketika aku tiba di taman.

“Ayo kita makan sama-sama.”

Kamu menggeleng pelan, “duluan saja. Duh, kasihan anak-anak ini, aku harus mengurusnya dulu.”

Aku melangkah mendekat, ikut melirik apa yang tengah kamu perhatikan dari bunga-bunga itu –anak keduamu, namun aku tidak mengerti sedikit pun. Mungkin aku bukan pria romantis yang kerap membawakanmu bunga pada kencan-kencan kita di masa silan, tapi aku cukup bahagia telah berhasil memberikan taman mungil ini untukmu. Surga seribu mawar, begitu kamu menyebutnya. Surga kecil yang selalu berwarna dan membuat rumah kita lebih hidup daripada rumah-rumah lainnya di kota ini.

Surga kecil yang selalu berhasil membuat pagi kita tak pernah biasa.

“Ayo…” Aku menggenggam tanganmu yang mulai keriput, tepat ketika kamu selesai menanam beberapa benih mawar yang baru.

Kita melangkah masuk bersisian menuju ruang makan. Lalu seperti biasa, aku akan menyiapkan piring dan menghidangkan nasi uduk kita, sedangkan kamu menyiapkan dia cangkir teh hangat. Kebiasaan yang tak pernah bosan kita lakukan selama hampir tiga puluh tahun.

“Andini sudah bangun?”
“Sudah, Yah.”

Tepat ketika pertanyaanku meluncur, suara Andini –putri semata wayang kita, segera mendahuluimu menjawab.

“Makan dulu, Nak.” Suara lembutmu menyapanya, kemudian menawarkan teh hangat yang lantas ditolak karena ia lebih menyukai jus jeruk dan sandwich buatannya sendiri untuk sarapan.

“Ayah sama Ibu betah banget makan nasi uduk terus, memangnya nggak bosan?” Andini berujar ketika tengah berkutat dengan telur mata sapi setengah matang favoritnya.

Aku menatapmu, seolah mempersilahkan menjawab. Kamu hanya menggeleng pelan, “Ibu nggak bosan, tuh. Memangnya kenapa harus bosan?”

“Yaa, kali aja, kan, Bu? Orang pacaran aja bisa bosan. Buktinya, sekarang aku mulai bosan sama kelakuan Mas Bima. Tapi Ibu sama Ayah kayaknya betah menjalani hal yang sama bertahun-tahun.”

Aku tertawa sejenak, kemudian menyesap sedikit teh dan menarik karet yang membungkus nasi uduk bagianku.

“Ayah dan Ibumu hidup di zaman berbeda, Nak. Kami hidup di zaman yang lebih sederhana, di mana ketika sesuatu telah rusak, maka kita harus memperbaikinya, bukan membuangnya begitu saja.”

Anak gadis kita yang kini beranjak dewasa itu menyeruput jus jerunya, kemudian mengerutkan kening. “Aku nggak paham, deh, sama analogi-analogi Ayah.”

“Menurutmu, anak-anak zaman sekarang suka main apa?”

Gadget, dong. Kan canggih, semua game jadi satu.” Ia menjawab cepat.

“Dulu, waktu kecil, kamu suka mengumpulkan karet dari bungkusan nasi uduk Ayah dan Ibu, yang kemudian dirangkai ibumu jadi bermacam-macam bentuk. Bahkan ada Tokyo Tower juga. Kamu senang sekali pada permainan itu. Dulu.”

Andini mengerjapkan mata sejenak, seoah berusaha mengingatnya, lalu mengangkat bahu, “then? What’s the point, Yah?”

“Poinnya adalah, hidup kita dulu lebih sederhana, kita mencintai dan menjalani hidup karena hal-hal sederhana, jadi nggak gampang bosan seperti orang zaman sekarang.”

Kamu menyuapkan sesendok nasi uduk ke mulut, kemudian mulai menggigit kerupuk, meninggalkan aku dan Andini yang masih sibuk beargumen.

“Jadi itu alasannya Ayah dan Ibu betah menjalani rutinitas yang sama puluhan tahun?” Sekali lagi, ia bertanya.

“Oh, iya.” Aku menggenggam punggung tanganmu yang mulai keriput, namun hangatnya masih terasa sama seperti saat kencan pertama kita. “Rahasia kecil lainnya, Ayah dan ibu pertama kali bertemu saat berpapasan akan membeli nasi uduk.”

“Dan tanpa karet nasi uduk ini, cinta kita bukan apa-apa. Begitu, kan, Yah?” Kamu akhirnya buka suara lagi, suara keibuan yang selalu aku cintai sejak dulu.

Pagi ini, pagi yang biasa di kota kita, namun di dalam rumah ini, selalu ada cinta kita yang tak biasa.

Pagi ini, nasi uduk yang kusantap masih terasa sama nikmatnya dengan nasi uduk-nasi uduk sebelumnya –walau kita sudah menyantapnya ratusan kali selama ribuan pagi.


*659 kata tidak termasuk judul
*Sumbangan judul dari @edelweisbasah

Posted from WordPress for Android

(Visited 38 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *