Tentang Menulis

Logika Cerita dalam Fiksi

Sebenarnya di awal tulisan ini pengin gue beri judul ‘Logika Cerita dalam Novel’, tapi kemudian gue teringat bahwa bukan cuma novel yang butuh logika cerita. Ada karya fiksi lain; mungkin cerpen, flash fiction dan sebagainya. Jadinya judul diganti. Pertanyaan pertamanya, bagaimana menulis cerita sesuai logika? Agak susah kalau dijelaskan dengan teori. Satu-satunya teori tentang ini yang gue tahu adalah, ya harus masuk akal. Tapi ketika diminta contoh, gue punya.

Sekitar Agustus tahun lalu, seorang teman menghubungi gue via email. Teman lama, yang pertama kali ngajak gue coba nulis cerita pendek semasa sekolah dulu. Tapi ternyata makin ke sini, malah dia yang jarang nulis. Nah, suatu kali dia buat novellet dan minta komentar gue. Draft itu di emai, kemudian gue menghabiskan beberapa malam untuk membaca dan menuliskan koreksinya, salah satunya ya tentang logika cerita.

Berikut contoh bagian-bagian yang kurang pas dalam draft dia:

  1. Ada seorang tokoh cewek antagonis, sebut namanya Jenny. Si Jenny dikisahkan merencakan sesuatu yang buruk di malam reuni teman-teman SMP karena punya dendam sama tokoh utama yang protagonis. Terus Jenny dikisahkan mengempeskan ban-ban mobil dan kendaraan lain agar teman-temannya gak bisa kabur, lalu dia juga berhasil mengurung 200 orang undangan (seluruh angkatan yang hadir) di ruang multimedia. – ini agak kurang masuk akal, kan? Kalau menurut gue sih nggak masuk akal banget. Satu orang bisa mengurung 200 orang. Ada satu cewek yang mau melawan tapi dilumpuhkan Jenny dengan mudah. Hellow, cowok-cowoknya banyak lho dalam 200 orang itu, masa mereka gak melawan sama sekali? Masa 200 orang cewek dan cowok kalah lawan 1 cewek?
  2. Dikisahkan lagi di endingnya, Jenny udah nguber-nguber si tokoh protagonis sampai ke hutan belakang sekolah –mau dibunuh. Ada tokoh utama cowok yang disukai Jenny, tapi malah memilih tokoh protagonis. Ini bikin Jenny marah, kemudian hendak membunuh mereka berdua. Ketika beberapa senti lagi si tokoh protagonis cewek akan terbunuh, dia berbisik pada Jenny bahwa yang dilakukannya salah, bahwa dulu mereka pernah temenan dekat, mengatakan apa Jenny nggak inget semua pertemanan mereka. Lalu, dengan ajaib, Jenny seolah terharu dan nggak jadi membunuh keduanya. Malah mereka ketiduran di hutan sampai pagi karena saking capeknya nangis terharu. Jadi rencana jahat dan licik setahun penuh si Jenny berhasil digagalkan hanya oleh bisikan seorang teman lama? Menurut gue ini nggak seimbang. Teman lama, bukan sahabat lama. Jadi dulu sebelum ada perkara cowok, mereka pernah temenan. Sedangkan sahabat si tokoh utama ada lagi, cewek lain lagi.

Ada beberapa kejanggalan lain, tapi cuma dua itu yang sekarang gue jadikan contoh. Hal-hal seperti itu membuat sebuah cerita jadi aneh, nggak masuk akal. Iya, ini memang perkara fiksi, tapi juga harus masuk akal –kecuali fantasi, ya. Coba pikir, seandainya kisah di atas terjadi di dunia nyata. Apa mungkin satu orang cewek bisa menyekap 200 orang SEKALIGUS dalam satu ruangan? Sekaligus, dan 200 orang itu sehat walafiat, nggak dilumpuhkan, diserang, dibius atau ditusuk atau diapain. Itu nggak mungkin banget. Nggak mungkin orang nggak ngelawan kalau dijahatin. Kepala lo ditoyor orang asing aja pasti ngamuk, apalagi disekap tanpa alasan jelas. Tapi di kisah itu nggak ada satu pun yang berhasil lolos atau melawan Jenny si antagonis.

Gue menuliskan hal ini gara-gara kemarin curhat soal nulis sama tante gue –salah satu penulis juga, hahaha. Dan gue nulis gini bukan berarti gue udah pinter memainkan logika cerita. No, gue juga masih belajar. Ada kalanya gue juga harus dibantai teman-teman lain sesama penulis mengenai logika cerita dalam outline gue. Begitulah, kadang kita yang menuliskan ceritanya suka nggak melihat kejanggalan dalam draft tersebut, makanya butuh sudut pandang orang lain untuk menilai 😀 Catat, bahkan penulis yang sudah berkali-kali menerbitkan buku pun, butuh pendapat teman-temannya untuk menilai logika cerita, setting, penokohan, dan lainnya. Jadi nggak ada istilah, “tulisan lo bagus” atau “tulisan lo jelek” aja. Harus dikupas bener-bener, sebelah mana janggalnya, sebelah mana kurangnya, sebelah mana harus ditambal dan ini itu.

Dan mungkin ini salah satu faktor kenapa kita harus sering-sering meminta saran, kritik dan pendapat dari teman –baik yang hanya pembaca maupun sesama penulis. Jangan takut meminta kritik dari penulis yang sudah lebih dulu menerbitkan novelnya –apalagi yang menerbitkan di penerbit mayor. Jangan berpikir ketika mereka memberikan kritik tajam berarti mereka sombong. Kita nggak akan berkembang kalau memelihara logika kayak gitu, jangan berpikiran sempit kayak gang-gang di sudut Jakarta. Hehe.

Teman lama gue itu balas email gue begini, “gile lu, komennya panjang. Biasanya temen-temen gue cuma komen bagus atau jelek. Elu datang-datang komennya kayak editor gitu.”

Gue cuma nyengir terus bilang, “itu bukan apa-apa. Editor yang sebenarnya bisa komentarin lebih jauh dari itu. Hehe.”

Sekali lagi, gue nulis begini bukan karena udah pinter atau sok pinter. Buat sharing aja. Karena gue juga masih belajar, maka mari belajar sama-sama. Berjuang untuk #BulanNarasi yang udah di depan hidung *karena di depan mata terlalu mainstream*

Lupa ngenalin, ini dia tante gue. Namanya @rheinfathia. Mungkin kalian pernah baca beberapa bukunya? :p #DuoNarsis
(Visited 66 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *