Cerita pendek

Tolong Jangan Beritahu Niall

“Tolong jangan beritahu Niall,” katamu selalu, ketika aku menjenguk.

Baju lusuhmu yang mungkin hanya beberapa potong dan selalu dicuci-pakai nyaris setiap hari, membuatku merasa pedih sendiri. Seharusnya aku tega melihatmu terpuruk di balik jeruji seperti sekarang. Bukankah seharusnya aku bahagia? Kamu menghancurkan hati dan hidupku tiga tahun lalu, mengapa kini aku tak boleh berbahagia atas deritamu?

Tapi kemudian aku sadar, bahwa aku memang tidak bisa, bukannya tidak boleh.

“Tolong jangan beritahu Niall.” Hanya itu satu-satunya keinginanmu ketika aku menjenguk, yang pasti terulang setiap kali kamu melihat aku menunggu dengan gugup.

“Tolong, jangan beritahu Niall bahwa papanya ada di penjara. Aku tidak ingin dia punya kenangan buruk dari masa kecilnya.”

“Aku nggak mengenali kamu lagi. Apa yang membuatmu gila seperti ini? Kamu membunuh belasan orang dan terancam pidana mati!” Suaraku tertahan, amarah dan isak tangis berlomba-lomba keluar dari dalam dadaku, berpacu untuk meluap terlebih dulu.

“Mereka membunuh Denting. Kamu tahu itu.”

“Tapi itu bukan alasan! Aku tidak bisa membenarkan pembunuhan belasan orang. Ini akan jadi kasus yang sulit.”

“Kamu pengacaraku, Nada. Denting kakakmu. Dan kamu tahu semuanya, sisanya terserah. Terserah kamu akan membelaku atau tidak. Terserah, jika kamu masih marah mengenai tiga tahun lalu dan memutuskan membiarkan aku dihukum mati.”

Aku menghela napas panjang, enggan menjawab. Kemudian, kamu menyambung lagi, kalimat yang rutin terucapkan semenjak tubuhmu mendeam di bui. “Tolong, jangan beritahu Niall.”

“Ini, tadi aku masak cah jamur kesukaanmu.” Ucapku perih, sambil mengulurkan rantang. “Aku pulang dulu. Sampai bertemu di persidangan.”

“Kamu tahu, Nada?” Suaramu bergetar ketika meraih rantang itu dari tanganku, membuat dadaku semakin sesak. “Mereka –orang-orang itu, suruhan Dewantara Group, lawan bisnisku. Aku tahu bagaimana liciknya mereka. Waktu itu, aku memang menolak kerjasama dan tidak mengacuhkan ancaman mereka. Jadi…”

“Ya, mereka membunuh Denting. Pembunuhan berencana. Aku sudah menyelidikinya. Tapi tetap saja…”

“Dengar, Nada! Aku membunuh mereka bukan karena itu! Aku membunuh mereka karena mereka mengancam akan membunuhmu setelahnya.” Suaramu terdengar gelisah. Kali ini aku mengangkat wajah, menatapmu tak percaya. Namun sia-sia, tak ada kebohongan di wajahmu. Seperti halnya tak ada sesal di wajah itu, ketika kali pertama polisi datang ke rumah dan menjemputmu.

“Ka… kamu…”

“Aku membunuh mereka… karena tidak mau kehilangan kamu, Nada.”

“Kamu suami kakakku. Jadi nggak mungkin…”

“Tiga tahun lalu, tentang tiga tahun lalu, aku minta maaf.” Kamu meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat, meluapkan segala air mata. “Jika nanti aku mati, aku titip Niall. Aku ingin kamu tahu, rasa sayangku masih sama seperti tiga tahun lalu.”

Dadaku semakin sesak, beberapa sipir yang melitas sempat melirik curiga. Jadi kuputuskan untuk segera beranjak dan berbalik pergi

Aku tidak sudi mengingat kenangan-kenangan buruk tiga tahun lalu, ketika suatu pagi aku menemukanmu tidur bersama Denting dalam keadaan mabuk.

Aku tidak sudi mengingat seluruh undangan merah jambu yang kemudian kubakar di pekarangan rumah karena pernikahan kita terpaksa dibatalkan.

Dan seharusnya, aku pun tidak sudi merawat anak itu seorang diri.

“Aunty, Papa di mana? Papa janji bawain cokelat yang banyak buat Niall.” Suara lugu dari seberang membuat hatiku semakin pilu.

“Iya, sayang. Nanti Aunty kasih tahu Papa. Sekarang Papa ada dinas di luar kota. Tapi barusan Papa titip cokelat buat Niall.” Susah payah aku menjawab, sebelum akhirnya sambungan telepon dimatikan.

Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku terpaksa membohongi bocah itu dengan memberinya cokelat dari minimarket di dekat rumah.

Sumber: http://jacksonenjoy.blogspot.com/


*538 kata tidak termasuk judul.
*Sumbangan judul dari @nindasyahfi

Posted from WordPress for Android

(Visited 22 times, 1 visits today)

1 thought on “Tolong Jangan Beritahu Niall

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *