Sekian lama wara-wiri ikutan project sana-sini, gue lumayan tahu jenis-jenis ‘kelakuan’ KoorPro aka Koordinator Project. Singkatnya, mereka itu seperti ketua kelas dan seluruh penulis antologi adalah anggota kelasnya. Jadi, kita sebagai writer otomatis mengikuti arahan dari si KoorPro. Beberapa teman gue juga pernah jadi KoorPro, ada yang berhasil dan sukses -sampai bukunya diterima penerbit major dan bahkan ditawari jadi Koorpro project berikutnya dari penerbit yang bersangkutan. Ada juga yang, ya, semangat di awal lalu projectnya ditinggalkan begitu aja. Emang ada? Ada! Kenapa nggak? Manusia kan macam-macam :p

Berikut tips abal-abal dari gue, kalau kalian pengin jadi Koorpro dari sebuah antologi (baik cerpen, puisi, flash fiction, or others):

1. Komitmen: nah, ini mungkin salah satu hal yang paling penting ketika lo memutuskan menjadi ketua dari sebuah project antologi. Komitmen dulu yang harus ada, bahwa lo akan ‘membimbing’ seluruh penulis dari awal karya itu dirancang sebagai rencana sampai terbit sebagai buku. (nggak peduli major atau indie).

2. Easy going: ini kesannya simpel, tapi penting juga. Namanya antologi pasti terdiri dari banyak writer yang wataknya macam-macam, kan. Lo sebagai koorpro ya nggak bisa ikutan ‘macam-macam’. Sebisa mungkin netral dan easy going, nggak meledak-ledak kalau ada masalah di dalam kelompok. Kalo bosnya meledak dan sadis sama bawahan, gimana bawahan mau respect? Intinya harus bisa memahami banyak orang dengan banyak karakter, karena ketika lo bisa menguasai komunikasi dengan mereka semua, maka seharusnya nggak akan ada masalah salah paham ke depannya.

3. Jangan PHP: Yang bisa PHP bukan cuma gebetan lo, Koorpro kadang juga bisa. Jadi setelah naskahnya terkumpul semua, ya lo sebagai koorpro bertanggungjawab mengolah semuanya. Baik nyari editor maupun edit sendiri, nyari koneksi penerbit atau nyari info lain berkaitan dengan proses pembukuan naskah-naskah tadi, plus terus kasih kabar paling update mengenai naskah mereka semua. Jangan PHP, apalagi berhenti ngurusin naskah dan menghilang ke antah berantah cuma karena udah malas dan nggak semangat lagi. Inget poin 1. Ini nasib naskah banyak orang, bukan cuma naskah lo sendiri.

Memangnya ada gitu project yang berakhir PHP? Ada banget, gue pernah ikut. Ini udah tahun kedua atau ketiga, ya, tapi tetap nggak ada kabar. Pernah gue tanyain gimana kabarnya, koorpronya jawab “gue sibuk, ada yang bisa handle?” <— dan seketika gue mikir, lupain aja. Apa gunanya lo jadi koorpro kalo abis itu kabur dengan alasan sibuk banget dan hendak melimpahkan semuanya ke orang lain?

Tips lebih lanjut, kalo lo merasa bahwa lo orang yang super sibuk dan banyak acara sana sini, tapi tetap mau jadi koorpro, ada baiknya nyari asisten. Jangan sendirian. Karena ketika kesibukan lo menyita waktu dan seluruh naskah orang terbangkalai, maka lo baru saja PHP anak orang. Sedangkan, kalo lo punya asisten, setidaknya dia bisa bantu-bantu handle sesuatu yang mungkin nggak sempat lo kerjain.

4. Jangan setengah-setengah: sesuai dengan poin 1, lo harus punya komitmen untuk menyelesaikan project sampai akhir, jangan ada alasan-alasan atau ketentuan semacam ‘kalo jatohnya nggak enak, gue males ya ngurusnya’. Misalnya kayak gini, “gue sih maunya ke major, kalo ke indie gue udah malas. Lo aja yang ngurus.”

Kembali ke poin di atas, ini nasib naskah banyak orang. Jangan egois. Atau jangan jadi koorpro sekalian. Indie atau major, harus tetap diperjuangkan. Setidaknya, apa yang ditulis anggota-anggota lo itu nggak sia-sia dan terbuang gitu aja. Apalagi berniat memulangkan naskah-naskah itu begitu saja langsung kepada penulisnya karena terlanjur malas ngurusin ke penerbit indie. BIG NO! Mereka menyisakan waktu dan pikiran untuk menulis cerpen/puisi/FF (yang istilahnya) pesanan lo (ketika pertama lo ngajak mereka ikut project). Hargai walau sedikit.

5. Perbanyak koneksi ke penerbit: atau kalau udah keterima di salah satu penerbit major, setidaknya jangan banyak ulah. Sebisa mungkin kooperatif aja, ya siapa tahu setelahnya malah ditawarin untuk jadi koorpro dari project sejenis.

6. Pilih tema yang kuat: Kumcer memang agak susah nembus penerbit major, kecuali:

a. Peluang pasarnya bagus
b. Ceritanya berkualitas, atau
c. Penulisnya tenar dan sudah punya nama. Yang sekalinya buat buku, fansnya pada ngantre nunggu PO dan rela beli berapapun harga itu buku, nggak peduli walau tipis tapi harganya mahal. Ada? Ada!

Sebisa mungkin, buat tema/benang merah yang greget. Ya, tema cecintaan itu sudah sangat basi, tapi bisa diolah lagi jadi tema fresh kok sebenernya. Be creative, use your imagination 🙂

7. Rajin promo setelah terbit: anggota antologi pasti banyak ya, rata-rata minimal ada 10 atau 15 orang. Ini bagus untuk promo. Buat video trailer atau kultwit tentang buku kalian di twitter. Video Trailer bisa kalian sebarkan di socmed lengkap dengan info mengenai buku tersebut dan bagaimana cara membelinya. Semakin banyak yang menyebarkan, ya semakin banyak juga yang tahu. Satu orang aja temen Fbnya udah ratusan, gimana 15 orang? Dan satu orang aja followers twitternya juga ratusan (bahkan ribuan), gimana 15 orang? Bisa kok, kenapa nggak? 😀

Contoh book trailer ada di sini –> Trailer Lovediction (Ice Cube Publisher) atau Love You Even More (Media Pressindo)

Kalau ada tambahan, silakan di kolom komentar 😀

(Visited 24 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *