Tentang Menulis

Jangan Sepelekan Surat Perjanjian

Tadinya nggak kepikiran menulis postingan ini, tapi gue rasa gue harus menuliskannya 🙂 Karena tadi malam membaca postingan mamih @naztaaa yang Penerbit dan PHP, gue pikir sedikit banyaknya harus ada orang yang menuliskan tentang ini biar nggak banyak yang kejebak atau salah langkah. Mungkin tips gue juga masih kurang sempurna, maka sisanya kalian bisa bertanya atau mencari info sendiri. Ada google, ada orang-orang, ada komunitas, sebenarnya era teknologi ini enak bener, ya. Hahaha. Oke, dan gue ngelantur 😐 Inti postingan di atas nggak akan gue jelasin, kalian pastinya bisa baca sendiri. Sila langsung di-klik aja. Itu udah gue tautkan. Nah, yang akan gue bahas adalah masalah Surat Perjanjian Penerbitan. Buat yang bukunya udah pernah terbit pasti familiar sama surat ini. Surat Perjanjian Penerbitan ini adalah surat yang dibuat penerbit, kemudian dikirim ke penulis untuk ditandatangani di atas materai 6 ribu. Kalian tahu apa artinya ttd di atas materai? Yap, perjanjian itu dilindungi hukum negara. Bukan nggak mungkin masalah yang timbul akan diangkut ke meja hijau. Mungkin banget, kalau memang perlu. Itulah kekuatan seiprit materai 6 ribu. Nah, coba.. buat kalian yang baru pertama kali menerbitkan buku, apa kalian pernah baca suratnya secara detail? Satu rangkap surat perjanjian itu isinya ada banyak pasal dan banyak halaman, mumet deh kalo dibaca satu-satu. TAPI, pada kenyataannya kalian SANGAT PERLU membacanya satu persatu. Mengapa? Karena di dalam surat itu dimuat apa saja hak dan kewajiban penulis/penerbit. Kalian nggak mau, kan, kalau isinya ada yang merugikan kalian? Nah, itu makanya harus dibaca satu per satu 🙂 Surat perjanjian adalah gerbang awal dari nasib naskah kalian. Kalau kalian abai sama poin ini, kalian nggak bisa lagi menyalahkan siapa-siapa kalau naskah itu bermasalah kedepannya. Apalagi kalau udah kalian ttd, wassalam. Mau monas berubah jadi es krim raksasa juga kalian nggak bisa nuntut apa-apa dari penerbitnya. Beberapa poin penting yang harus kalian perhatikan dari Surat Perjanjian Penerbitan:

  1. Royalti. Jika kalian memilih sistem royalti, perhatikan berapa %-nya. Biasanya ini beda-beda kebijakan pada tiap penerbit. Ada penerbit yang menyamaratakan royaltinya sekian % untuk semua penulis baik senior sampai newbie aka penulis pemula yang baru pertama kali menerbitkan buku. Tapi ada juga penerbit yang punya sistem royalti bertingkat-tingkat kayak kasta. Jadi, kalau kalian lebih senior, %-an royaltinya akan berbeda dengan teman kalian yang masih newbie.
  2. SELAIN royalti, ada yang namanya sistem jual putus. Gue nggak tahu apakah semua penerbit punya pilihan ini atau tidak, tapi kalau kalian kebetulan dihadapkan dan memilih opsi ini, perhatikan berapa jumlah yang akan dibayarkan untuk naskah kalian, pajaknya berapa %, potongan lain berapa %.
  3. BERAPA LAMA naskah itu akan jadi milik penerbit. Nah, gini, rata-rata penerbit akan bilang bahwa naskah menjadi milik mereka selama 5 tahun semenjak ttd surat perjanjian. Setelah 5 tahun kalian bisa menariknya dan jadi milik kalian lagi. Tapi ada juga yang jadi milik penerbit selamanya. It’s okay, pilihan kembali ke tangan kalian. Beberapa naskah gue ada yang jadi milik penerbit selamanya, tapi satu hal yang selalu gue pastikan dari mereka adalah NASKAH ITU PASTI TERBIT, lho. Jelas kapan batas maksimal terbit. Cek poin 4.
  4. BATAS MAKSIMAL PENERBITAN. Biasanya ada di surat perjanjiannya, berapa bulan batas maksimal naskah itu diproses. Misalnya 6 bulan, maka jika lewat bulan ke-6 semenjak surat di ttd, kalian berhak bertanya mengapa naskah itu belum terbit dan penerbit wajib memberitahu apa kendalanya. Kalau kalian pengin narik, bisa banget. Itu sama sekali nggak salah, karena memang di suratnya kan cuma 6 bulan. Lewat dari itu kalian punya hak mengambil kembali naskah kalian. Setahu gue begitu. Tapi alhamdulillahnya di penerbit gue nggak pernah gitu. Gue pernah bernaung di 2 penerbit lain selain Gramedia Widiasarana aka Grasindo, dan semuanya lancar aja. Di Grasindo menurut gue lebih lancar lagi 🙂 pihak penerbitnya terbuka banget dan selalu sharing tentang proses cetak naskah. Pengalaman gue, lho, ya.. 🙂
  5. Masih berkaitan dengan poin 4, kalian harusnya bertanya-tanya kalau bunyi poin batas penerbitan itu merugikan kalian atau malah nggak ada. Curiga banget kalo gue mah 😛 Misalnya, ini contoh ya, dikatakan: Naskah hanya bisa ditarik minimal 5 tahun sejak cetakan pertama diterbitkan. Tapi nggak ditulis berapa bulan cetakan pertama itu bakal diterbitkan (terhitung semenjak pertama ttd suratnya). Terus kalau nggak terbit-terbit, gimana mau narik? Gimana tuh? Gimana dong? Apa-apa apanya dong? Dang ding dong! (”,)v
  6. Hal-hal yang berkenaan dengan hal lain. Contoh, jika naskah kalian difilmkan atau diterjemahkan ke bahasa asing. Naskah yang difilmkan misalnya Rectoverso – Dee Lestari. Naskah yang diterjemahkan ke bahasa asing misalnya buku-buku Okky Madasari. Bukan nggak mungkin kedepannya dua hal ini akan terjadi, dan harus jelas bagaimana sistemnya. Biasanya, penerbit menuliskan bahwa jika terjadi dua hal itu, perhitungannya akan beda lagi. Nggak sama dengan perhitungan penjualan dalam bentuk buku cetak.
  7. Penjualan dalam bentuk ebook. Ini juga penting. Kalian bisa dapat royalti itu, nggak cuma karena penjualan buku cetak, ya. Kalau penerbit kalian punya ebook-shop sendiri, kalian bisa dapat royalti juga dari penjualan ebooknya. Jadi, kalau dijual dalam bentuk ebook, pasti ada perhitungan royalti ebook. Biasanya %-nya berbeda dengan penjualan buku cetak, karena tentu harga jual ebook beda dengan harga buku cetak. Misalnya Bingkai Memori ada ebooknya di Gramediana. Buat kalian yang bernaung di bawah Gramedia Group, Mizan Group atau Gagasmedia gue rasa familiar dengan sistem ebook. Ebook anak-anak Gramedia Group biasa ada di Gramediana, kalau Mizan dan Gagas biasa dijual di playstore. Bacanya pake google books 🙂
  8. Ahli waris. Ini juga penting diperhatikan. Seandainya (amit-amit), kalian kemalangan, hak atas royalti akan jatuh ke ahli waris kalian. Ini harus jelas, nggak mungkin dong kalau kalian kemalangan, lalu royalti menguap entah ke mana? Ahli waris kan juga banyak; bisa anak kalian, suami/istri kalian, adik/kakak kalian, ibu/ayah kalian, pokoknya keluarga terdekat kalian. Pacar-pacar yang belum halal jadi suami, tapi panggilannya papi-mami, ndak berlaku di sini. Ahli waris secara hukum, ya. 😛
  9. Cetak ulang. Kalau buku tersebut laris manis, kemudian dicetak ulang, apa saja hak kalian? Biasanya ada tambahan sampel cetak ulangnya 🙂
  10. Sampel. Ini hal kecil, tapi tetap hak kalian. Ketika buku awal dicetak, kalian akan dapat sampe 5 atau 10 buku free. Beda-beda jumlahnya tiap penerbit, tergantung kebijakan penerbit tersebut.
  11. Dan baca baik-baik penulisan nama dan identitas kalian di surat itu. Juga jangan salah ngasih nomor rekening. Beda satu angka, nyasarnya ke mana-mana. Biasanya cantumkan nama juga, ketika memberikan nomor rekening. Tapi biasanya ini no problem, penerbit udah jaga-jaga dengan meminta scan halaman pertama buku tabungan. Biasanya.
  12. Banyak bertanya; pada mereka yang udah lebih dulu terjun ke dunia penulisan. Kalian bisa nanya ke teman-teman komunitas, teman dekat, atau siapalah. Kalau kalian benar-benar newbie, hal yang bisa kalian lakukan adalah 11 poin di atas, plus bertanya pada penerbit jika ada yang kalian rasa janggal atau kurang jelas. Kalau jawaban dari penerbit masih tidak memuaskan, kalian bisa nanya ke teman-teman/kerabat yang anak Fakultas Hukum. Mengapa segitunya banget, sih, Kak? IYA DONG, segitunya banget. Naskah itu ibarat anak buat para penulis, kalian ndak mau memperjuangkan nasib anak kalian sendiri? 😐

Sisanya bisa ditambahkan di kolom komentar, kalau ada yang pengin sharing 🙂 Silakan 🙂 Be happy, and keep writing. Salam olahraga!

(Visited 77 times, 1 visits today)

1 thought on “Jangan Sepelekan Surat Perjanjian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *