Tentang Menulis

Serba-serbi Project Antologi

Barusan buka totter (iya, anak BFG nyebutnya totter, bukan twitter. Biasa, panggilan sayang #Lho), terus cek mention dan ada yang nanya gini:

RT @BeningZa: @Kopilovie nanya dong sist, kalo ada lomba cerpen di ketentuannya menyebutkan ‘seluruh karya yg masuk menjadi hak milik panitia’ rugiin penulis ga?

Udah gue jawab, sih, di totter.
Tapi gue rasa nggak ada salahnya dibahas sedikit, sih, ya.

Sebentar, antologi di sini bisa luas banget. Nggak cuma kumpulan cerpen, bisa juga kumpulan flash fiction dan kumpulan puisi 🙂
Jenisnya beda, tapi secara umum menurut gue harusnya sistemnya sama saja.

Beberapa hal terkait pertanyaan di atas:

1. Ya, di mana-mana, kalau naskah kalian diterima untuk diterbitkan dalam sebuah antologi, pastilah naskah itu diklaim menjadi milik penerbit. TAPI, secara fisik. Hak ciptanya tetap di tangan kalian sebagai penulisnya. Maka, seandainya jika suatu hari naskah itu bermasalah, dianggap menyinggung SARA, dan lain-lain, kalianlah yang bertanggungjawab atas hal ini, BUKAN si penerbit atau percetakannya. (Perhatikan, di halaman awal buku suka ditulis: isi diluar tanggungjawab percetakan).

2. Perihal ‘naskah cerpen yang diterima menjadi hak milik penerbit’ menurut gue nggak merugikan, kok. Selama jelas kompensasi/pembayarannya. Kalau mereka beli naskah kalian otomatis harus bayar, kan? Nah, ini dia..

3. Bentuk kompensasi itu bisa 2 jenis, ya:
A. Pembayaran di awal. Jadi pas awal naskah kalian keterima, akan langsung dibayar sekian Rupiah. Gue nggak berani menyebutkan angka, ini beda-beda tiap project/penebit. Mungkin ada pertimbangan tertentu; terkait jenis genre, naskah, kebijakan penerbit, dll. Nah, kalo udah ada pembayaran di awal, kalian nggak akan dapat royalti lagi.

B. Pembayaran dengan sistem royalti per 6 bulan. Ini kurang lebih sama kayak royalti novel, bedanya kalo antologi pasti kan dibagi sesuai jumlah penulisnya. Dalam hal pembayaran royalti ini, menurut gue semua harus transparan, baik dari ketua project maupun dari pihak penerbitnya. Kalian sebagai penulis berhak tahu berapa % royalti yang akan dibayarkan, berapa eks buku yang laku, berapa pembagian untuk masing-masing kalian, dan tentu berapa % potongan pajaknya. Selalu ada hitungan pajak. Pasti. 🙂 semua jenis penghasilan punya perhitungan pajak, kok.

4. Kalau dari awal disebutkan, royalti akan disumbangkan bagi mereka yang membutuhkan, maka harus jelas juga, ya! Berapa % royalti dan potongan pajak, berapa eks yang laku, ke mana disumbangkan. Kalian berhak tahu, karena kalian penulisnya.

5. Tapi dalam pelaksanaan di lapangan, hal ini nggak selalu berjalan lancar. Kalian tahu, kadang ada koorpro yang memang bertanggungjawab banget sama naskahnya, mulai dari awal pelaksanaan project sampai pembagian royalti. Cuma, kadang ada juga yang kurang bertanggungjawab. Nggak sedikit kasus tentang royalti yang nggak tahu ke mana, dan penulisnya cuma bisa gigit jari. Biasanya koorpro yang mendadak hening dan nggak memberikan kabar/laporan lagi usai buku dicetak dan dipasarkan. Ada juga koorpro yang menikmati royalti tersebut sendiri, dan penulis lain cuma dapat ucapan terima kasih karena sudah berpartisipasi sebagai kontributor. Ada 🙂

6. Kalian harus pastikan hal ini. Nggak ada salahnya rajin-rajin nanya perkembangan naskah ke koorpronya 🙂 walau sebenarnya koorpro memang wajib memberi kabar tanpa ditanya-tanya. Setidaknya itulah yang dilakukan 2 orang koorpro antologi Lovediction yang gue ikuti. (Lovediction, penerbit Ice Cube – KPG, 2013).

7. Jadi begitulah. Menurut gue ketentuan ‘cerpen yang masuk akan jadi milik penerbit’ itu sama sekali nggak merugikan, sih. Asal cerpen kalian memang jelas terbit, kalian mendapat laporan mengenai berapa eks yang terjual, %-an royalti, dan hal-hal penting lainnya.

8. Tambahan sedikit: kadang ada penerbit yang minta surat pernyataan keaslian naskah. Biasanya surat itu bisa didapat dari penerbit yang bersangkutan, kemudian kalian print dan ttd, lalu scan dan kirim balik. Jangan takut soal poin ini, selama surat yang kalian ttd HANYA surat pernyataan keaslian naskah, bukan yang aneh-aneh. Biasanya memang penerbit ingin ada surat ini untuk jaga-jaga aja 🙂

9. Bayar. Selama beberapa tahun gue terjun di dunia kepenulisan dan ikut antologi, gue rasa antologi yang bener malah harusnya free ya. Nggak memungut bayaran dari peserta. Sebuah karya malah seharusnya mendatangkan uang, bukan mengeluarkan uang. Coba, deh, tanyain temen-temenmu yang udah nerbitin di penerbit mayor, itu semua prosesnya free. Nggak ada pungutan biaya apapun. Hati-hatilah dalam hal ‘bayar-membayar’ ini. Gue pribadi sangat tidak merekomen kalian untuk ikutan project yang berkaitan dengan bayar membayar. Urusannya panjang, cyiinn~

Sekali lagi, naskah itu ibarat anak 🙂 dan gue yakin nggak ada penulis yang nggak penasaran sama nasib anaknya setelah di-acc penerbit, kan? 🙂

Sisanya, tips gue masih sama. Rajinlah bertanya. Pada mereka yang lebih paham, pada mereka yang udah lebih dulu terjun ke dunia penulisan.

Cheers!
-Mput-

Posted from WordPress for Android

(Visited 67 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *