Cerita pendek

#MenulisBerantai – Close to You (part 1)

Bro, semua beres. Udah pada ngumpul.” Kalimat itu terdengar dari sisi kiri, suara Acil –salah satu temen basket gue yang juga nggak pernah absen main bareng, bahkan tawuran bareng.

Di belakang kami, puluhan anak-anak lain juga tampak siap dengan batu, pentungan, dan senjata lain di tangan. Senyum gue tersungging sinis. Kubu sekolah sebelah harus tahu, dengan siapa mereka berhadapan. Dan gue selalu senang dengan pertempuran seperti ini.

Putaran jam selalu terasa melambat setiap kali kami menunggu kubu musuh. Gue berusaha menajamkan pandangan mata. Mereka bisa datang kapan saja, dari mana saja. Senyum gue masih tersungging, menjadi lebih lebar ketika suara heboh muncul pelan-pelan.

“SMA Nusa masih punya nyali juga ternyata.” Bram –cowok gondrong pentolan kubu mereka, berdiri paling depan. Di sampingnya ada dua kaki tangan yang memamerkan tampang sok sangar, sedangkan di belakang mereka puluhan siswa lainnya menunggu.

“Siap perang?” Gue terlalu malas basa-basi.

“Pantang pulang sebelum menang.” Suara itu terdengar yakin.

“SERAAANNGG!” Seruan kedua kubu terdengar, kemudian dalam hitungan detik kami sudah saling baku hantam.

Tonjokan, gebukan, serangan benda tajam, semuanya berhasil gue hindari dengan baik. Harusnya tim gue juga, kalau Acil nggak bego dengan memasukkan terlalu banyak murid junior di jajaran pasukan kami. Gue hampir nggak pernah kalah. Biasanya gue memastikan bahwa tim yang gue turunkan adalah tim terbaik. Tapi kali ini perang dadakan, anak kubu sebelah ketahuan menyelundup ke sekolah kami. Anak itu dipulangkan ke sekolahnya dalam keadaan babak belur, nggak lama setelah itu terdengar tantangan perang kubu sebelah.

Gue, Acil, Rio, dan Andre berhasil lolos dari banyak serangan. Tapi entah kenapa, junior-junior itu terlalu lambat. Pasukan Bram menyerang dari berbagai arah, dan sekarang hanya empat puluh persen pasukan gue yang masih sehat walafiat. Andre menangkap serangan musuh di belakang Rio, tapi bisa membereskannya dengan satu tendangan cepat. Cowok botak itu ambruk seketika, disusul tendangan Acil di perutnya.

“Ini apa-apaan?!” Gue berbisik pada ketiganya. “Goblok! Harusnya kita pake tim yang biasa.”

“Dadakan, Bro. Ini juga gue seret semua makanya pada keluar.” Acil menjawab.

“Pasukan lo cupu, Cil. Gila, kita bisa kalah!” Rio mengumpat kesal, tak lama kemudian ia sibuk menghadang siswa yang memainkan pisau lipat dan hampir menyerang kami.

“Ini sih anak ingusan semua yang turun.” Andre bersungut-sungut. Kami baru berpencar ketika menyadari bahwa sudah lebih banyak pasukan yang tumbang. Bersimbah darah di mana-mana. Batu-batu terus melayang. Pasukan Bram memainkan pisau lipat dengan ekspresi menantang.

“Cabut, Yan! Cabut!” Acil berujar panik. “Kita udah nggak imbang!”

Kami berpencar dan mencari cara untuk kabur. Seperti biasa, gue hanya mengikuti insting, kemudian berbelok ke sebuah tempat sepi. Dari belakang, seruan dan umpatan geng Bram masih terdengar.

“HEH! Berhenti lo!” Gue menyetop seorang cowok berkacamata yang mengendarai motor. Gue kenal seragam itu, seragam sekolah kami.

“Ada apa?” Tanyanya bingung.

“Gue nebeng. Buruan!” Tanpa basa-basi, gue naik ke motor.

“Lo Ryan yang anak basket, kan?”

“Nggak ada waktu kenalan sekarang. Cabut!”

“Tapi..”

“WOY, RYAN! PENGECUT, BALIK LO!” Teriakan Bram dari kejauhan.

“Gue Ilham.” Ia masih sempat mengucapkan itu sebelum memacu motornya menjauh.

Untuk sementara, gue selamat di tangan cowok berwajah kutubuku ini.

*

Love cycle online festival

Ditulis untuk Menulis Berantai #TimPDKT LoveCycle @Gagasmedia
Simak kelanjutan ceritanya di lanisamoffi.blogspot.com oleh @Nisa_MS_

(Visited 43 times, 1 visits today)

13 thoughts on “#MenulisBerantai – Close to You (part 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *