Coretan

Alasan Mengapa Saya Menyayangi Ayah

Barusan buka twitter dan menemukan tweet ini nyempil di RT salah satu teman..

RT @damnitstrue: R.I.P to all the fathers who couldn’t be around and the soldiers spending Father’s Day away from their families 🙏💚❤

Ternyata lagi pada merayakan father’s day.
Hari Ayah sedunia.

Mungkin agak terlambat kalau saya menuliskan postingan ini sekarang, berhubung yang lainnya heboh dari Minggu pagi, sedangkan sekarang sudah pukul dua belas lewat dan terhitung Senin.

Tapi nggak apa-apa, ya.
Saya ingin saja 🙂

Tulisan ini saya mulai dengan judul: Alasan Mengapa Saya Menyayangi Ayah.
Mungkin ada beberapa yang sempat nyeletuk, beberapa anak begitu mengagung-agungkan ayah mereka, padahal seorang ibu lebih banyak berjasa atau segala macamnya.

Biar saya koreksi dengan versi saya.
Ayah dan Ibu, keduanya punya porsi masing-masing dalam perkembangan diri seorang anak. Memang, Ibu itu lebih punya ikatan batin dengan anak-anaknya, tapi di kasus yang berbeda, Ayah juga kadang punya peran besar.

Saya sangat menyayangi ayah saya.
Sederhana saja.
Karena beliau mengajari saya untuk berani bermimpi, sedangkan Ibu saya tidak.
Bukan berarti saya tidak menyayangi Ibu. Ibu mengajari saya hal lain yang tidak diajarkan Ayah.
Tapi dalam naik-turun hidup saya, bermimpi dan mewujudkan mimpi adalah salah satu hal yang membawa saya pada perubahan besar.
Ayah saya mengajari itu.
Maka izinkan saya berkata: beliau adalah lelaki terhebat yang pernah saya kenal.

Ayah mengajari saya bermimpi, bahwa jika kita menginginkan sesuatu maka idamkanlah. Kelak, akan selalu ada kesempatan untuk semua mimpi.

Saya suka membaca, ayah saya juga mendukungnya semenjak saya kecil. Beliau rajin membelikan buku-buku, bahkan komik anak-anak yang menurut Ibu saya cuma nambah-nambah sampah di rumah.

Jika dulu ayah saya berpikiran sama seperti itu, mungkin sekarang saya tumbuh jadi perempuan yang berbeda. Tapi karena Ayah saya getol mendukung hobi membaca saya, maka sekarang saya di sini sebagai perempuan yang suka membaca dan menulis.

Saya menyayangi ayah saya.
Beliau bilang, saya harus kejar semua cita-cita saya. Beliau bilang, saya tidak boleh berhenti.
Novel pertama saya diterima penerbit ketika ayah saya sakit keras. Hari itu, saya berhasil membuktikan bahwa buku yang selama ini saya minta bukan hanya jadi sampah di rumah, tapi bisa membuat saya menjadi seorang penulis. Hari itu, Ayah saya menelepon, ketika beliau tidak bisa lagi bangun dari tempat tidur. Hari itu, beliau bilang bahwa beliau baru mendengar kabar tentang novel saya dan beliau bangga sekali. Ayah saya bilang, ia percaya bahwa saya akan terus menuliskan kisah-kisah hebat lainnya kelak.

Itu kalimat yang tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup.
Itu kalimat yang selalu bisa membuat saya menangis ketika mengingatnya.
Iya.
Itu 🙂

Karena itu saya menyayangi Ayah.
Saya ingin beliau hidup seribu tahun lagi, melihat saya mencapai apa yang selama ini kami cita-citakan berdua, mendengarkan cerita absurd saya ketika pulang ke rumah, membangunkan saya di hari Minggu pagi untuk nonton Doraemon, dan kabiasaan lainnya.

Saya ingin.
Tapi Semesta bilang tidak.
Jadi, saya kemudian belajar menyederhanakan keinginan itu menjadi: semoga Ayah bahagia di surga.

Selamat hari Ayah.
Peluklah lelaki hebat itu selagi kalian bisa.

Pic by @ThePopoh

Posted from WordPress for Android

(Visited 34 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Alasan Mengapa Saya Menyayangi Ayah

  1. Huah..
    Aku jadi inget ada masanya aku sering kebangun pas malem-malem dan gak bisa tidur lagi.
    Begitu liat bokap ke kamar mandi atau berdoa di subuh (yang sering dilakukan), baru bisa tidur lagi.
    Cuma liat dia lewat dari pintu kaca kamar. (iya, keren kan, kamarnya pake pintu kaca semacam di mal)
    Bokap – nyokap itu incomparable lah. Kalau buat bokap, I will always be his princess. Sementara nyokap, I will always be her baby XD
    Ayo, sayang ayah, sayang ayah, sayang ayah~~~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *