Coretan

Jangan Mengomentari Apa yang Tidak Seharusnya Dikomentari

Selama main socmed, kalian pernah dengar kalimat ini, nggak:

“Kok dia unfollow gue, sih?!”

“Kok dia deactive account, sih?”

“Kok TL-nya rese banget?!”

Semacam drama socmed, yang sekarang berkembang menjadi drama pilpres, seiring boomingnya pilpres 2014 di jagat nyata maupun dunia maya.

“Kok malah pilih 1? Kan dia blablabla..”

“Lo kenapa dukung 2? Kan capresnya blablabla.”

atau

“Lo golput? Yang lain aja blablabla.”

Nah, itu cuma sekian dari banyak drama-drama lainnya. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah, menurut opini saya, semua yang kalian pertanyakan itu adalah bagian dari hak azazi manusia. Mengapa seseorang mematikan akunnya? Mengapa seseorang unfollow anda? Mengapa seseorang report anda as spam? Daripada ngoceh, mending mikir dulu, anda pernah menyakiti dia atau tidak? Kalau merasa tidak, coba diingat lagi, anda ANNOYING atau tidak di sosial media?

Kalau anda merasa kesal di-unfollow seseorang, saya cuma bisa pukpuk sambil tertawa miris. Semua hal yang diciptakan oleh founder media sosial pasti ada gunanya, termasuk tombol unfollow, mute, deactive dan report as spam. Kenapa harus marah atau kebakaran jenggot ketika seseorang unfollow kita? Kalau saya sih simpel, unfollow balik. Tanpa harus ribut sana-sini, mengumumkan si A baru saja unfollow saya dan saya merasa tidak punya salah, mungkin si A sombong, mungkin si A sok selebtwit, dan lainnya. Nggak guna menghakimi orang lain. Kalau selama ini dia betah follow anda, kemudian dia mendadak unfollow, pikirkan sendiri apa alasannya.

Begitu juga dengan drama pilpres 2014 ini. Saya termasuk orang yang netral dalam masalah politik, karena saya sadar diri bahwa saya bodoh dalam hal ini. Kemudian menjelang pilpres, banyak yang mendadak pinter politik sampai siang malam dibahas terus di linimasa twitter dan beberapa jejaring sosial lainnya. Nggak masalah, kalau kalian kampanyekan idola kalian. Siapa? Pak Prabowo? Pak Jokowi? Saya ndak punya masalah sama mereka berdua. Silakan kampanye secara kreatif, serukan kelebihan-kelebihan mereka. Tapi sadarkah kalian, ketika kalian menjelek-jelekkan kubu lawan atau ketika merasa jumawa bahwa idola kalian paling pantas dipuja, apa diri kalian sudah paling baik?

Begini, saya jelaskan singkatnya:

Kubu 1 ndak suka sama kubu 2, kemudian muncul beberapa berita jelek yang kabarnya fitnah untuk kubu 2.

Kubu 2 kesal sama capres kubu 1, kemudian membully-nya di timeline, apalagi sewaktu nonton debat capres.

Untuk kubu 1: sadarkah kalian bahwa cara itu salah? Saya nggak tahu, ya, kalau kalian fanatik atau apa. Tapi menyebarkan berita tidak benar atas pihak lawan, bisa dibilang tindakan yang salah, sangat menyalahi aturan. Kalau menurut kubu 2 capres kalian itu pelanggar HAM, maka dengan bersikap santun dan baik ketika kampanye, saya kira kalian akan menyelamatkan reputasi beliau.

Untuk kubu 2: kalian merasa lebih baik karena Pak Jokowi tidak punya track record jelek? Pak Jokowi memang baik, saya akui itu. Tapi sekali lagi, kalian merasa lebih baik? Mari kita ngaca ke peristiwa beberapa hari belakangan. Seorang teman saya dipandang seperti alien karena mendukung kubu 1. Hanya karena dia mendukung kubu 1 dan orang di sekitarnya pendukung kubu 2. Bahkan kabarnya ada yang diunfollow belasan teman cuma karena mendukung kubu 1 dan teman-temannya tidak suka. Saya tanya sekali lagi, apa kalian merasa lebih baik hingga bebas bully Pak Prabowo dan Pak Hatta di linimasa?

Oke, katakanlah saya ini sedang sok suci. Tapi saya memandang semuanya dari kacamata seorang warga yang netral. Ini kejutan berikutnya, saya golput. Kenapa? Karena saya eneg. Saya kenyang. Saya respek sama Pak Jokowi yang memang baik dan rendah hati, metal dan gahul pula. Sebagai anak muda nan sableng, saya ngefans sama beliau dan Pak Ahok (yang dulunya berduaan mulu memimpin DKI Jakarta). Tapi di sisi lain, saya tidak terlalu mengagungkan. Terlalu banyak berharap akan membuatmu kecewa. Terlalu berlebihan kampanye sampai memaksa orang untuk mengikuti pilihanmu, termasuk salah satu pelanggaran HAM juga, deh, kayaknya. Oh, satu lagi. Memandang orang yang memilih Prabowo, tidak sepaham denganmu, atau orang-orang yang golput seolah mereka alien, juga pelanggaran HAM.

Kalian tidak punya hak meminta seseorang wajib memilih. Ikut pilpres atau tidak, sepenuhnya hak personal seseorang. Terlebih kalau kalian mendukung kubu 2, nah itu dia. Bukannya Pak kubu 1 itu menurut kalian seorang pelanggar HAM berat? Lalu ketika kalian memandang orang-orang golput sebagai sesuatu yang salah, di mana letak penghargaan kalian terhadap HAM orang lain? Tanya kenapa~ *iklan rokok*

Ketika ada beberapa, pasti ada saja orang yang ingin berada di tengah-tengah. Enggan memilih semuanya. Memilih sesuatu yang berbeda.

Anggaplah begini, Pak Jokowi itu cokelat, Pak Prabowo itu kacang. Awalnya, saya senang sekali makan cokelat, hingga saya bertemu teman yang penggemar cokelat level dewa. Dia menggebu-gebu bilang bahwa cokelat enak, sehat, dan sebagainya, lalu memaksa saya makan cokelat tiap menit. Apa efeknya?

Saya akan muntah.

Karena jadinya berlebihan. Efek lebih lanjut, bisa-bisa saya berhenti makan cokelat dan beralih ke kacang –walau awalnya saya sama sekali ndak suka kacang.

Saya hanya tahu politik dari kulit luarnya saja. Tahu, saya tahu Pak Jokowi itu rendah hati. Siapa yang ndak tahu? Saya mendengar track record kubu 1 juga dari beberapa teman. Tapi saya lebih suka netral dan tidak berkomentar apa-apa. Saya tidak suka mengomentari apa yang tidak saya ketahui dengan jelas. Dan ketika diharuskan melakukan sesuatu (seperti memilih), saya tidak akan melakukannya jika saya tidak ingin.

Contoh berikutnya yang agak berat. Ayah saya yang seorang agnostik –entah atheis, saya tidak paham, tidak pernah terlihat ke rumah ibadah setelah belasan tahun kami tinggal serumah. Saya resah. Sewaktu kecil saya resah, apa ayah saya tidak takut Tuhan? Guru agama saya mengajarkan begini dan begitu. Tapi setelah beranjak gede, saya mulai paham pilihan tersebut. Ayah saya hanya tidak memilih apa yang dipilih kebanyakan orang. Beliau pernah bilang, “kalau kamu berdoa, berdoalah hanya pada Tuhan, jangan pada Setan.” padahal beliau tidak pernah mengajari saya ilmu agama apapun.

Ketika itu saya sadar, barangkali beliau memang percaya Tuhan ada, hanya saja tidak menemukan Tuhan yang pas dengan persepsinya. Kemudian saya melihat orang-orang yang katanya beragama, tapi senengnya cari ribut dan ngobrak-abrik warung orang di bulan puasa (padahal sekian persen penduduk negara ini adalah non muslim, yang jelas ndak puasa di bulan suci Ramadan. Apa cuma non muslim yang harus menghormati puasa kalian? Mengapa tidak sesekali belajar menghormati mereka juga dengan tidak mengganggu warung yang tertutup hordeng itu?). Atau yang sinis terhadap agama dan suku lain. Saya bertanya-tanya, begitukah wajah-wajah orang yang (katanya) beragama? Ayah saya yang tidak beragama saja tidak pernah sekejam itu. Mengutip kalimat seorang tokoh agama yang mungkin sudah sangat familiar, “ketika kamu berbuat baik, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Duh, saya suka sekali kalimat itu.

Jadi kadang-kadang, kita terlalu menghakimi orang. Mereka yang segelintir dan tidak memilih apa yang dipilih kebanyakan orang, dianggap aneh. Dianggap alien. Padahal belum tentu. Kita merasa ketika beramai-ramai maka kita sudah benar.

Ketika kita merasa paling benar, maka di sanalah letak sebuah kesalahan besar 🙂

Seorang teman pendukung kubu 1 bilang, “ketika pilpres, kita akan tahu siapa teman-teman kita sebenarnya.”

Lucu, ya, manusia itu 🙂

(Visited 78 times, 1 visits today)

6 thoughts on “Jangan Mengomentari Apa yang Tidak Seharusnya Dikomentari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *