Cerita pendek

Batara Surya

Hanna

“Dor!!!” seseorang menghentak meja mengagetkanku.

“Anjir!” ucapku lantang setengah berteriak. “Gila lo ya, Tam! Sumpah gue kaget banget!” setengah ruangan yang sedang bersiap-siap untuk pulang melirik ke arahku dan dari beberapa di antara mereka cengengesan dan tertawa puas melihat responku tadi. Untung si bos udah melesat pulang dari tadi.

“Hahaha,” mulut Tami terbuka lebar menertawaiku. “Sorry, Han, gitu aja kaget. Hahaha.”

“Mau apa lo?” tanyaku pura-pura ngambek sambil menyusun beberapa buku yang berantakan di meja kubikelku. Sengaja pula aku tidak memandang ke arah Tami.

“Ih, nggak asik! Gitu aja ngambek, biasanya juga lo usil ke gue, meperin upil ke gue, gue nggak marah,” Tami mulai menggodaku, menusuk-nusukkan jari telunjuknya ke pinggangku.

“Hahaha,” tawaku akhirnya lepas. Aku paling tidak tahan digelitik. “Itu mah lo yang doyan sama upil gue! Udah, sebenernya maksud lo apa datang ke kubikel gue?”

“Hehe. Mau minta tolong.”

“Udah gue duga. Minta tolong apa? Buruan, gue udah mau pulang nih.”

“Gantiin gue dong hari Rabu buat ngeliput ke SMA Dior 1. Salah satu siswanya menang lomba cipta lirik lagu, ntar gue kirim deh catatan lengkapnya ke email lo,”

“Hmm… mau ga ya?” godaku. “Dengan satu syarat tapi, ya.”

“Apa syaratnya? Jangan yang susah-susah, ye.”

“Ini syaratnya,” sambil menyodorkan telunjukku yang sebelumnya sudah kumasukkan ke dalam rongga hidungku.

“Hanna, lo gilaaaa!” teriaknya berlari menjauhiku. Aku tertawa lepas. Hahaha. Sore yang abusrd.

***

Batara Surya. Lagi-lagi orang ini menghasilkan puisi-puisi yang menakjubkan. Sudah lebih dari sepuluh puisi-puisi buatannya kupajang di dinding kamarku, bisa dibilang aku salah satu penggemarnya beratnya.

Guntur menggelegar

Sejuta pesonamu menyambarku

Menjadikanku hitam legam gosong akan pesonamu

Kamu perenggut paksa hatiku

Kamu peraih hebat perhatianku

Batara Surya –

Malam ini ditutup dengan membaca salah satu karyanya di majalah tempat aku bekerja. Kapan, ya, bisa bertemu dengannya? Sekedar bertatap muka mungkin, atau malah memintanya untuk membuatkanku satu puisi. Ah, aku kebanyakan berkhayal. Kubenamkan wajahku di bawah bantal untuk segera tidur, mengistirahatkan pikiran dan ragaku.

Batara Surya…

***

Taksi menurunkanku tepat di depan SMA Dior 1. Rasanya sudah lama tidak mengunjungi sekolah, sebentar memoriku terbang ke masa-masa SMA-ku dulu. Kemudian tersenyum sendiri sambil berjalan memasuki area sekolah. Ah, aroma anak sekolah ini memang membuat rindu!

Tiara Adinda Dharmadiani kelas XII IPA 1. Kulihat catatan nomor handphonenya dan segera menghubunginya.

“Halo..” jawabnya.

“Ini Tiara? Saya dari majalah Papyrus mau mewawancarai kamu, sesuai janji yang sudah dibuat. Hari ini jam tiga sore, kan?”

“Oh, iya. Saya sudah menunggu dari tadi kok. Di kantin aja ya, Mbak.”

“Oke.”

Aku sedikit kebingungan mencari jalan menuju kantin. Aku berjalan ke arah anak perempuan yang sedang berdiri untuk menanyakan kantinnya ada di mana. Sebelum aku sempat bertanya.

“Dek, kantinnya ada di sebelah mana, ya?” seorang pria yang berpostur tinggi tiba-tiba ada di sana dan menanyakan hal yang sama dengan yang ingin kutanyakan kepada anak perempuan itu.

Ah, beruntung aku tidak perlu bertanya lagi.

Diam-diam aku ikuti pria itu dari belakang untuk bisa sampai ke kantin. Tidak lama kami sudah sampai di kantin, pria itu berjalan menuju ke arah sekelompok anak muda yang sedang duduk di sebelah kanan kantin. Karena aku belum tau Tiara itu yang mana, aku meraih ponselku lagi dan segera menelepon Tiara.

Sembari nada sambung melantun, mataku sibuk mencari-cari perempuan mana yang sepertinya akan mengangkat teleponku ini.

“Halo, Mbak.”

“Halo Tiara, kamu di sebelah mananya kantin, ya? Aku udah di kantin nih.”

Kulihat anak perempuan yang celingak-celinguk sambil memegang ponsel. Itu pasti dia. Ternyata salah satu dari anak perempuan yang didatangi pria tinggi tadi. Aku segera berjalan ke arah anak itu.

***

Tiara

“Silakan duduk, Mbak. Maaf rada berisik, namanya juga sekolahan.” Gue menyambut uluran tangan cewek itu, salah satu orang redaksi majalah yang janjian wawancara kemarin.

“Iya, nggak apa-apa. Oh, saya Hanna. Hanna Vivaldi.” Seulas senyum manis muncul di wajahnya.

“Mbak Hanna? Bukannya kemarin Mbak Tami?” Kening gue mengernyit heran.

Cewek itu cuma tertawa kecil, “Iya, Tami ada liputan lain. Waktunya bentrok, jadi saya menggantikan dia untuk liputan yang ini. Nggak apa-apa, kan, Tiara?”

“Oh, never mind.” Gue senyum lalu mengibaskan tangan sambil meniupkan balon dari big bubble favorit gue, “eh eh, kenalin dulu.. Ini Dara, di sampingnya itu Fandi, terus ada Virgin, disampingnya Vino. Temen band semua, Mbak.”

“Hallo, Hanna.” Mbak Hanna lalu menyalami mereka satu-persatu.

“Dan yang itu Kak Fathan, abangnya Dara.” Gue sekalian ngenalin Fathan.

“Fathan.” Suara beratnya terdengar. Ekspresi Hanna tampak sedikit gugup.

“Santai aja, Mbak. Orangnya baik, kok. Hehe,” sahut gue demi mencairkan suasana.

“Eh iya, langsung kita mulai aja ya.” Mbak Hanna tampak sibuk menyetel alat perekam dan bersiap mencatat di agendanya.

“Wawancara nih, yee.” Fandi dan Vino menyoraki. Gue langsung melotot biar mereka diem. Malu-maluin aja kalo diliat orang luar. Kadang temen-temen gue memang suka kelewat banyol.

“Okey, sebelumnya saya ngucapin selamat dulu nih, atas prestasi kamu yang menang lomba cipta lirik lagu yang diadain Radio Ardania. First question, darimana dapet inspirasinya?”

“Hmm, dari kejadian sehari-hari. Kadang dari curhatan temen juga bisa jadi lagu.” Gue menjawab santai.

“Kamu hobi menulis lagu? Selain lagu, biasanya menulis apa?”

“Paling suka sih emang nulis lagu, tapi kadang nulis puisi juga. Walau berantakan. Hehe.”

“Bohong Mbak, puisinya Tiara kadang bagus kok. Iya, kan?” Dara menyenggol abangnya. Kebiasaan nih temen-temen gue, isengnya muncul.

“Iya, pemilihan katanya bagus.” Fathan menyahut, meninggalkan rasa panas di wajah gue. Dipuji Fathan, mimpi apa gue semalam!

“Hahaha, pertanyaan selanjutnya, ya. Udah berapa tahun sih gabung sama band kamu? Kalau bisa, saya juga pengen bahas sedikit tentang band kamu. Singkat saja.”

“Sejak dua tahun lalu sih, Mbak. Dari awal SMA. Nama bandnya Narada. Tapi penulisan ‘ra’-nya dikurung, biar kebacanya Nada.”

“Alasan memilih nama itu?”

“Hmm, soalnya unik. Narada itu orang yang dianggap bijaksana dalam tradisi Hindu jaman dulu. Penulisan huruf tengahnya juga dikurung biar bacaannya lebih unik lagi. Nada, identik dengan lagu.”

“Genrenya?”

“Pop, tapi kadang kami juga bawain Jazz kok. Bahkan pernah beberapa kali tampil di festival Jazz.”

“Wah, keren juga ya.” Mbak Hanna terus mencatat hasil wawancara kami, “lirik lagu kamu yang menang kemarin kabarnya akan dijadikan album indie bersama beberapa lagu dari pemenang lain yang disponsori Ardania, gimana tuh kesannya?”

“Seneng Mbak, seneng banget pastinya. Bikin semangat dan makin semangat lagi dalam bermusik.”

“Jawabannya berat, cuy. Hahaha.” Kami semua tertawa mendengar celotehan Virgin.

“Okey, ini pertanyaan terakhir, saya pengen tahu dong satu aja potongan kata-kata yang kamu suka, atau bahkan yang pernah kamu tulis menjadi lagu?”

Gue mikir beberapa detik, lalu melirik ke arah Fathan, “Kak, bisa bantu aku? Bacain potongan sajak Kak Fathan yang kemarin dong?”

“Yang itu?” Fathan tampak kurang percaya sama permintaan gue.

Please?”

“Bacain aja, gih.” Dara tersenyum mengiyakan. Akhirnya Fathan pun mengangguk.

Gue menyunggingkan senyum, “kalimat yang bakal dibacain Kak Fathan setelah ini, adalah potongan sajaknya yang paling aku suka, Mbak. Sebenernya dalam waktu deket juga pengin aku tulis jadi lagu.”

Nice.” Mbak Hanna mengangguk dan siap-siap mendengarkan.

Guntur menggelegar

Sejuta pesonamu menyambarku

Menjadikanku hitam legam gosong akan pesonamu

Kamu perenggut paksa hatiku

Kamu peraih hebat perhatianku

Potongan sajak itu selesai dalam waktu singkat. Gue menunggu reaksi Mbak Hanna, tapi yang gue dapet cuma wajah heran sang reporter.

“Mbak? Mbak Hanna? Ada apa?”

“Eh, nggak. Nggak apa-apa..” Mbak Hanna seperti terbuyar dari lamunan.

“Gimana sajaknya?” Tanya gue hati-hati.

“Bagus kok, saya juga suka.” Mbak Hanna tersenyum, “tapi sepertinya saya harus pamit sekarang. Masih ada meeting di kantor. Terima kasih atas waktunya, Tiara.” cewek itu mengulurkan tangan, kami bersalaman sebelum wawancara berakhir.

Baru beberapa langkah, Mbak Hanna lalu membalikkan badannya, “ah, dan sepertinya kapan-kapan saya juga bisa mewawancarai kamu, Batara Surya.” Ia menyunggingkan senyum penuh arti ke arah Fathan.

Kami semua menatap bingung.

Batara Surya?

Tapi yang lebih bikin gue bingung adalah, Mbak Hanna seperti sudah lama mengenal Fathan.

Apalagi senyumannya barusan…

***

(collab with Yomi Hanna – @Omidgreeny)

(Visited 41 times, 1 visits today)

3 thoughts on “Batara Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *