#NgobrolSeru

#NgobrolSeru – Comfort Zone

image

Three gossips | Vector by Bazaar Designs | Edited

Hastag #NgobrolSeru tercetus ketika gue sama Kak Dinoy dan Chei lagi ngegrup di LINE. Jadi pertamanya gue mikir, gue sendiri sering bikin postingan yang berbau opini di blog, lalu mengapa gue nggak ngajak temen-temen pada nulis juga? Nanti pastinya kan ada macam-macam opini, yang lumayan asik untuk dijadikan perbandingan. Topiknya sendiri random dan kami sepakat ditentukan atas usulan salah satu dan disetujui ketiganya. Juga nggak ada deadline posting, intinya santai saja.

Nah, untuk edisi pertama ini, Kak Dinoy usul topiknya mengenai comfort zone aka zona nyaman. Nggak harus masalah tempat; bisa saja suasana yang seperti apa, waktunya kapan, atau mungkin seseorang yang membuat kita nyaman.

Kalau bicara tempat, ketika suntuk dan bosan sama banyak hal, gue suka ke TIM. Buat anak-anak Jakarta apalagi anak gaul Jakpus, pasti tahu TIM, kan, ya? Taman Ismail Marzuki, di daerah Cikini Raya. Gue suka TIM, karena di sana banyak orang-orang yang berkarya. Kalau orang di luaran rusuh dengan gosip dan obrolan nggak penting, di TIM biasanya gue lihat sekelompok orang lagi latihan teater, atau bapak-bapak tua penjaga toko buku yang lagi asik nulis. Atau kalau lagi nganggur seharian, gue keliling nyari event apa yang lagi tayang. Pernah suatu kali, gue dan Sisbel liat pameran lukisan di Galeri Cipta (masih dalam kawasan TIM). Begitu juga kalau tim Line Book Shop ada rencana rapat, kami suka dengan spot pohon rindang di belakang gedung H.B. Jassin.

Sungguh, TIM itu surga kecil di tengah hingar bingar Jakarta, selalu mampu membuat gue pengin balik lagi ke sana.

Selain TIM, biasanya gue suka pantai. Nggak terlalu sering ke pantai, tapi suka aja. Di pantai, kita bisa merasakan alam lebih dekat, bahkan sangat dekat.

Barangkali nanti akan bertambah tempat-tempat lain seperti taman, karena sejauh ini gue baru datengin Taman Menteng, padahal niatnya pengin banget ke Taman Suropati.

Yang jelas, mal sudah pasti bukan zona nyaman gue, karena gue orangnya ga suka sesuatu yang berisik.

Kalau ditanya suasana dan waktu, hal paling nyaman menurut gue adalah waktu me time. Keluar, tapi nggak bilang atau ngajak siapa-siapa. Kemudian melihat jalanan, orang lalu lalang, kesibukan Jakarta, nyobain jajanan tertentu, dan lainnya. Intinya, memberi waktu untuk diri sendiri.

Kalau ditanya sesuatu, hal yang paling membuat gue nyaman adalah denger musik. Karena musik dapat membawa kita pergi jauh dari hal-hal yang tidak ingin kita dengar.
Misal, kalau lagi di jalan dan ramai suara-suara yang menurut lo nggak penting, coba aja denger musik. Apalagi lagu favorit, mau diulang-ulang berkali-kali juga rasanya nggak bosan. Hihi.

Kalau ditanya siapa yang bisa bikin nyaman, nah, akan muncul beberapa nama. Tapi nggak usah, ya :p kayaknya bagian ini nggak penting-penting amat. Yang jelas, kalau kalian tahu gue biasa deket, bawel, dan becanda sama siapa, atau ketawa sama siapa, berarti dia ‘zona nyaman’ gue.

Menurut gue juga, inti dari zona nyaman itu sendiri adalah ‘sesuatu’, ‘ketika’, atau siapa yang bisa membuat hidup lo selalu ringan dan santai. Ketika suntuk, lo bisa ‘pulang’ ke zona nyaman, menikmati hal-hal yang menurut lo menyenangkan untuk kemudian semangat lagi.

Kalau lo merasa sudah ‘pulang’ pada sesuatu/seseorang yang tepat, tapi masih merasa ada yang berat atau nggak enak, maka berarti itu bukan zona nyaman lo. Think twice.

So, what/where/who’s your comfort zone?

Catatan:
Postingan Chei bisa dibaca di sini
Postingan Kak Dinoy bisa dibaca di sini.

Posted from WordPress for Android

(Visited 19 times, 1 visits today)

5 thoughts on “#NgobrolSeru – Comfort Zone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *