Coretan

Menjadi Sombong dan Centil di Jakarta

Siang ini ngobrol ngalor ngidul dengan geng BBI Jabodetabek kemudian topik nyerempet ke teman-teman yang agak rese mengomentari status socmed. Ada yang ‘prospek’ temannya untuk memilih presiden tertentu, ada juga yang kalau pesannya ndak dibalas langsung marah-marah nuduh sombong.

Lalu Teh Indri cerita, bahwa dia pernah dianggap sombong sama salah satu teman dan kalimatnya nyerempet bawa-bawa Jakarta.

‘Mentang-mentang udah jadi orang Jakarta’

Ini lucu, deh, buat gue :p
Soalnya gue juga pernah mengalami hal yang sama. Bukan dianggap sombong, sih. Tepatnya dianggap berubah dan jadi centil atau something like that semenjak jadi anak Jakarta.

‘Lu banyak berubah, ya, sejak jadi anak Jakarta’

Kurang lebih begitu kata seorang teman lama –ralat, seorang sahabat karib dulunya.

Gue nggak tahu apa korelasinya seseorang dianggap berubah dengan kota Jakarta. Mungkin karena di mata orang kota lain, Jakarta itu sarangnya kehidupan serba mewah dan kelas atas. Well, kalian tidak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Gue kasih tahu aja, cuma di Jakarta, ada rumah-rumah kardus kumal menumpuk di daerah tidak jauh dari perkantoran mewah.

Gue kasih tahu aja, nggak semua orang Jakarta itu sombong.

Gue kasih tahu aja, nggak semua orang Jakarta hidup blink-blink. Banyak juga yang sederhana.

Gue kasih tahu aja, kalau-kalau kalian lupa. Pak Joko Widodo yang teramat sangat sederhana dan rendah hati itu pernah jadi gubernur DKI Jakarta.

See?
Itu beberapa contoh.

Menjadi sombong dan berubah centil –kalau kalian memang menganggapnya begitu, menurut gue sama sekali nggak ada hubungannya dengan kami yang tinggal di ibukota.

Ya, kami warga Jakarta.
Terus kenapa?
Kalian mengira, Jakarta mengajari kami untuk sombong? Mengajari para perempuan untuk wajib centil dan berubah suka dandan?

Well, yang ini salah besar 🙂

Kemudian gue tahu, temen gue itu menganggap gue berubah karena gue udah nggak cuek lagi sama penampilan.
Dulu, dia menganggap kami ‘sama’. Dua orang cewek cuek penampilan dan memang dia tomboy. Gayanya kayak cowok. Makanya mungkin ketika melihat gue yang sekarang, dia menganggap gue centil, hahaha. Padahal gue nggak dandan berlebihan, sejauh ini gue merasa biasa-biasa saja.

Sekali lagi, ini ndak ada hubungannya dengan ‘menjadi anak Jakarta’ :p

Ini cuma sebagian dari siklus hidup dan perubahan-perubahan kecil :p

Begitulah.
Kunjungilah Jakarta sesekali, gue jamin, kalian tidak akan berubah karena kota ini.

Seseorang berubah karena ia ingin, bukan karena pengaruh kota di mana ia berpijak.
🙂

Posted from WordPress for Android

(Visited 364 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Menjadi Sombong dan Centil di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *