Cerita pendek

KEJUTAN

Latihan band baru aja selesai. Gue menyambar sebotol minuman jeruk yang ada di atas meja kecil di dalam studio lalu meneggak isinya. Ibukota makin lama terasa makin panas, bikin tenggorokan gue dehidrasi. Anak-anak lain pamit pulang duluan, terlebih Vino –yang katanya hari ini ada janji nge-date sama junior kelas satu. Cowok satu itu memang nggak pernah tobat dari gelar playboy yang sudah disandangnya selama betahun-tahun.

Gue melirik jam dinding, pukul empat sore. Masih ada waktu untuk keluyuran sampe menjelang magrib. Karena kalo udah mendarat di rumah, biasanya nggak akan dapat izin keluar dari nyokap. Tangan gue meraih tas ransel biru muda yang tergeletak di lantai, lalu berlalu keluar dari studio, mencari-cari Swift silver milik Mama yang gue pinjem tadi pagi karena mobil gue masuk bengkel.

Tiba-tiba gue teringat Caramello –sebuah coffeeshop yang lebih senang gue sebut sebagai kedai kopi, dengan suasana yang cukup nyaman dan biasanya dijadikan tempat nongkrong anak-anak kuliahan. Nggak jarang juga ada pekerja kantoran yang mampir di jam pulang kerja seperti sekarang. Ah, dan mungkin sore ini gue bisa melepas penat di sana; sambil sekalian ngopi dan pesan roti bakar.

Musik jazz mengalun di dalam mobil, gue menikmati sambil bermacet ria di beberapa ruas jalan yang sempat menghambat. Sepasang mata gue terus fokus menatap ke depan, sampai akhirnya menangkap sesosok tubuh tegap yang gue kenal –bahkan dari belakang sekalipun.

“Kak! Kak Fathan ngapain di pinggir jalan gini?” Gue menurunkan kaca mobil dan berseru ke arah si cowok yang sedang berdiri di samping motornya.

Fathan melirik sekilas, lalu tersenyum. “Eh, Tiara. Motorku mogok mendadak, nih.”

“Ada bengkel nggak jauh dari sini. Motornya tinggalin di sana aja dulu. Kak Fathan nggak buru-buru, kan?”

Dia melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya, lalu menggeleng. “Sekarang sih, nggak. Tapi abis magrib ada janji sama anak-anak teater. Mau rapat soal pementasan minggu depan.”

Gue mengangguk paham. “Motornya tinggalin dulu di bengkel. Terus Kak Fathan ikut mobilku. Nanti aku anterin ke kampus, deh.”

“Nggak ngerepotin?” Tanyanya basa-basi.

Gue ketawa kecil. “Sebenernya Dara lebih sering ngerepotin. Hehe.” lalu dia ikut tertawa. “nggak apa-apa, Kak. Aku tunggu di bengkel depan, ya?”

Fathan mengangguk, dan gue langsung melajukan mobil setelah mendengar beberapa klakson dari arah belakang. Mobil terus melaju dan gue akhirnya berbelok ke sebuah bengkel. Sepuluh menit kemudian, Fathan muncul membawa motornya. Setelah basa-basi dengan montir bengkelnya, kami sepakat motor itu harus ditinggal sehari dan baru bisa dijemput besok siang.

“Mau aku yang nyetir?” Fathan menawarkan begitu kami akan masuk mobil.

“Boleh. Tapi aku mau ke Caramello dulu. Mau ngopi. Hmm, kalo Kak Fathan..”

Fathan sempat diam sejenak, sebelum akhirnya memotong kalimat gue. “Ok, aku ikut kamu ke sana. Balik dari sana, baru kita ke kampus. Gimana?”

Gue mengangguk, lalu memberikan kunci mobil.

*

            Parkiran nyaris penuh begitu kami tiba di Caramello. Cafe ini memang lebih ramai di sore dan malam hari. Gue keluar dari mobil lalu berjalan beriringan di samping Fathan. Seorang penjaga pintu mengucapkan selamat datang begitu kami masuk. Gue memilih duduk di meja dekat jendela, Fathan menurut. Setelah memesan segelas Ice Mocca dan kopi hitam biasa untuk Fathan, kami melanjutkan obrolan yang tertunda.

“Jadi gimana teaternya, Kak?” nada pertanyaan gue kayaknya terdengar seperti basa-basi, tapi sebenarnya memang pengen tahu.

“Sudah lumayan berkembang, Dek. Banyak anggota baru. Dan makin padat jadwal pentasnya. Hehe.”

“Aku pengen lho belajar teater,” ujar gue cari muka.

Fathan mengangguk, “kamu ikut aja sesekali. Orang luar boleh gabung, kok. Kami terbuka untuk semua kalangan. Nggak harus anak kampus.”

“Oh, ya?” Gue memamerkan senyuman paling manis. Padahal tahu bahwa gue nggak akan mau gabung ke teater. Pertama, karena memang nggak pernah benar-benar tertarik. Kedua, takut pingsan kalo terlalu deket sama Fathan seharian.

Fathan nggak menanggapi obrolan kami lagi, matanya lalu terpaku pada sesuatu yang ada di belakang gue. Gue bingung, sebelum akhirnya ikut melirik ke belakang. Di meja ujung, ada segerombolan cewek-cewek stylish yang sedang riuh mengobrol. Di samping mejanya, ada seorang lelaki berkemeja rapih.

“Mana nih bonus buat pelanggan barunya, Mas?” Cewek-cewek itu berseru centil.

“Iya, hari ini ada free cappucino buat mbak-mbak cantik yang baru jadi pelanggan di sini.” Lelaki itu mengangguk. Mereka lanjut mengobrol beberapa potong kalimat lagi, sebelum akhirnya mata si lelaki beradu pandang dengan Fathan. Senyum di bibirnya memudar. Dan –mungkin ini cuma perasaan gue aja, tapi gue yakin dia memandang Fathan dengan tatapan lain.

Gue buru-buru membalikkan badan lagi, kembali menghadap Fathan.

“Kak? Kak Fathan lihat siapa?”

“Oh.” Fathan tersadar. “Nggak kok. Nggak apa-apa.”

“Itu namanya Mas Barry. Dia manager di sini, aku pernah sekali kenalan sama dia. Waktu hang out sama anak-anak. Dia orangnya memang ramah, suka nyapa pelanggan.” Gue berusaha menutupi kegugupan gue dari tatapan aneh Barry barusan.

“Oh.” Fathan mengangguk. “Berarti dia orangnya cukup friendly sama pelanggan dong, ya?”

“Iya.. Eh tadi gimana? Minggu depan teaternya pentas di mana?”

“Hmm, aku mau ke toilet dulu, ya. Nanti kita lanjutin ngobrolnya.” Fathan tersenyum. Senyuman yang masih menawan seperti biasa. Ia lalu berbalik dan menuju toilet di bagian belakang kafe.

*

            Lima belas menit, tapi Fathan belum balik dari toilet. Gue mulai mikir yang aneh-aneh. Lalu gue memutuskan menyusul, setelah menyambar ponsel dari atas meja. Toilet tampak sepi, terlebih toilet cowok. Sedangkan di sampingnya toilet cewek cukup rame sama mbak-mbak yang heboh karena make-upnya luntur.

“Mbak, toilet cewek sebelah sini.” Salah satu dari mereka berbaik hati negur gue.

Gue cuma mengangguk cengengesan. “Iya, Mbak. Saya lagi nyari temen saya, kok.”

Mbak-mbak itu mengangguk mengerti, lalu kembali heboh sama temen-temennya yang bikin macet pintu masuk toilet. Gue nggak mau peduli, terus berusaha mengintip ke dalam toilet cowok. Rada-rada malu juga kalo di dalam ada beberapa orang lain.

“Aku udah jelasin semuanya. Itu Tiara, temennya Dara. Dan dia bukan siapa-siapa.” Suara Fathan.

“Iya, aku tahu.” Sebuah suara berat lain menjawab. Seketika jantung gue loncat-loncat ke sana kemari. Fathan lagi ngobrol sama seseorang…

“Terus? Kamu nggak punya alasan cemburu, ya. Bukan sama Tiara. Kami cuma kebetulan ketemu di jalan. Motorku mogok dan dia nawarin tumpangan.”

“Tumpangan kencan di kafe?”

“Kamu kok nuduhnya gitu?”

Gue nggak lagi mencerna kalimat-kalimat mereka. Yang ada di otak gue saat itu cuma pembuktian. Gue harus lihat sendiri siapa orang yang lagi ngobrol sama Fathan. Dua suara itu lalu menghilang. Gue mengulurkan tangan, membuka pelan pintu toilet –nyaris tanpa suara. Namun yang gue dapat memang sebuah kejutan. Kejutan yang membuat gue terbelalak kaget. Toilet itu sepi. Dan di sana, di samping wastafel, dua orang cowok berbadan tegap tengah bercumbu.

Sepasang bibir mereka beradu dan selama beberapa detik mereka bahkan nggak menyadari kehadiran gue. Mata Fathan terpejam, menikmati ciuman itu. Ciuman… Barry.

“Kak…” Gue mengucapkannya susah payah. Jantung gue rasanya udah kabur dari tempatnya. Gue udah biasa denger cerita Dara bahwa Fathan memang dikelilingi banyak cewek. Dara selalu bilang bahwa gue salah naksir sama abangnya, karena gue akan punya banyak saingan. Tapi yang gue kira..

..bukan saingan yang seperti…

..ini..

“Ra..” Fathan tercekat, langsung menyingkirkan tubuh Barry dari pelukannya. Wajahnya pucat pasi. Sedangkan di sampingnya Barry terlihat biasa saja.

Gue merasa jauh lebih gugup dari biasanya, lalu memutuskan berbalik dan berlari keluar dari toilet. Beberapa kerumunan orang gue terobos, sampai akhirnya gue tabrakan dengan sesosok cowok berkemeja putih dan bearoma maskulin.

“Ma..Maaf..” Gue berkata gugup. Kunci mobil yang gue genggam di tangan sudah mendarat mulus di lantai.

Cowok yang kayaknya berumur dua puluhan akhir itu tersenyum, lalu mengembalikan kunci mobil gue. “are you okay?”

            Gue terus mengangguk, rasanya ingin segera kabur dari kafe ini segera. Dari arah belakang gue tahu Fathan mengikuti. Sempat terdengar suaranya yang meminta jalan kepada beberapa pengunjung kafe yang cukup padat.

“Kamu dikejar seseorang?” Cowok berkemeja putih itu negur lagi.

Gue menggeleng cepat, “ng.. nggak. Tapi agak buru-buru.”

“Oh. Oke.” Dia tertawa kecil. “kalo gitu ngobrolnya lain kali aja.” ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Narendra.”

“Tiara!” Suara Fathan terdengar dari jauh. Gue meneruskan langkah dengan terburu-buru, sedang nggak mau meladeni Fathan. Mungkin akan butuh beberapa hari sampai jantung gue normal kembali seperti semula.

“Tiara..” kali ini suara Narendra. “hati-hati di jalannya. Jangan tabrakan lagi.” ia tersenyum. Senyum yang sama menawannya dengan senyum Fathan.

*

(Catatan: Narendra adalah nama tokoh Tuan Arsitek-nya Kak @adit_adit)

(Visited 23 times, 1 visits today)

3 thoughts on “KEJUTAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *