Untitled

Saya suka sedih setiap kali membaca tweets Mbak Fira Basuki mengenai almarhum suaminya, Mr. Amplitudo atau Hafez Baskoro. Apa yang terlintas dalam benak kalian ketika membaca tweet seperti itu? Suaminya dijemput pemilik hidup dan dia tidak bisa bertemu lagi selamanya. Kalau saya, sih, antara sedih dan miris. Sedih membaca sajak-sajaknya, merasa miris di saat yang bersamaan -mengapa orang-orang yang cintanya sejati malah diberikan umur yang begitu pendek oleh Semesta, sedangkan mereka yang cintanya palsu dan penuh kebohongan malah merajalela.

Mengapa Semesta tidak memperpanjang umur beliau, agar mereka bisa lebih lama bersama?

Saya suka berpikir sendiri, kasihan sekali mereka-mereka yang seperti itu. Saling cinta tapi dipisahkan maut. Walau memang, lelaki yang paling mulia adalah lelaki yang cintanya dipisahkan maut, bukan dipisahkan wanita lain. Saya mengakui itu, meyakini itu. Bagi saya, lelaki yang setia pada satu wanita hingga akhir hayatnya adalah lelaki yang hebat. Mungkin, tidak semua lelaki mampu seperti itu. Wanita bisa cukup dengan satu lelaki, namun lelaki jarang bisa cukup dengan satu wanita. Tapi mengapa yang sedikit itu malah harus diambil pergi?

Menyedihkan? 🙂

Cukup menyedihkan..

Kemudian, keesokan harinya, saya membaca tweets ini dan tersenyum sendiri..

RT @falafu: Seseorang yang baru selalu lebih menarik, tapi tidak selalu mampu memberimu lebih banyak hal baik.

Teringat kata-kata seorang teman, “lelaki itu petualang, mereka tidak akan cukup dengan satu wanita. Mereka selalu merasa penasaran dengan wanita lain selain pasangannya. Sedangkan wanita, bisa setia dengan satu lelaki saja. Nah, ketika si lelaki mulai iseng dengan wanita lain, pasangannya adalah orang yang paling sedih dan kecewa. Bahkan ketika si pasangan memutuskan pergi, si lelaki akan merasa biasa saja, toh ia punya yang baru. Tapi seiring waktu, ia akan merasakan sendiri, bahwa ada hal-hal yang hanya mampu diberikan oleh pasangannya. Kemudian ia menyesal, tapi semuanya sudah terlambat. Ketika ia ingin kembali, wanitanya sudah tertawa bersama lelaki lain.”

Saya mencermati kalimat itu baik-baik, kemudian seketika ingin tertawa. Bukan, bukan karena lucu. Tapi karena saya merasa, kalimat itu benar juga.

Jangan sampai penyesalanmu terlambat, kemudian tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki segalanya. Perjuangkan saja apa yang sepatutnya kamu perjuangkan. Bahagiakan saja ia yang sepatutnya kamu bahagiakan. Cintai pasanganmu seolah-olah ini adalah hari terakhir kalian bersama. Barangkali, jika suatu kali dia memutuskan pergi, selamanya dia tidak akan pernah mau kembali lagi.

Dan kamu akan menghabiskan seluruh sisa hidupmu dengan penyesalan.

Jadi mengapa kita harus menunggu penyesalan datang, padahal sebenarnya bisa memperjuangkan segalanya sebelum itu terjadi?

Entahlah.

Manusia 🙂

(Visited 56 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *