Cerita pendek

Hari ini, Besok dan Lusa

Sumber: http://kunta-wijaya.blogspot.com

Hari ini, Dru, kulihat wajahmu bersemu malu -serupa jingga yang menggantung di langit kala pertempuran di Kurusetra.

Kau harus tahu, Dru, bagaimana detak jantungku waktu pertama kali melihatmu di kejauhan. Ketika kau tengah menolak Karna yang memenangkan sayembara, karena ia putra seorang kusir.

Kau wanita yang ingkar janji, Dru. Namun, aku tetap tak mampu menghapus lengkung senyum itu –lengkung senyum yang seketika terpatri dalam ingatan.

“Menangkan sayembara ini untukku,” telingaku seolah mendengar bisik lirihmu yang diterbangkan angin, saat Karna berdecak kesal.

Aku harus memenangkan sayembara ini untukmu, dan menjadikanmu permaisuri, agar Karna berhenti mendesakmu untuk jatuh ke pelukannya. Bukankah begitu, Dru?

Maka ketika sayembara itu dimenangkan, ketika aku dan saudara-saudaraku berhak membawamu pulang, Dewi Kunti meminta kami membagi apa pun yang kami bawa –seperti hari-hari biasanya. Sesungguhnya, Dru, tak ada sedikit pun niatku membagimu dengan keempat pandawa lainnya. Meski pun kakak tertuaku tentu tampak lebih menawan dengan segala yang ia punya, aku percaya bahwa bisikanmu adalah satu-satunya cinta yang sebenarnya.

“Menangkan sayembara ini untukku,” bisikan itu terngiang lagi.

Namun besok, Dru, jika di suatu pagi kau mendapati dirimu terbangun di samping Prabu Yudistira dan merasakan hatimu terpaut padanya –maka aku tak akan mendesakmu seperti Karna terdahulu.

Maka aku akan berbahagia untukmu, untuk kalian, jika memang ternyata kau mendapati nyala api cintamu lebih berkobar di hati Sang Prabu.

Tapi aku tak pernah menyangka, Dru, pada lusa keseribu semenjak sayembara itu dimenangkan, kakakku tega mempertaruhkan segala yang ia miliki hanya karena hasutan Duryodana dan Sangkuni.

Mempertaruhkan dirimu, Dru.
Mempertaruhkan cintamu.

Cintamu yang kuserahkan dengan lapang dada untuknya. Tubuhmu yang kau serahkan terutama padanya.

Masih jelas kuingat sumpahmu, Dru, ketika Dursasana menyeret tubuh indahmu dengan kasar bak babi hutan yang mengendus kelaparan ke tengah arena judi. Masih jelas kuingat amarahku, Dru, ketika menatap Prabu Yudistira pasrah dan menyerahkan kita semua ke tangan lawannya.

Aku tak pernah sakit hati ketika lawan-lawan kakakku menyuruh kami semua menanggalkan baju dan meremukkanharga diri Pandawa Lima di arena itu.

Tapi hatiku jauh lebih sakit, Dru, ketika Dursasana menarik rambutmu karena kau menolak hadir. Terlebih, ketika ia menarik kain yang kau kenakan untuk menelanjangimu.

Pada akhir hidupku kau boleh menelanjangiku lagi, Dursasana. Pada waktu itu wangi musim bunga menyebar di Kurusetra

Pada akhir hidupku –setelah kubasuh wajah remukku dengan darahmu –kau boleh menculikku dari pelukan Prabu Yudistira

Apakah kau juga masih berani melepaskan seribu selendang yang membelit tubuh wangiku, wahai, ksatria Kurawa?*

Tak pernah kusangka, Dru, pada lusa keseribu semenjak sayembara itu, aku akan merasakan penyesalan yang teramat sangat, karena telah menyerahkan cintamu untuk Yudistira.

Ingin kubunuh Dursasana dan memenggal kepalanya untukmu, Dru, jika saja Sri Kresna tidak menolongmu –jika saja Sri Kresna tidak bertitah agar selembar kain yang kau kenakan menjelma menjadi seribu selendang, yang tak kunjung berkesudahan jika ditarik.

Tak pernah kukira, Drupadi, pada lusa keseribu ini, api cintaku menemui ajalnya. Hancur oleh kemarahan yang membara.

“Apa masih ada kesempatan untuk kita, Arjuna? Nyalakanlah kembali api cintamu, untukku.” Bahkan bisikan terakhirmu tak dapat terdengar jelas lagi diantara tawa para ksatria Kurawa.


*Sumber kutipan: Sumpah Drupadi, dari (Kumpulan Puisi) Pertempuran Rahasia oleh Triyanto Triwikromo, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010.
*497 kata tidak termasuk judul.
*Entah FF, entah setengah prosa.
*Sumbangan judul dari @danissyamra

Posted from WordPress for Android

(Visited 27 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Hari ini, Besok dan Lusa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *