Tentang Menulis

Tahap Paling Menyenangkan dalam Menulis Novel Itu…

RT @Kopilovie: Tahap paling menyenangkan dalam menulis novel adalah menyusun outline-nya. Menentukan tokoh seperti apa yg pengin ditulis..

Tadi menuliskan itu di twitter, karena sedang coret-coret untuk outline baru. Bedanya, kali ini  lebih menyenangkan, karena yang gue coret itu adalah outline thriller setelah Satan Never Sleep dicetak. Sebenarnya tadinya, Satan Never Sleep itu cuma iseng pengin nulis hore –membuang waktu luang yang kebetulan ada (beberapa bulan lalu).

Salah satu yang menyenangkan dari menulis hore adalah; nggak perlu mengikuti selera pasar (karena genre tulisan gue yang sebenarnya bisa dibilang nggak terlalu banyak peminatnya), nggak harus pusing mikirin revisian (lo adalah Tuhan atas karya lo sendiri, sepenuhnya. Pada self publishing, lo nggak wajib mengikuti kata siapa-siapa untuk mengubah cerita menjadi begini dan begitu), lebih bebas menuliskan apa saja.

Maka setelah SNS selesai dicetak (dan sekarang menjelang PO kloter kedua bersama beberapa teman yang pengin baca juga), gue mendadak dapat ide untuk menulis novel baru. Genrenya masih sama, tentu thriller. Tema besarnya juga nggak jauh-jauh, masih satanic church. Masih satu tema dengan SNS yang sebelumnya.

Nah, di sini.. tahap paling menyenangkan dalam menulis sebuah novel adalah tahap membuat outline-nya, terutama ketika yang lo tulis itu adalah novel dengan genre favorit. Barangkali semangat untuk buat outline dan risetnya bukan main, ya? 🙂

Malam ini gue baru saja menyelesaikan halaman ke 23 outline baru gue. Judulnya The Adams. Masih tentatif, belum pasti akan pakai judul itu, tapi yaa memang sementara pakai itu aja –lebih mending ketimbang nggak ada judulnya sama sekali :p

Apa yang perlu ditulis ketika menyusun outline?

Kalau buat gue, sih, ada 4 poin utama yang harus ada dan sisanya hanya poin-poin tambahan:

  1. Sinopsis singkat (maksudnya sinopsis dalam bentuk narasi, ya. Dibilang singkat, sih nggak juga, soalnya di sini isinya sinopsis dari awal cerita sampai tamat. Gue menyebutnya sinopsis singkat saja, karena di sini nggak ada detail scene yang akan ditulis).
  2. Pengenalan tokoh utama (sebutkan siapa saja tokoh-tokoh utama yang berperan dalam novel tersebut, lengkap dengan deskripsi segala hal mengenai diri mereka. Malah kalau lo punya gambaran tentang mereka dari foto artis atau siapaaa gitu, akan lebih bagus lagi. Jadi lo bisa membayangkan wajah-wajah itu ketika menulisnya)
  3. Pengenalan tokoh pendukung (isinya sama kayak yang di atas, cuma bedanya ini khusus tokoh pendukungnya aja, ya. Orang-orang yang porsinya tidak terlalu banyak dalam cerita, tapi sebenarnya penting dalam membangun ceritanya).
  4. Sinopsis per bab (nah, ini yang penting banget. Dari prolog, bab satu, bab dua, hingga bab sekian sampai epilog, semuanya lo tulis dengan detail di sini. Semua scene juga ditulis di sini dengan lengkap. Jadi, ketika lo mulai menulis, lo akan berpatokan dengan bagian ini. Nantinya bisa ditambah adegannya atau bahkan dicut sesuai kebutuhan. Tergantung gimana maunya si penulis ketika outline itu dibaca lagi).
  5. Catatan tambahan (ini nggak wajib ada, tapi biasanya di outline gue ada. Gue biasa menyelipkan catatan tambahan yang isinya catatan detail-detail kecil yang nggak dimasukkan ke dalam sinopsis narasi atau sinopsis per bab. Detail kecil yang sebenarnya sangat-sangat simpel, tapi bisa fatal kalau lupa gue tuliskan dalam draft).

Kurang lebihnya begitu. Dari kelima poin itu aja, biasanya outline yang gue tulis berkisar antara 15-20 halaman lebih. Kadang 18, kadang 15, kadang 23 seperti sekarang. Tergantung kepadatan ceritanya.

Berikut sedikit bocoran. Yang kangen lihat gue nulis thriller lagi, kenalan dulu sama anak manis ini. Namanya Cassie Adams.

Cassie

Dan cewek manis bak kucing betina di bawah ini, namanya Helena Adams.

helena

Itu dua dari 9 tokoh utama di calon novel baru, semoga ada waktu untuk ditulis segera. Biasanya kalau nulis hore-horean, semangat gue jadi berkembang dan mood gue bagus banget 😐 Terakhir, SNS gue tulis seminggu penuh. Belum termasuk editing segala macem, cuma nulisnya aja. Seminggu penuh untuk satu novel udah rekor baru buat gue, yang jelas ke depannya gue nggak akan menulis kurang dari seminggu, hasilnya bisa nggak maksimal. Seminggu sudah yang paling minimal, deh, kalau buat novel. Kecuali buat cerpen atau flashfiction, sih, ya~

Kapan-kapan, deh nulis lagi tentang outline. Sekarang nggak bisa, karena yang ini bahkan belum ditulis 😐 Nanti pas udah dicetak bisalah contoh outlinenya di share. Muahahaha.

Sekali lagi, buat yang kangen lihat gue nulis thriller, sementara beli SNS dulu aja sana, sambil nungguin novel yang ini ditulis :p

 

(Visited 85 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *