Cerita pendek

Percakapan-percakapan yang Tak Pernah Selesai

Musim panas di Austria, dan ekspresi wajahmu yang tidak tertebak, sungguh bukan perpaduan yang aku suka. Seperti ketika kita melangkah bersisian di Ringstrase yang penuh barisan pepohonan chestnut dan bunga putih, kemarin sore, kamu lebih banyak diam dan berpura-pura sibuk memandangi orang-orang asing di sekitar.

Kamu selalu begitu, selama rentang sepuluh tahun kita bersahabat. Kamu masih tetap lelaki keras kepala yang tidak sudi membagi masalah pada orang lain –termasuk pada sahabatmu sendiri. Terlebih, ketika kamu bermasalah dengannya –yang kau sebut cinta. Aku menatap wajahmu yang muram dari samping, lalu berhenti melangkah. Kamu terus melangkah karena tidak menyadari bahwa aku telah berhenti, jelas karena ada banyak pikiran bertumpuk dalam kepala.

“Mengapa berhenti? Gerejanya sudah dekat.” Kamu tiba-tiba saja tersadar, kemudian berbalik menghampiriku, sebelum akhirnya menunjuk gereja tua bernama St. Stephen di pusat kota Wina –tempat kita kini ‘terdampar’ karena perjalanan bisnis. Gereja tua bergaya gotik yang dikonstruksikan selama puluhan tahun dengan menara bagian Selatan sebagai titik tertingginya.

“Kamu masih memikirkannya.” Aku menebak langsung.

“Oh. Ya, kadang. Kami sedang berjauhan, dan bertengkar. Rasanya jarak menjadi lebih jauh dua kali lipat.”

Nah, saat-saat seperti ini adalah momen ketika aku ingin menanyakan suatu hal. Sebuah hal yang selalu ingin kutanyakan, namun setiap aku menanyakannya, yang kudapat hanya jawaban menggantung. Percakapan kita mengenai hal ini tak pernah selesai; di bar, di apartemenmu, di ruang kantorku, di kedai kopi, bahkan basement gedung.

Ada satu hal yang ingin sekali kutanyakan.

Mengapa kamu selalu membelikanku perhiasan ketika pulang dinas dari kota lain, namun hanya memberinya sekotak rokok produk ternama?Mengapa kamu seolah tidak ingin memperkenalkanku padanya, padahal kita sudah bersahabat sekian lama?

Suatu kali, pernah kamu menjawab, karena ia memang orang yang tidak menyukai perhiasan namun perokok berat, dan kamu tidak ingin melarang atau mengekangnya. Dan, ya, aku juga tidak tahu apakah aku bisa bersikap biasa saja ketika nanti kami benar-benar berkenalan. Tapi kali ini, aku ingin sekali bertanya lagi.

“Lalu mengapa…”

Ponselmu berdering, tepat di layarnya, ada foto kalian tengah berpelukan mesra. Kamu yang mengenakan Polo shirt putih dan brewok tipis di wajah. Dan ia yang kamu sebut cinta, diam menyender di bahumu dengan tatapan manja, namun dengan brewok yang lebih banyak memenuhi dagu.

“…kamu lebih memilihnya?”

            Sepertinya percakapan ini lagi-lagi tak akan selesai. Tapi kini aku tahu alasannya. Kamu tidak pernah akan memilihku, karena aku seorang perempuan.

            Well..

*

Ditulis dalam rangka iseng. Tadinya pengin ikut lomba ini, tapi kelupaan dan udah keburu lewat deadline.

Lagipula, FF ini lewat dari batas jumlah kata yang seharusnya. Sepertinya gue memang orang yang nggak taat aturan.

Well..

(Visited 30 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Percakapan-percakapan yang Tak Pernah Selesai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *