image

Ibukota masih basah akibat hujan semalaman, ketika kami memasuki sebuah kedai kopi di kawasan Sarinah. Setelah menghabiskan burger masing-masing di resto cepat saji yang terletak tepat di samping coffeeshop ini, Kanaya –seorang sahabatku mengusulkan agar kami pindah ke sini untuk menikmati minuman hangat. Aku mengikuti, walau enggan. Tak ada yang ingin kulakukan beberapa minggu ini. Kejadian di malam tahun baru benar-benar membuatku kalut. Namun, Naya dan Lana selalu berusaha mengajakku keluar. Ya, ya, aku tahu, Dimas yang menyuruh mereka. Abangku itu selalu khawatir bahwa aku akan menjadi gila jika terus mengurung diri di rumah. Papa memang sudah pergi, selamanya, dan aku tidak bisa menukarkan apapun agar beliau kembali. Dan Dimas hanya tidak ingin aku tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut.

“Selamat sore, silakan.” Seorang perempuan muda menyambutku di depan kasir.

Hot Chocolate for me.” Kanaya yang menjawab lebih dulu.

And me too,” disambung suara Lana, yang kemudian menyikutku.

Lamunanku tersadar, kemudian menatap kedua sahabatku yang sudah selesai membayar dan bergeser ke bagian ujung untuk menunggu pesanan mereka disiapkan.

“Silakan, Kak?” Perempuan di kasir itu masih tersenyum lembut. Aku bahkan tidak tahu harus memesan apa. Segala hal berputar-putar dalam kepalaku, seperti tak mau pergi menjauh walau sejenak.

Maybe.. I need something with chocochips, to make me feel better.” Tanpa sadar, kalimat itu mengalir pelan dari bibirku.

Java Chips untuk Nona ini. Medium,” sebuah suara berat mengagetkanku, juga si perempuan di balik meja kasir, “dan satu Black Coffee yang medium juga.” Lelaki itu menyambung lagi, kemudian mengulurkan sejumlah uang.

“Maaf, atas nama siapa?”

“Arumi.” Suara itu menyahut lagi. “dan Abi. Abhirama.”

Aku baru mengenalinya dengan baik setelah menoleh, karena suara saja belum sanggup membuatku menyadari sosoknya. Di sana, berdiri lelaki berbadan tegap dengan rahang yang tegas dan wajah menawan. Ya, bagi banyak perempuan normal, penampilannya pasti cukup memikat, terlebih tanpa seragam kepolisian. Setidaknya, juga bagiku. Ia melengkungkan seulas senyum. Di sampingnya, tampak dua orang lelaki lain yang tidak kukenal sama sekali.

“Iptu Gara?” bibirku tergagap pelan.

“Gara saja, tak perlu embel-embel lain. Kebetulan sekali bisa ketemu di sini.”

Aku mengangguk, sedikit malu karena lelaki ini mendadak muncul di sampingku. Dari kejauhan, aku melihat Lana dan Kanaya tersenyum usil, lalu berlalu menuju meja yang tadi kami tempati sambil membawa gelas masing-masing.

“Kopinya..”

“Aku yang traktir. Java Chips, I hope it will make you feel better.” Gara memotong, seolah tahu apa yang bertengger di pikiranku.

“Java Chips, atas nama Arumi!” Sebuah suara terdengar, dengan gugup aku berbalik.

Thanks.” Terburu-buru, kuucapkan sepatah kata itu. Gara hanya mengangguk.

*

“Siapa, tuh? Ganteng juga..” Lana tertawa kecil sambil menyeruput Hot Chocolate di gelasnya. Kanaya diam, namun sikapnya memberi sinyal ingin tahu. Ia memajukan tubuhnya, menungguku membisikkan sebuah nama.

“Iptu Gara. Abhirama Anggara. Polisi yang menangani kasus Papa.” Lirihku pelan. Ada sebuah rasa sakit yang masih menyerang tiba-tiba, ketika aku menyebutkan ‘kasus’.

Polisi muda itu memang kerap berurusan denganku dan Dimas, usai kasus di malam tahun baru kemarin. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia seolah menjelma menjadi keseharian. Beberapa kali kami ngobrol, ia menanyakan hal-hal menyangkut Papa atau bisnisnya, dan juga mengenai beberapa kenalan terdekat. Ia juga beberapa kali singgah ke rumah untuk meminjam beberapa benda yang akan diperiksa kepolisian, kemudian mengembalikannya lagi pada kami. Kupikir, Era ada benarnya, untuk apa ia mengembalikan benda-benda itu? Padahal ia bisa menahannya sebagai barang bukti.

“Itu dia yang namanya Gara? Gile, cakep juga. Polisi zaman sekarang ganteng-ganteng, ya?” Lana tersenyum centil.

Lana yang paling bersemangat sore ini. Kanaya lebih banyak diam, namun sinar mata gadis itu agak meredup ketika menatap salah seorang teman Gara.

“Nay?” Aku menegur pelan, hingga membuat Kanaya agak tersentak kaget. “What’s going on?”

“Mirip Larry..” Tiba-tiba saja, ia menggumam tanpa sadar. Matanya hampir berkaca-kaca, namun ia buru-buru tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa barusan. “Cuma sekilas, kok.”

Aku tahu, kehilangan kami sama menyedihkannya, walaupun beda kasus. Kehilangan ayah dan sahabat tidak bisa dibandingkan mana yang lebih pedih. Keduanya memiliki porsi masing-masing. Kanaya merasakannya, tak lama setelah Larry pergi akibat kecelakaan nahas yang menimpa lelaki itu. Sama seperti kepergian Papa, tak ada yang menduga. Segalanya terjadi begitu cepat. Dan kita tak akan pernah siap menerima.

Tangan Lana terulur, menepuk-nepuk bahu Naya lembut seolah menenangkan seorang bayi kecil yang hendak menangis. Kanaya lebih cepat menguasai diri, kemudian kembali menatap ke arah meja Gara.

“Jadi, gimana kalian?”

“Gimana apanya?” Aku bertanya dengan nada bodoh.

“Ya kalian, darling! Gara gimana? Baik, perhatian, lucu, berwibawa, atau apa?”

“Entah, dia baik. Perhatian, kadang-kadang. Dia sedang membantu kami mengungkap kasus Papa.” Aku menjawab sambil memainkan sedotan di whipped cream.

“Jadi? Dia berpeluang dong, ya?” Lana menyambung dengan nada antusias.

“Berpeluang apa?”

“Lagi nggak nyari pacar.” Aku berkata sejujur mungkin, karena mulai sadar ke mana pembicaraan ini mengarah.

“Jelas aja nggak, Arumi sih nggak nyari juga pasti banyak yang ngantre. Misalnya Era si playboy kampus itu.” celetuk Naya cepat, disambung tawa Lana yang hampir saja menyemburkan cokelatnya.

Girls, come on.”

“Apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini?” Suara Naya berubah dalam sekejap, terdengar lebih serius. “Semuanya terasa singkat, kan? Makanya, kadang kita berhak untuk membahagiakan diri sendiri.”

“Gue nggak ngerti, Nay.”

“Lo ngerti, Arum. Kita semua ngerti sebenarnya. Tapi kadang menolak mengakui. Hal-hal simpel yang bikin bahagia jarang banget kita akui. Kadang malu, kadang gengsi, kadang takut dipandang berlebihan,” Kanaya tersenyum, kali ini kulihat raut wajahnya berbeda. Senyuman yang bukan senyum iseng, lebih tampak seperti senyuman penuh ketabahan, “gue pernah di posisi itu. Gue bahagia, tapi nggak pernah bilang ke dia. Gue senang dia selalu ada, tapi nggak pernah sempat mengakui, sampai akhirnya dia harus pergi jauh. Jauh sekali.”

Lana yang duduk di samping Kanaya tampak diam, enggan menyela. Berada diantara dua orang patah hati sungguh bukan kondisi yang bagus, dan selama ini Lana cukup hebat karena bisa berada di posisinya sekarang. Sedangkan otakku sibuk menyerap kalimat-kalimat Naya. Kami bertiga hening beberapa saat, sebelum suara Naya kembali terdengar.

“Apa yang kita cari di dunia ini, Arumi? Kadang kita sendiri juga nggak tahu, tapi nggak ada salahnya mengakui kalo kita bahagia, sedih, dan semacamnya. Kalau semuanya nggak berbalas, seenggaknya kita nggak pernah terlambat, kan?”

“I’ll make my confession later. I think, I will. We gonna go to Lombok for the next trip, and I think you’re right, Miss Greeny.” Lana tiba-tiba menyela walau suaranya agak pelan. Kami sama-sama tahu siapa yang ia maksud, seorang lelaki yang sudah menjadi teman travelingnya selama beberapa tahun. Seorang lelaki yang memberinya sebuah rasa –namun tak pernah ia akui sebagai cinta. Dan Miss Greeny adalah panggilan Lana untuk Naya yang memang penggila warna hijau.

See?” Naya menatapku, melemparkan pandangan penuh kemenangan. “Di hidup yang sementara ini, kadang kita hanya perlu berusaha membahagiakan diri sendiri, misalnya dengan hal-hal sederhana seperti ini..,” ditunjuknya Java Chips milikku, “atau mengakui rasa di sini.” jemarinya bergerak, menunjuk dadanya, tepat di tengah.

Mataku mengerjap pelan, kemudian menoleh ke arah meja Gara. Lelaki itu tampak bercakap-cakap santai dengan kedua temannya, sebelum akhirnya menoleh tiba-tiba –seolah menyadari tatapanku, dan membuat pandangan kami beradu.

Sebuah senyuman mengembang begitu saja, tanpa kusadari. Gara langsung membalasnya. Entah kenapa, sesuatu terasa beterbangan di dalam perutku.

Jadi, apalagi yang kita cari di dunia ini?

Di hidup yang sementara ini?

*

*Cerita pendek yang idenya muncul tiba-tiba sehabis nongkrong bareng @miss_zp dan @dinoynovita

*Lana adalah tokoh di novel Get Lost milik @dinoynovita, sedangkan Kanaya adalah tokoh di novel Hari Tanpamu, yang masih on progress ditulis oleh @miss_zp

*Arumi, Gara, Era, dan Dimas adalah tokoh di novel terbaru gue, Monthly series Januari; Flashback, terbitan Grasindo. Cerita ini termasuk cerita lepas, nggak ada hubungannya sama novel, tapi hanya menggunakan tokohnya saja
image

(Visited 24 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *