#TantanganMenulis

#TantanganMenulis 9: Impian

Udah cukup lama rentangnya sejak tantangan menulis 8, baru sekarang kepikiran untuk buat tantangan menulis lagi. Sebenarnya untuk mencegah ‘tulisan ngasal’, saya sengaja nggak memberi deadline pada diri sendiri. Ya, soalnya ini juga bukan naskah novel yang kejar target cetak. Ini cuma nulis di blog yang bisa dilakukan selagi santai, selagi ngantuk, atau kalau kamu kreatif –ya, di sela jam kantor.

Kali ini pengin nulisin tema sendiri, yaitu tentang impian. Kalau orang lain ditanya apa impiannya, mungkin orang-orang kebanyakan akan menjawab ‘pengin ke Paris’, atau ‘naik haji’, atau ‘punya mobil’, ‘jadi artis’, atau bisa juga ‘jadi penulis terkenal seperti (menyebutkan nama idolanya)’. Ya, ya, saya punya kok impian-impian duniawi seperti itu. Tapi beberapa tahun ini saya sadar bahwa saya ingin sesuatu yang berbeda. Saya ingin keliling ke beberapa tempat baru, sendirian. Melihat hal-hal baru yang nggak pernah saya lihat sebelumnya. Berjumpa orang-orang baru yang nggak pernah saya kenal sebelumnya. Mencoba makanan-makanan khas mereka yang tentu saja belum pernah saya makan. Mengamati bagaimana kehidupan di tempat lain –yang jauh dari kota besar. Mencari sesuatu yang saya pun tak tahu apa. Yang jelas bukan manusia. Saya tak lagi mencari manusia –ralat, saya sudah berhenti mencari manusia lain, baik untuk menjadi teman, sahabat, atau pacar. Saya sudah melewati fase mendapatkan dan kehilangan banyak hal, banyak orang yang saya cinta, dan saya memutuskan tak ingin lagi. Jika seseorang datang, biarkan saja. Selalu saya tekankan pada diri saya sendiri, siapapun bisa pergi di waktu yang tak pernah kita duga. Dan kita akan selalu sendiri. Karena itu saya berhenti mencari kawan baru. Semuanya datang sendiri, pergi sendiri, dan saya mencoba tak peduli lagi. Impian saya yang terbesar barangkali hanya itu saja. Saya ingin melihat, merasakan, memijak, dan menjalani sesuatu yang baru.

Terkadang saya bertanya pada diri saya sendiri, bagaimanakah rasanya hidup sebagai orang lain? Barangkali suatu hari saya bisa mencoba hidup sebagai Sephia -tokoh novel saya yang pertama. Seorang gadis yang melarikan diri ke kota lain, kemudian bekerja sebagai kasir mini market. Atau saya bisa menjadi Kinar -tokoh novel saya yang kedua. Seorang gadis yang bekerja di majalah fashion. Punya segalanya karena mengencani anak bos besar. By the way, kehidupan Alena di novel ketiga saya bagus juga. Ia seorang jurnalis majalah traveling yang membuatnya bisa ke mana-mana. Bicara novel keempat, saya tak ingin menjadi Mei. Tidak, kehidupan Mei adalah kehidupan yang jatuh bangun saya lupakan. Kesedihan, kehilangan ayah, tak punya semangat hidup. Mei adalah saya. Saya ini perempuan jahat, ‘melemparkan’ semua duka pada tokoh Mei, kemudian merilis novelnya dengan wajah bahagia. Kalau Mei itu hidup, mungkin ia akan membenci saya. Hehe. Atau jadi Arumi Rahardja –si putri konglomerat, seperti di novel Januari; Flashback saja? Entahlah, saya tak tahu. Juga tak mengerti. Saya hanya ingin sesekali hidup sebagai orang lain. Dipanggil dengan nama yang berbeda. Tak ada yang mengenali diri saya yang sebenarnya. Semuanya serba baru.

Intinya, saya ingin sesuatu yang baru. Mungkin karena sekarang saya bosenan sekali. Saya cepat bosan pada sesuatu. Ini aneh, padahal dulu saya pernah jadi sosok yang sangat kaku, menjalani hal yang itu-itu saja; menjadi pacar yang setia, menjadi sahabat yang mendengarkan curhat sahabatnya 7 hari 24 jam, menjadi mahasiswi sepenuhnya, mengerjakan tugas-tugas yang mata kuliahnya saja saya tak suka. Saya pernah menjadi orang yang amat sangat membosankan. Dulu, sebelum saya tahu bahwa saya perempuan setia yang bodoh, sahabat malang yang dikerjai sahabatnya sendiri, dan mahasiswi salah jurusan korban keegoisan keluarga.

Sekarang saya sudah sedikit menjadi orang yang baru. Tapi lebih pembosan dari saya yang dulu. Saya yang sekarang, senang berganti rupa, dan selalu menginginkan sesuatu yang baru. Ini bahaya, karena kelamaan saya bisa menginginkan lebih banyak hal, padahal belun sanggup memenuhinya sendiri.

Begitulah.
Dan sekarang saya bosan pada semua orang. Terlebih pada apa yang tak bisa saya lihat maupun saya sentuh. Misalnya, dunia maya dan seisinya. Padahal di sinilah saya bertumbuh. Sekarang, detik ini, saya hanya ingin konsen pada hal-hal yang nyata ada di depan mata; misalnya pekerjaan.

Begitu saja.

Posted from WordPress for Android

(Visited 23 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *