Cerita pendek

Blinded By Love

TIARA

Gue melirik jam di smartphone putih yang ada di tangan, 9:00am. Masih pagi, kayaknya Dara belum bangun. Tapi apa boleh buat, daripada bete di rumah, mending gue ke rumah sohip. Gue melenggang santai memasuki gerbang rumah yang terbuka dan mendapati Tante Arimbi; Mamanya Dara, sedang sibuk nyiram bunga di halaman depan.

“Pagi Tante.”

“Eh, Tiara. Pagi juga, neng geulis. Nyari Dara ya? Masih tidur anaknya, langsung ke kamarnya aja sana. Udah sarapan belum?” Seperti biasa, Tante Arimbi memang selalu ramah ke semua orang.

Gue mengangguk sopan, “belum Tante, tapi gampanglah. Nanti juga bisa.”

“Nanti maag, lho. Tolong bangunin Dara dulu ya, abis itu kita sarapan bareng. Tante masak nasi goreng seafood hari ini.”

“Iya, Tante. Duluan..” Gue masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Dara yang berada di lantai dua. Baru aja mau ngetok pintu, mendadak pintu kamar yang tepat berada di samping kamar Dara kebuka.

“Ada Tiara, rapi bener pagi-pagi,” sebuah suara bariton menyapa. Suara favorit gue. Ups..

“He-eh, iya Kak. Bete di rumah, mau ngajak Dara keluar,” basa-basi yang terdengar amat basi, Ra!

Fathan tersenyum, “adekku itu kalo hari minggu bisa ngebo tidurnya, coba ketok aja, siapa tahu dia bangun.”

Lima menit setelahnya gue habiskan dengan ngetok-ngetok pintu kamar Dara, tapi yang empunya kamar bahkan nggak ngebukain pintu sama sekali. Fathan tertawa kecil dan gantian ngetok, “Dara! Ada Tiara nih! Bangun hey! Tidurnya udah kayak orang abis ronda aja!”

“Hoaamm..!” terdengar suara malas sang adik. Perlahan pintu kamar terbuka, “apaan sih, pada bawel,” ujarnya dengan mata setengah tertutup, pasti nyawanya belum ngumpul.

“Tiara mau ngajak keluar tuh, buruan mandi. Mumpung libur juga,” Fathan menjawab. Dara mengucek-ngucek matanya, “ngantuk beneran nih, tadi tidur jam 4 subuh.”

“Hah?! Ngapain aja? Ngeronda lo?” Kening gue berkerut. Dara cuma nyengir, “hehe, main game online.” Lalu mendapat hadiah toyoran Fathan.

“Kakak aja deh yang nemenin Tiara keluar. Pasti mau beli baju yang kemarin ya?” Dara melirik cepat ke arah gue.

“Eh, nggak gitu jugaaa..” Gue gelagapan. Ini anak kenapa jadi jujur banget ya kalo lagi ngantuk??

“Mau beli baju dimana, Ra? Aku anterin deh. Kebetulan hari ini libur dan jadwal kosong.” Fathan berbaik hati nawarin gue. Sebenernya nggak enak, tapi kan ini hal yang gue tunggu-tunggu dan selalu gue sempilin dalam doa malam sampe Tuhan bosen. Hihi.

“Umm, iya deh. Kalo nggak ngerepotin Kakak.” Akhirnya gue nerima tawaran itu.

“Ya sudah, yuk sarapan dulu.” Fathan mengajakku kembali ke bawah.

“Lanjut bobok, ah..” Dara menguap lagi, lalu menutup pintu kamarnya dengan sadis.

***

Satu jam kemudian gue udah ada di PIM bareng Fathan. Masih pagi dan belum banyak orang berseliweran. Tapi siangan dikit pasti lebih rame. Setelah muter-muter nggak jelas karena distronya belum buka, akhirnya Fathan ngajak gue nongkrong di Starbucks PIM 1.

Cocoa Cappuccino-nya satu..” Fathan menyahut saat ditanyakan akan memesan apa.

“Umm.. Pesen..”

“Caramel Coffee Jelly Frappuccino buat dia.” Cowok berbadan tegap itu memotong ucapan gue. Si Mbak-mbak cantik tadi mengangguk lalu menyebutkan sederetan angka. Setelah itu kami mengambil tempat duduk di dekat jendela dan mulai sibuk dengan minuman masing-masing.

“Kak Fathan tahu dari mana aku biasa pesen Caramel Coffee Jelly Frappuccino kalo ke sini?” Gue membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang sebenernya nggak penting.

“Tahu dari Dara. Kan dia sering cerita tentang kamu,” sahutnya sambil pamer senyum.

“Oohh..” Baru aja gue mau ngelanjutin obrolan, tapi mendadak ngerasa risih. Seperti ada yang ngeliatin dari jauh. Gue menebarkan pandangan ke sekeliling coffeeshop, nggak ada yang mencurigakan. Cuma ada satu cewek tinggi putih berwajah oriental sedang asik dengan MacBook Pro-nya dan satu lagi tante-tante tajir yang sibuk nelpon di meja sebelah kami.

“Tiara? Kenapa?” Fathan membuyarkan lamunan gue.

Gue menggeleng, “kayaknya tadi ada yang liatin kita.”

“Masa? Kamu kenal?”

Gue menggeleng lagi dengan wajah bingung, “aku juga nggak tau siapa, entahlah. Kayaknya cuma perasaanku aja, Kak.”

“Poninya kusut yang sebelah kanan.”

“Hah?” Gue masih losfokus gara-gara orang nggak berwujud barusan. Fathan nggak menjawab, tapi langsung mengulurkan tangan buat ngebenerin poni gue.

Okey, I’m blushing..

***

Aku melihatnya dari jarak yang cukup jauh, walaupun aku tahu pasti mereka berdua lama-lama akan menyadari keberadaanku di sini.Entahlah, ini semua terjadi begitu saja, bagaimana aku bisa menjadi orang yang cukup protectif seperti ini, bahkan kepada orang yang statusnya pun bukan siapa-siapaku, belum seutuhnya menjadi siap-siapaku lebih tepatnya.

“Arah jam satu,” kurekam suaraku melalui voice note, sejenak setelahnya aku melihat

Fathan agak sibuk dengan smartphone dan earphone-nya.Aku diam, dan memang kiniaku tidak lagi melihat ke arah Fathan yang sedang duduk bersama seorang gadis ABG disebelahnya, aku hanya memperhatikan mereka berdua dari layar ponselku.

Fathan : sejak kapan km disitu?!

Fathan menegurku melalui Blackberry Messenger.

Barry Yoswara : tentunya sejak km ada disitu! Bahkan sebelum km ada disitu!

Fathan : dia bukan siapa2ku, nggak usah kuatir.

Barry Yoswara : entahlah, yang jelas dia duduk disebelahmu.

Barry Yoswara : itu yang terlihat dari sini.

Fathan mulai sibuk dengan smartphone-nya, dan gadis di sampingnya itu mulai celingukan menyisiri sekelilingnya. Bodohnya Fathan, sesekali matanya terlihat menatapku, dan di titik inilah gadis yang sedari tadi kuperhatikan itu mulai bisa menemukan target pencariannya, yaitu aku.

 

Pelan tapi pasti, aku tetap memperhatikan gadis itu dari pantulan layar ponselku.

Pelan, pelan, pelan, semakin mendekat. gumamku, ketika kudapati gadis itu mulai beranjak dari tempat duduknya dan sepertinya akan menuju ke arahku.

“Ra, mau kemana? Hei!” ucapan Fathan dapat kubaca dari bibirnya. Tapi sayang, gadis yang dipanggil Fathan “Ra” ini tidak menggubris ucapan Fathan.

Show time! Lihat, apa yang bisa aku lakukan kepadamu, gadis kecil.”

Aku berjalan, dan kusadari gadis ini juga mempercepat laju kakinya. Masih terus seperti itu untuk beberapa saat, sebelum aku menghilang diantara kerumunan pengunjung PIM yang sudah mulai ramai itu.
Siapa yang pintar dan siapa yang bodoh ya. Gadis ini tadinya mengejarku dari belakang, tapi sekarang ini malah aku yang mengikuti langkah kakinya dari belakang, dengan matanya yang masih mencari sosokku mungkin.gumamku dalam hati.

Eskalator! Ayok, turun nak. aku masih saja bermonolog dalam hati.
Ya, betapa senangnya aku ketika gadis ini berjalan menuju arah eskalator menurun. Kupercepat laju kakiku, berharap tak ada pengunjung yang melihat pergerakanku, dan aku bisa melakukan apa saja kepada gadis yang duduk di sebelah Fathan tadi.

Tepat di belakangnya, kupastikan keadaan sepi di sekitarku, dan kupastikan bisa kudorong gadis ini hingga ke dasar lantai sana itu.

Aku mengendap tepat di belakangnya, luar biasanya aku melakukan ini dengan santai, dan bocah ingusan inipun tidak menyadari keberadaanku. Tapi sayang, ditengah endapan kakiku itu kudapati seseorang menarik tanganku dengan cepat dan menjauh.

Security! Pengunjung?! Mati aku! Kantor polisi!” semua kemungkinan itu berkecambuk di otakku.

“Barry! Anjing lo! Jangan senekat itu!”

Betapa leganya aku setelah aku tahu bahwa orang yang membawaku menjauh itu ternyata Fathan.

“Sadar nggak sih ngelakuin ginian? Sadar nggak?!” Fathan marah, dia tidak berteriak, tapi berbicara dengan nada yang dipenuhi emosi.

Sorry, Than. Maaf, aku terbawa emosi.”

Sorry kamu bilang? Emosi? Yang kamu emosiin itu apa?”

“Than, harusnya kamu tahu kalau aku nggak bisa lihat kamu sama orang lain!”

“Buka mata, Bar! Aku juga butuh bersosialisasi! Nggak cuma ngehabisin waktu sama kamu!”

“Oke, aku tahu! Maafin aku.”

“Untuk sekali ini aku maafin kamu. Untuk lain kali, mungkin bisa aku yang terjun dari eskalator itu karena kelakuan kamu!”

Dan pada akhirnya dia marah, Fathan meluapkan emosinya kepadaku, tanpa pernah dia tahu betapa inginnya aku ada di posisi gadis yang sudah berlalu itu, duduk disampingnya dan memposisikan diri sebagai kekasihnya di depan umum, walaupun itu sulit untuk diterima akal sehat.

***

 (Collab with R. Kurniadi – @misterkur)

(Visited 16 times, 1 visits today)

3 thoughts on “Blinded By Love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *