Hari ini saya membereskan beberapa barang, mencuci barang-barang lama yang sudah mulai berdebu dan membuang beberapa lainnya. Di antara tumpukan peralatan makan, saya menemukan sendok yang pertama kali saya beli ketika tiba di rantau. Waktu itu sore hari, saya sendirian, nggak punya peralatan printilan kayak gitu dan buru-buru ke hipermarket untuk membelinya. Entah masih jetlag atau masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan situasi baru, saya kebingungan setibanya di sana. Saya ambil satu bungkusan yang berisi sepasang sendok dan garpu.

Dari penampilannya, saya bisa merasa bahwa sendok itu sedikit lebih besar ketimbang sendok-sendok lain yang biasa saya gunakan di rumah. Tapi toh saya tetap membelinya. Setelah pulang dari sana, saya kemudian lapar dan memutuskan makan –ya,ya, tentu saja dengan sendok baru tadi. Ternyata sendoknya memang agak gede dan kurang nyaman dipakai. Entah mereka menjualnya untuk tujuan apa. Mungkin sebenarnya untuk sendok lauk, bukan untuk makan nasi. Itu kali pertama saya merasa sedih jauh dari rumah. Saya merasa bingung dan sendirian. Hari itu saya makan sambil menangis, menimbang-nimbang untuk merajuk dan meminta pulang –karena sejatinya saya hanya anak manja kesayangan ayah yang sok ingin pergi jauh dari rumah.

Tersangka utama yang berhasil bikin saya begitu sedih di hari-hari pertama :))
Tersangka utama yang berhasil bikin saya begitu sedih di hari-hari pertama :))

Tapi sebenarnya, hidup adalah perkara pilihan.

Jika saya sudah memutuskan memilih satu hal, maka saya harus bertanggungjawab terhadap opsi yang sudah saya pilih sendiri. Kalau kata Fergie, big girls don’t cry.

Walau saya ingin sekali meralat, big girls bukan bidadari. Bukan malaikat. Perempuan dewasa juga bisa menangis jika ia sedih, karena itu sangat manusiawi.

Saya kemudian diam beberapa hari, mencoba beradaptasi dengan suasana baru di sekitar. Saya nggak punya teman sama sekali waktu itu, belum sempat berkenalan dengan orang-orang lainnya. Hingga kemudian waktu berlalu sekian hari, sekian minggu, sekian bulan, kemudian tahun. Saya mulai mendapat banyak teman, banyak kenalan, mulai berani gabung komunitas dan ikut kodpar-kopdar.

Lalu semuanya terasa begitu biasa.

Seperti saya sudah menjalani ini sekian puluh tahun.

Ternyata kita hanya perlu terbiasa, dan tentu butuh waktu untuk itu. Butuh waktu yang tidak instan untuk bisa berbaur dengan hal baru. Butuh waktu untuk membuktikan pada dunia, bahwa saya memperjuangkan sesuatu yang telah saya pilih.

Memperjuangkan..

Saya selalu memperjuangkan apa yang sudah saya pilih; jalan hidup, cinta, lelaki, penerbit tujuan, naskah yang ditulis, segalanya. Kalau bukan saya yang memperjuangkan bagian-bagian dari hidup saya, memang siapa lagi?

Cuma bedanya, mungkin tidak semua yang kalian perjuangkan akan berhasil. Tapi gagal lebih baik ketimbang tidak mencoba sama sekali. Orang yang gagal adalah seorang pejuang, sedangkan orang yang tidak pernah mencoba adalah seorang penakut, dan orang yang tidak berani memperjuangkan pilihannya sendiri adalah seorang pengecut.

Bukankah kasarnya seperti itu?

Jadi begitulah. Setelah berhasil survive dengan kehidupan baru ini, saya pengin mencoba hal-hal lain. Barangkali jiwa petualang ayah saya mulai terasa, hahaha. Saya pengin mencoba ini dan itu, ke sana dan ke situ. Suatu hari akan saya realisasikan. Suatu hari akan saya coba segala hal yang tidak pernah saya coba sebelumnya.

Karena hidup terlalu membosankan jika terus dihabiskan di dalam rumah, untuk itulah Semesta menyediakan alam dan dunia luar untuk dilihat 🙂

Jadi, apa pilihan hidupmu selanjutnya?

(Visited 22 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *