Tema yang ini agak susah-susah gampang untuk dituliskan. Tapi lebih baik dituliskan sekalian, daripada temanya mubazir. Jadi, ‘surat cinta’ ini akan diberi judul:

Kepada Perempuan yang Membuat Saya Membenci Kota Jogja

Saya tidak perlu basa-basi memperkenalkan diri seperti surat-surat lain pada umumnya, karena kamu *oh ralat*, maksudnya Anda pasti sudah sangat mengenal saya, bukan? Saya yakin ia –lelaki yang sama-sama pernah kita cintai itu, sering menceritakan saya pada Anda. Sengaja juga saya gunakan ‘Anda’ dalam kalimat-kalimat ini, sebab ‘Kamu’ terkesan akrab dan bersahabat.

Ya, ya, seluruh dunia kan tahu, kita ini bukan teman, apalagi sahabat. Terlalu munafik rasanya, jika mengaku berteman dengan seorang perempuan yang mendadak datang dan mengacaukan hidupmu. Hehe.

Saya ini perempuan jahat, daripada berpura-pura berlapang dada di depan banyak orang, saya lebih suka mengakui apa yang saya rasakan –terutama di depan teman-teman saya, –atau mungkin teman-teman dia juga. Mereka semua tahu, dan bisa menyimpulkan sendiri.

Saya bukan perempuan lemah lembut dan pasrah. Saya ini perempuan jahat, keras kepala, dan pemberontak, tapi saya tidak suka menjadi benalu dalam kisah cinta orang lain. Saya punya batas jahat yang masih bisa saya takar dengan otak. Saya tahu, cinta tak pernah bisa dihindari, tapi saya rasa, pikiran bisa membuat kita tetap waras, untuk tetap tahu diri. Itulah yang saya lakukan selama ini, dan itu juga sebabnya mengapa saya –si perempuan jahat ini, masih tetap punya beberapa orang sahabat yang setia, tanpa perlu menuntut perhatian lebih dari lelaki milik perempuan lain.

Saya tidak berminat menanyakan apa yang Anda rasakan, tapi percayalah, saya pernah berjanji pada lelaki kita itu (oh, dulu. Sekarang bukan lelaki saya lagi, entah dengan Anda), sampai mati pun, kita tidak akan pernah bisa berteman. Jahat? Mungkin. Tapi itu saya katakan sejujur-jujurnya, sebenar-benarnya. Bagaimanapun, manusia punya sisi jahat dalam dirinya. Tapi lebih baik memperlihatkannya saja, ketimbang disembunyikan. Baiklah, saya tuliskan ini dengan seelegan mungkin: Saya memaafkan segalanya, tapi seperti saran seorang teman –saya tidak melupakan. Saya jelas tidak lupa, karena saya tidak amnesia. Saya masih ingat detailnya. Well..

Oh iya, by the way, saya rasa sepertinya harus mengucapkan terima kasih pada Anda.

Terima kasih sudah membuat hidup saya makin kacau setelah kepergian ayah saya.

Terima kasih sudah membuat saya merasakan sedih yang sesedih-sedihnya.

Terima kasih sudah datang dan membuat segalanya tak pernah sama lagi bagi kami berdua.

Terima kasih –sebab Anda hadir sebagai perempuan lain yang tak mau mengalah, apalagi menjauh, saya akhirnya melepaskan.

Terima kasih atas drama-drama murahan yang kini bisa saya tertawakan.

Kita dan semua orang sama-sama tahu, saya sudah menang. Ini pengakuan yang kejam sekali, ya? Hehe. Tapi benar adanya, bukan? Saya sudah menang, walau melepaskan. Saya menang, karena saya melepaskan seorang lelaki yang menghargai Ibu saya pun ia tak mampu. Saya menang, karena melepaskan seorang lelaki tak setia. Dan saya menang, karena sayalah yang menjadi kekasihnya terlebih dulu hingga saya benar di mata orang banyak. Saya menang, karena saya bukan pencuri kebahagiaan orang lain.

Saya menang, walau bisa tertawa seperti hari ini butuh perjuangan panjang dan rangkulan banyak teman.

Saya menang karena saya meyakini ini..

Halo, saya ini perempuan jahat.

Ingat?

*

P.S.: eng, dan inti dari surat ini adalah, saya juga masih sangat ingat bagaimana lelakimu itu membohongi saya mentah-mentah dan diam-diam liburan berdua ke Jogja. Well :p

(Visited 36 times, 1 visits today)

10 Thoughts to “#TantanganMenulis 2: Menulis untuk Orang yang Tidak Kamu Suka/Mungkin Tidak Menyukaimu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *