Hari ini rasanya kacau sekali, saya seperti dipaksa menghadapi hal-hal yang mungkin belum siap saya hadapi. Tahun-tahun belakangan ini sepertinya masalah datang berkali-kali. Masalah kadang seperti teman –datang dan pergi. Malah kadang-kadang singgah terlalu lama.

Malam ini, saya ke warung makan langganan, lalu ketika saya melahap sepotong perkedel kentang, ibu pemilik warung itu bilang bahwa dia akan tutup awal tahun. Ini sebuah kehilangan besar, karena bagi saya beliau bukan hanya pemilik warung makan. Beliau seperti ibu kedua, atau ketiga –nggak inget, ibu saya ada banyak sekali.

Beliau dan suaminya, yang paling sibuk menelpon atau SMS di hari libur, kalau tahu saya sakit dan sedang sendirian. Kadang, kalau saya mampir malam-malam dan nggak enak badan, beliau yang memberi obat, teh hangat, atau apapun yang bisa membuat saya baikan. Beliau ibu banyak orang. Mereka adalah orangtua banyak orang. Barangkali bukan hanya saya yang akan kehilangan jika mereka tidak lagi di sini, barangkali juga lebih banyak anak-anak lain yang akan sedih. Tapi di hidup saya yang sekarang, saya hanya punya secuil orang yang saya sayangi, yang saya percayai –salah satunya mereka. Maka mungkin ini termasuk kehilangan yang besar buat saya.

Barangkali ini aneh, atau hiperbola. Saya akan merasa sangat kehilangan. Mereka akan pergi, mungkin jauh sekali, mungkin akan jarang ketemu lagi, mungkin saya nggak bisa makan masakan beliau lagi.

Saya kadang berpikir terlalu jauh. Padahal saya bisa makan di mana saja. Ada banyak sekali yang jual makanan di kota ini. Tapi, makan masakan beliau seperti makan di rumah, ada sesuatu yang nggak bisa saya jelaskan, sesuatu yang bikin masakannya beda sama masakan di tempat lain.

Tapi sederhananya begini,

Waktu berlalu, orang-orang akan datang dan pergi. Ketika saya melihat wajah-wajah di jalan, di TransJakarta, di kereta, di kantor, saya melihat banyak variasi wajah; wajah datar, wajah sedih, wajah lelah, wajah bahagia, tawa, amarah, dsb. Ada begitu banyak manusia di bumi, tapi selalu saja ada manusia yang merasa sendiri.

Seperti kata seseorang –yang saya lupa siapa, kesepian bukan ketika tidak ada orang di samping kita, kesepian justru keadaan ketika kita berada di antara banyak orang, namun tak ada yang mengerti.

Nah, that’s the point.

Mereka mengerti saya. Jadi, saya berat menerima bahwa mereka tidak akan di sini lagi tahun depan. Mereka adalah bagian dari sedikit orang yang begitu saya sayangi. Mungkin juga sebagian dari orang yang saya sayangi, tapi tidak pernah menyakiti saya. Kalian tahu, kadang kita menyayangi orang yang salah.

Saya sayang mereka, seperti saya menyayangi orangtua saya.

Dan saya akan kesepian sekali lagi.

Tapi bukankah hidup seperti itu? Semuanya datang dan pergi, sebenarnya kita memang selalu sendiri, tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain terus hidup.

Benar, kan?

*malam ini suara takbir di mana-mana, malam takbiran seperti titik balik dalam hidup saya. Lebaran tahun lalu, lebaran tahun ini, dan idul adha.

Selamat Idul Adha, kalian.

Kita memang akan selalu sendirian, tapi semoga tak selalu kesepian.

(Visited 39 times, 1 visits today)

2 Thoughts to “Kita Memang Akan Selalu Sendirian..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *