image

Friendster.com
Apa yang mampu kalian ingat dari jejaring sosial nan lawas ini? Apa dulu kalian pengguna aktif? Atau malah sebaliknya, kalian termasuk sebagian kecil orang yang punya akun di sana tapi bahkan tak mengerti bagaimana cara menggunakannya?

Subuh ini, saya iseng googling mengenai Friendster, dan dari Om Wikipedia, saya kemudian tahu bahwa situs Friendster bukanlah Friendster yang dulu lagi. Ia sudah berubah menjadi situs game, tepatnya pada 2011. Penggunanya masih banyak, tapi fungsinya berubah. Sedangkan akun-akun jejaring sosial yang sempat terdaftar dulu itu konon kabarnya otomatis dihapus.

Friendster, apa saja yang kalian ingat dari Friendster?
Saya, saya ingat bahwa dulu saya seorang Friendster addict yang punya teman ribuan, bahkan punya lebih dari satu akun. Iya, dulu juga saya ternyata pernah alay. Tak apa, itu sebagian dari proses kehidupan πŸ™‚

Hal lain yang saya ingat, saya suka Friendster karena ternyata jejaring sosial membuat saya tak lagi kesepian. Rumah saya sepi, saya tidak boleh keluar main dengan teman-teman dekat rumah (kecuali main sama teman sekolah), saya tidak pernah les apapun, jarang ada kegiatan, jadi saya merasa begitu sepi. Barangkali dulu, satu-satunya penghibur ampuh selain ponsel adalah TV kabel.

Tapi tetap saja, manusia butuh komunikasi dua arah. Televisi tidak bisa memberikan itu. Maka saya main Friendster. Di sana, waktu masa abege binti alay itu, saya menemukan banyak teman baru. Kami berkenalan, ngobrol, tertawa, bercanda, saya suka mereka semua. Saya suka seluruh kenangan itu termasuk drama-dramanya. Hahaha. Dan, ah, masa muda. Di jejaring sosial ini juga saya bertemu –saya tidak tahu bagaimana menyebutnya, entah.. mungkin bisa dibilang lelaki pertama, atau cinta pertama, atau cinta monyet.

Dia termasuk lelaki yang ajaib, karena kenyataannya kami bertemu di dunia maya, usia belia, tapi dia mampu menelusup ke dalam dunia nyata saya. Ibu saya jadi kenal dia, teman-teman sekelas kenal dia, dan dia… lelaki yang super sabar untuk abege cewek seperti saya (yang dulu itu).

Kami seumuran, tapi saya tidak bisa bilang dia lebih dewasa dalam bersikap, tidak juga. Saya hanya bilang, dia lelaki yang sabar. Karena nyatanya, dia juga kadang ribut dengan bule-bule di socmed (yang entah bahas apa, saya tidak paham. Mungkin game online), tapi tak pernah sekali pun selama bersamanya, saya menangis.

Rasanya memang tidak pernah.
Mungkin karena waktu itu kami sama-sama masih muda sekali, hidup belum terlalu berat, atau memang seperti anggapan saya, dia orang yang sabar.
Kami beda sekolah, tapi keep contact setiap hari nonstop. 7 hari seminggu, 1×24 jam :p

Kalau kalian ingat, dulu ada aplikasi ponsel berbasis java, namanya e-buddy, yang bisa digunakan untuk online YM seharian selama kuat beli paket internet. Di sanalah kami setiap hari bercerita ketika sedang di luar. Sesuatu yang selalu saya kenang darinya adalah ini: dia selalu ada.

Ketika saya kesal dan ingin marah karena masalah rumah atau sekolah, saya menghubunginya, dan dia selalu akan datang. Ketika saya marah, dia tidak pernah menyebut saya pemarah, dia hanya diam menunggu saya selesai cerita, kemudian menunjukkan gambar atau video lucu yang dicarinya di google. Kadang saya merasa, saya terlalu cepat marah. Tapi sifat turunan seperti ini susah sekali ditekan atau dihilangkan. Bersamanya, saya yang emosian ini, tak pernah merasa jadi gadis pemarah.

Bersamanya, saya tahu kekesalan memang harus diutarakan agar kita mampu merasa lega. Dia juga begitu, kerap kesal dengan beberapa teman sekolahnya, atau guru les, atau abangnya, kemudian menumpahkan ceritanya pada saya. Dia lelaki yang hebat, karena dia bisa membuat saya terus mengenangnya bahkan hingga beberapa tahun setelah kami pisah. Alasan pisah itu juga sebenarnya sederhana, yang kalau saya ingat lagi, saya seketika merasa lucu. Tapi, di usia belasan seperti itu, kita selalu berpikir pendek, bukan? πŸ™‚

Dia lelaki yang lucu. Kami sama-sama benci diatur peraturan sekolah, sama-sama kesal dengan tugas menumpuk. Saya perempuan yang kadang cemburuan. Saya cemburu pada klub bola mantan pacar saya yangterakhir, tapi ajaibnya lagi saya tak pernah cemburu pada anime favorit si cinta monyet ini. Entah mengapa. Yang jelas, dia tak pernah membuat saya merasa tersisih dari kepentingannya yang lain.

Dia memajang foto saya di Friendsternya, kerap dipuji cantik oleh beberapa teman perempuannya, dan ia bangga dengan hal itu. Dulu saya tidak tahu apa namanya perasaan seperti itu, tapi saya nyaman selama ada dia. Setelah pisah, kami putus kontak. Terakhir saya mengetikkan namanya di mesin pencari, saya mendapat info bahwa dia sudah kuliah di Jawa Timur. Barangkali hanya saya –selain teman sekolahnya, yang mampu melacak keberadaannya kembali, karena hanya saya yang tahu nama lengkapnya. Nama lengkap yang ia benci, yang tak pernah ia tulis di semua socmednya. Ia lebih suka pakai singkatan atau nama Jepang, seperti anime favoritnya.

Rasa-rasanya sekarang ia baik-baik saja, dan saya senang. Seorang teman bilang, “mengapa tidak mencoba menyapanya kembali?”

Saya tidak mau.
Saya tidak mau mengganggu apa yang sudah digariskan takdir.
Takdir saya di masa lalunya, masa remajanya.
Saya ingin dia terus seperti sekarang, tidak berbalik hanya karena saya sapa lagi.
Kalau jodoh, ia tak akan ke mana-mana, saya tak akan ke mana-mana, suatu hari kami pasti bertemu lagi.
Kalau tidak, setidaknya saya senang pernah kenal dia.

Ia adalah salah satu alasan mengapa masa remaja saya pernah bahagia walau kesepian.
Ia adalah salah satu orang yang memiliki panggilan sayang paling alay sejagad.
Ia adalah lelaki pertama yang membuat Ibu saya susah move on menanyakan kabarnya, bahkan hingga saya sudah pacaran dengan mantan terakhir beberapa tahun lalu.
Ia adalah lelaki lucu, sumber tawa saya di tahun-tahun yang lalu.
Mengingatnya, membuat saya teringat kenangan-kenangan alay nan bucuk di Friendster dulu.
Ia adalah lelaki yang bahkan sempat saya ingat ketika dua tahun lalu menangis karena pertengkaran pertama dengan (mantan) pacar.

Saya tidak tahu harus menyebutnya apa.

Nanti jika kami bertemu lagi, saya ingin bercerita banyak sekali padanya.
Saya juga ingin tahu apa yang sudah dilakukannya bertahun-tahun belakangan.
Saya mungkin akan sedikit menangis ketika bercerita bahwa Papa sudah tidak ada.
Saya mungkin juga akan tertawa ketika mengingat bagaimana alay-nya kami dulu.
Atau mungkin, kami tak akan pernah bertemu lagi.

Entah,
Ada banyak kemungkinan.

Yang jelas, saya senang kami pernah jadi bagian dari masa lalu masing-masing.
Begitu saja.
Sesederhana itu saja.

πŸ™‚

Jadi, apa kenangan masa alay-mu?

Posted from WordPress for Android

(Visited 55 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Menjenguk Friendster, Menjenguk Masa Lalu”

  1. Jaman alay posting foto waktu masih aktif jadi gruopies-nya sebuah majalah perempuan..ikut talkshow sana-sini, pake dres code samaan..masih jaman doyan kelayapan ampe malem..masih doyan begaul.. hihihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *