Coretan

Ternyata Pipi Saya Tidak Gembul Lagi

Barusan, beberapa foto dishare teman-teman usai kopdar bareng tadi sore, kemudian saya bertanya pada salah satu dari mereka sambil menyodorkan foto saya 2 tahun lalu, “sudah nggak segembul itu, kan?”

Dia bilang tidak.

Jadi begitulah, ternyata pipi saya sudah tidak gembul seperti dulu lagi. Wajar, sih. Ada banyak hal yang bisa membuat fisik manusia berubah, salah satunya mungkin kesedihan, kekesalan, tekanan, pikiran, dan macam-macam -an yang nggak enak itu.

Saya nggak tahu, punya saya jenisnya yang mana. Yang manapun, sama saja, kan? Sama-sama berhasil bikin pipi saya agak kempes ketimbang beberapa tahun lalu –ketika (saya pikir) saya sudah bahagia dan memiliki semuanya.

Tapi kemudian tiba-tiba saja semuanya pergi. Wush! Seperti angin yang lewat waktu mendung dan mau hujan. Datang selewat, lalu pergi lagi. Hehe. Yang pertama dan tidak bisa saya tentang namun selalu saya kenang, adalah kepergian Papa. Tidak bisa saya tentang, tapi akan selalu saya kenang segala hal tentang beliau. Ketika itu, saya pikir, saya akan baik-baik saja. Bahkan saya pikir begini –saya akan segera membaik, lebih cepat dari yang saya targetkan, karena saya masih punya orang-orang yang saya sayangi. Saya punya seorang sahabat yang paling saya sayangi –melebihi teman-teman yang lain, saya punya pacar –lelaki kedua yang saya cintai setelah Papa.

Tapi kemudian, Semesta sepertinya sedang bercanda.Β  Satu per satu Ia perlihatkan pada saya. Ia memperlihatkan, bahwa apa yang saya lihat dan duga, bukan apa yang terjadi sebenarnya.

Hal yang paling menyakitkan bukan dimusuhi orang.

Bukan.

Hal yang paling menyakitkan yang pernah saya tahu adalah ketika kamu mendapati bahwa orang-orang yang paling kamu sayangi selama ini ternyata sama sekali tidak pernah kamu kenal dengan baik. Kamu mengira kamu mengenal mereka, nyatanya tidak. Kamu mengira, mereka menyayangimu seperti kamu menyayangi mereka, seperti wajah-wajah dan senyum-senyum yang selama ini mereka tunjukkan untukmu, padahal tidak.

Mereka adalah orang-orang yang selalu tersenyum untukmu, kerap kali berkata begini, “kalau ada masalah cerita aja, pasti gue bantu semampu gue. Mana mungkin gue biarin lo susah, lo itu udah kayak sodara sendiri.” atau barangkali begini, “jangan nangis, kan ada aku.. Aku sayang kamu blablabla…” untuk kemudian menusukmu begitu saja.

Musuhmu sendiri tidak akan pernah berbuat begitu.

Mengapa?

Karena seorang musuh lebih jujur dalam membenci. Ia membencimu, kamu tahu itu. Ia akan selalu menjatuhkanmu, kamu juga tahu. Ia akan menusukmu dari depan, kamu selalu tahu dan sudah bersiaga kapan saja.

Tapi, orang-orang yang kamu sayangi (dan kamu kira menyayangimu juga), biasanya menusukmu dari belakang. Kamu tidak akan tahu, karena kamu terlalu percaya, terlalu mencintai mereka. Menganggap bahwa secuil pun tidak akan ada niat mereka untuk melukaimu.

Tapi terkadang ini salah besar.

Terkadang, mereka malah melukaimu lebih parah ketimbang musuhmu sendiri. Karena mereka adalah orang-orang yang begitu kamu cintai.Β  Mereka tahu segala hal tentang dirimu, bahkan cara terbaik untuk membuatmu jatuh dan hancur berkeping-keping. Seorang sahabat baik yang kamu sayangi melebihi saudara, tahu bagaimana caranya melakukan itu semua. Seorang lelaki yang kamu cintai setelah ayahmu, bahkan lebih tahu caranya bikin kamu serasa jadi mayat hidup.

Lalu mau apa lagi?

Tidak ada.

Hal yang bisa kita lakukan hanya menggunakan logika yang tersisa dalam kepala. Manusia memang begitu, tidak ada yang bisa mengubah. Manusia bisa menjadi bangsat kapan saja –bahkan bagi orang-orang terdekatnya sendiri.Β  Gunakan logika, gunakan isi kepala. Yang bisa dilakukan hanya terus maju dan menjalani segala hal yang harusnya dijalani.

Jadi, setelah menjalaninya beberapa lama, saya merasa tidak sekacau dulu. Pipi gembul kesayangan itu memang tidak pernah kembali, tapi setidaknya pelan-pelan hati saya sudah kembali lagi.

Butuh waktu cukup lama dan campur tangan banyak orang di dalamnya. Begini, ketika kamu melukai seseorang, secara tidak langsung kamu merepotkan orang-orang terdekatnya –orang-orang yang benar-benar menyayanginya dengan baik. Ibu saya berulang-ulang bertanya, kenapa saya banyak diam, kenapa saya nggak bawel lagi, kenapa saya malas keluar kamar, kenapa saya begini dan kenapa saya begitu. Abang saya, sibuk memikirkan bagaimana caranya bikin wajah saya nggak seperti zombie lagi, teman-teman saya sibuk ikut menangis ketika saya bercerita. Mereka semua, yang sebenarnya membuat saya begitu segan. Mengapa harus membuat orang lain terbebani dengan hal yang tidak seharusnya? Namun sepertinya itu semua memang sepaket. Ketika kamu menyakiti seseorang, kamu menyakiti orang-orang yang menyayanginya –sekali lagi, walau kadang secara tidak langsung atau bahkan kamu tidak cukup cerdas untuk menyadari.

Daannn, setelah sekian lama, akhirnya belakangan ini saya merasakan hati saya benar-benar sudah kembali baik. Saya mulai tertawa, mulai keluar, mulai banyak makan, mulai bawel, mulai begini dan begitu. Banyak, ada banyak orang yang berjasa atas semua tawa saya sekarang. Mereka adalah orang-orang yang tidak saya sangka-sangka. Bahkan dulunya asing sekali.

Kadang-kadang, siapa yang menyakiti, eh malah siapa yang datang menghibur dan membuatmu tertawa kembali.

Hidup itu suka lucu πŸ™‚

Dan saya baru saja dicandai habis-habisan πŸ™‚

Dan sekarang, walau pipi saya nggak segembul dulu lagi, tapi hati saya mulai baik-baik saja.

Rasa-rasanya begitu. πŸ™‚

Oh iya, jangan pernah percaya apa yang terlihat mata. Jangan saja.

(Visited 39 times, 1 visits today)

6 thoughts on “Ternyata Pipi Saya Tidak Gembul Lagi

  1. Ketika judul tulisannya ada kata ‘gembul’, saya pikir isinya akan cerita tentang cokelat yang dicampakkan di sudut kulkas. Ternyata saya salah. Dan well,,, kesalahan yang saya syukuri, karena pada akhirnya tulisan ini berhasil menyentuh saya. Terimakasih Ovie. (Iya, itu nama panggilannya saya tebak saja, hehe) πŸ˜€

  2. Kamu masih gembul kok! *tusuk2 pipinya

    Aku pernah baca atau nonton atau denger ini: “Saat kamu sedang sukses, teman-temanmu tahu siapa kamu sebenarnya. Saat kamu jatuh, kamu tahu siapa sebenarnya temanmu.”

    Jadi, sekarang aku tahu kamu mbem *cubit pipi blekbebi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *