Coretan

Film-film yang Mengubah Hidup (saya)

Seberapa jauh sebuah tontonan dapat mempengaruhi hidup kalian? Nggak banyak film yang bisa mengubah pandangan hidup atau cara berpikir  saya, karena saya sama sekali bukan orang yang suka nonton. Saya nggak tahu apa-apa tentang film bagus, kadang hanya nonton karena rekomendasi dari teman yang menggebu-gebu menceritakan film bagus. Tapi film-film/serial TV berikut ini adalah sebagian kecil dari bayak tayangan yang saya tonton, yang kemudian membuat saya merasa, “ini benar-benar hebat.”

1. Sex And The City

Mengapa Sex and The City? Padahal ini cuma film tentang 4 tante-tante pengumbar aurat yang hidup glamour. Mungkin kalian berpikir begitu. Urutannya nomor 1 pula, lalu kalian seketika pengin lempar sendal. Biar saya kasih tahu, film ini adalah sepaket dari pelajaran hidup. Mereka semua tampak sempurna dari luar, padahal sebenarnya punya masalah kehidupan masing-masing. Tapi mereka bersahabat baik, dan dengan adanya sahabat, masalah kadang jadi butiran debu.

“We made a deal ages ago. Men, babies, it doesn’t matter. We’re soulmates.”

Itu quotes favorit saya. Kelak, saya ingin menemukan teman-teman sejati seperti mereka berempat 🙂

2. Arisan! 2

Kalau kalian pernah muda di era 200an awal, mungkin kalian tahu film Arisan! karya Teh Nia Dinata. Dulu tema gay belum booming, masih tabu, dan Teh Nia mengangkatnya di film Arisan! 😀 di mana Tora Sudiro dan Surya Saputra kissing sebagai pasangan gay, dan itu heboh sekali. Dulu. Nah, beberapa tahun lalu muncul sekuelnya, Arisan! 2. Arisan! 1 bagi saya biasa saja, mungkin karena saya memang orang yang toleran sekali dengan kaum LGBT, tapi Arisan! 2 seperti sepaket tips hidup buat saya. Sekilas cerita, semua masalah yang ada di Arisan! 1 berlanjut ke Arisan! 2.

Mei-mei yang diperankan Cut Mini adalah tokoh sentral di sini. 8 tahun sudah berlalu, dan banyak yang berubah dari semua tokohnya. Sakti dan Nino (pasangan gay tadi) sudah putus meski masih cinta, Mei-mei sudah jadi janda, Andien sudah ditinggal mati suami dan membesarkan 2 anak perempuannya –tapi masih sering main berondong, Lita si batak cantik berani melahirkan anak tanpa suami –dan sudah jadi pengacara sukses. Tapi cerita sentral tetap di Mei, di mana dia berkata bahwa kita harus mencoba menikmati waktu yang kita punya. Ia hanya punya sedikit sisa waktu, dan fiilm ini menceritakan bagaimana seorang mei-mei menikmati sisa waktunya.

Mei dan Tom, dokter yang merawatnya selama di Lombok. Selama pelariannya dari kota besar. ini scene ketika mereka melihat waisak di Borobudur. I hope someday bisa lihat secara langsung.

“Semuanya berjalan seiring dengan waktu. Waktu yang diberikan Semesta secara gratis. Justru karena gratis, manusia sering lupa. Lupa menikmati matahari terbit dan tenggelam. Lupa menikmati saat ini. Oh, ya, aku Mei-mei, yang kembali single, dan lagi belajar untuk menikmati waktu.”

3. ? (Tanda Tanya)

Ini salah satu film yang mengubah pandangan saya, sebesar-besarnya. Mungkin banyak yang mencap film ini sesat atau apalah, tapi saya senang Hanung Bramantyo pernah membuat film ini. Ada banyak cerita dalam 1 film, yang semuanya berujung pada 1 benang merah. Saya tidak akan cerita, tontonlah, kalian akan tahu mengapa. Tapi tolong, jangan nilai dengan pikiran picik. Banyak yang menonton, lalu menilainya dengan picik, maka yang mereka dapat cuma jelek-jeleknya, bukan hikmahnya.

“Terkadang saya berpikir kalo saya hidup ini cuma numpang lewat aja, gak berguna buat orang lain”

4. Ca Bau Kan

Film ini diadaptasi dari sebuah novel karya Remy Sylado, novelis favorit saya sepanjang masa. Mengisahkan tentang percintaan Tan Peng Liang –seorang lelaki cina kaya asal Semarang dengan Siti Nurhayati alias Tinung –ca bau kan dari kalijodo, betawi asli. Kisah dibuka dengan pencarian anak mereka di masa sekarang, seorang nyonya belanda tua yang kembali ke Indonesia demi mencari asal usul keluarganya. Di sinilah kisah ayah ibunya mulai ia ceritakan. Tan Peng Liang salah satu lelaki fiktif terhebat yang pernah saya temui. Dia singa, dia licik, tapi mencintai Tinung sedemikian besarnya. Dia lelaki yang bermain dengan banyak perempuan, tapi hanya pulang dan serius pada satu perempuan. Tan Peng Liang ini bisa dapat banyak perempuan cantik dan kaya, tapi dia memilih seorang ca bau kan miskin yang tidak berpendidikan seperti Tinung. Nggak usah tanya mengapa, saya juga tidak ingin tahu. Beberapa hal dalam cinta tak perlu punya alasan. Ini kisah cinta lintas zaman; zaman penjajahan Belanda, zaman Jepang, dan pasca kemerdekaan.

“Saya tidak marah kalau Anda, sepert semua lidah Melayu, kepalang melafazkan ca-bau-kan menjadi cabo. Yang saya marah, kalau anda kira ca-bau-kan atau cabo itu perempuan yang tiada bermoral. Ini pembelaan. Bukan hanya pembetulan.”

5. Dunia Tanpa Koma (Serial TV)

Ini bukan film, tapi termasuk dalam kategori mengubah hidup, karena setelah nonton DTK ini saya tahu apa cita-cita saya yang sebenarnya; jurnalis. Entahlah ya, jurnalis apa. Saya merasa juga belum sanggup jadi jurnalis sehebat Raya Maryadi, tapi semoga suatu hari nanti bisa. Raya Maryadi dan Dian Sastrowardoyo barangkali adalah kombinasi yang perfect untuk sebuah tokoh perempuan. Dian Sastro seperti memiliki jiwa Raya dalam dirinya, mungkin karena itu juga cerita ini jadi terkesan ‘hidup’. Everlasting. DTK ini nggak pernah mati, masih jadi salah satu cerita jurnalis terbaik yang pernah saya tonton. Sayang, ratingnya nggak terlalu bagus, mungkin selera pasar masih berpihak pada cerita cinta yang menye-menye ketimbang yang lebih berkualitas seperti ini. 🙁

Dunia Tanpa Koma adalah serial televisi Indonesia yang bercerita tentang kehidupan seorang wartawati, Raya Maryadi (Dian Sastrowardoyo) yang ingin terlibat dalam arus perubahan negeri melalui investigasinya yang kuat untuk membongkar jaringan narkotika nasional pimpinan Jendra Aditya (Surya Saputra), mantan kekasihnya. Selain itu, disini juga ada kisah lain tentang kesetaraan gender, dimana Monita (Intan Nuraini), bintang sinetron muda yang sedang tenar diperkosa oleh lawan mainnya sendiri. Dan juga disisipi kisah asmara Raya dengan Bayu (Tora Sudiro) dan Bram (Fauzi Baadilla). – Wikipedia

6. Fiksi.

Sebagai penyuka thriller, ini salah satu film favorit saya. Fiksi karya Mouly Surya ini menyajikan kisah yang sederhana tapi memberi ledakan di endingnya. Menceritakan tentang Alisha, anak perempuan usia 20an yang ditinggal mati ibunya sedari kecil. Ia tinggal di rumah besar dan mewah, tapi hanya ditemani supir dan pembantu. Ayahnya sibuk bisnis dan mengurusi istri mudanya, hingga Alisha tidak pernah mendapat kasih sayang. Alisha tumbuh menjadi pribadi yang keras dan trauma akibat melihat ibunya bunuh diri, membuatnya berubah menjadi psikopat. Adalah Bari –lelaki yang bekerja paruh waktu sebagai pembersih kolam di rumah Alisha, yang berhasil menarik perhatian gadis itu, walau tanpa bicara sedikit pun. Alisha cuma melihat Bari dari jendela kamarnya. Dan ketika Bari berhenti kerja, ia merasa kehilangan. Rasa penasaran dan kasmaran lalu membawanya pada sebuah rumah susun di mana Bari tinggal dengan pacarnya, Renta. Alisha memutuskan hadir di sana, berusaha mendapatkan Bari dengan berbagai cara; mencarikan ending cerita untuk novel-novel Bari, membunuh, bahkan menyekap Renta.

Ini adalah sisi gelap sebuah cinta. Sebuah obsesi. Sebuah mimpi.

“Bagaimana cerita ini akan berakhir, Bar? Semua kejadian ada tujuannya.”

7. Lentera Merah

Ini juga salah satu film yang membuat saya ingin sekali jadi jurnalis. Lentera Merah menceritakan tentang sekelompok anak yang menjadi badan pengurus majalah kampus bernama LM (Lentera Merah). Malam inisiasi yang akan dilakukan selang beberapa hari kemudian mendadak kacau balau karena ada seorang perempuan misterius bernama Risa yang masuk sebagai calon kandidat pengurus. Keanehan demi keanehan, pembunuhan demi pembunuhan, hingga diketahui Risa adalah sosok dari tahun 1965 yang pernah dibunuh karena dituduh PKI. Ia mengincar semua orang yang pernah membunuhnya, dan anak-anak mereka yang kini menjadi pengurus inti Lentera Merah menggantikan orangtua mereka. Risa sudah kembali. Dan malam inisiasi tidak akan sama lagi.

Filmnya horror-thriller, tapi temanya jurnalistik. Ini salah satu film yang menarik 🙂 jarang-jarang kan ada yang bisa menyatukan tiga kategori di atas dalam satu karya, lalu menghasilkan karya yang bagus?

Lentera Merah sepertinya sudah. Silakan ditonton.

“Kebenaran harus terungkap.”

(Visited 316 times, 2 visits today)

1 thought on “Film-film yang Mengubah Hidup (saya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *