Pada suatu sore yang penuh luka, wahai lelaki, akan kukirimkan seorang wanita padamu. Maka, kelak, kau akan menyesali kebodohan-kebodohanmu di masa lalu.

Pada suatu senja yang sedih, wahai sang adam, satu-satunya wanitamu yang setia tengah merajut air mata. “Masih ada esok dan lusa untuk kesempatan kedua.” Ucapnya kala itu.

Pada sebuah penghujung yang meremukkan hati, wahai kamu, wanitamu yang paling setia itu meratap sekali lagi. “Selalu ada kesempatan untuk cinta.” Katanya padaku.

Pilu.

Maka pada suatu sore yang berdarah sebab luka hatinya tak kunjung mengering, akan kukirimkan padamu seorang malaikat bermata rapuh.

Malaikat jelita yang menyimpan seribu kehangatan di dalam manik matanya.

Malaikat yang akan membelokkan langkahmu, sama seperti ketika kau berbelok dari wanitamu yang setia itu, menuju perempuan-perempuan lacur pinggiran jalan yang mengerling demi lembaran rupiah di dompetmu.

Malaikat bermata rapuh dengan kain ungu kirmizi..
Yang hanya dengan setetes hujan di sebelah matanya, akan menghentikan langkahmu –menuju pintu surga.

Dan pada akhirnya, wahai lelaki, selamat datang ke dalam rengkuhan panasku yang berkobar.

Selamat pulang.
Selamat terbakar.

Dari kejauhan malaikat bermata rapuhku akan menatapmu, tertawa, lalu berbisik pada wanitamu yang setia hingga akhirat.

“Biarkan. Biarkan ia terbakar, Dewi. Biarkan Arjunamu hangus oleh api yang dimainkannya sendiri. Sebab pada akhirnya, seluruh petualang paling liar pun selalu butuh rumah untuk pulang.”


*edisi meracau tengah malam
*entah FF, entah prosa, entah puisi. Entah.
*Jakarta, 20 April 2014, 02:45am

Posted from WordPress for Android

(Visited 39 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Malaikat Bermata Rapuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *