#NulisRandom2015

#NulisRandom2015 – Pemahaman, Keyakinan, dan Segala-galanya

Saya tidak tahu mengapa saya memberi judul demikian pada postingan kali ini. Yang jelas, saya hanya ingin bilang, bahwa kita tak pernah bisa memaksakan kehendak kita terhadap orang lain.

Oh, tadi pagi saya sempat membaca artikel bagus. Intinya, postingan tersebut berisi kisah adik kandung H. Agus Salim yang dikisahkan komunis kemudian perlahan masuk Kristen. Beberapa orang menanyakan komentar beliau dan selalu keheranan mengapa beliau jawabnya Alhamdulillah.

Mungkin itu jawaban di luar ekspektasi. Barangkali, banyak orang berpendapat bahwa yang bukan agamanya adalah sesat. Padahal, kita harusnya bisa stay dengan kepercayaan masing-masing tanpa saling mengganggu.

Pihak agamis tidak sibuk menentang pihak non agamis.
Pihak non agamis pun jadi gerah karena terus-terusan ‘diurusi’ mereka-mereka yang katanya beragama.

Saya tidak tahu harus melanjutkan postingan ini dengan kalimat atau pendapat apa. Tapi, tinggal serumah dengan (Alm) Ayah saya yang notabene nggak percaya agama, saya merasa pikiran saya lebih terbuka. Saya tak perlu mempermasalahkan apa kepercayaan orang. Yang harus saya pikirkan adalah bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Setaat apapun agamamu, kalau kamu licik pada orang lain, saya tetap tak akan berteman. Setaat apapun agamamu, kalau kamu merebut kebahagiaan orang, saya hanya akan bilang, bahwa saya tak suka berkawan dengan maling.

Seatheis apapun seseorang, kalau dia asyik dan saya rasa baik, ia bisa menjadi karib saya. Tak ada masalah. Saya tak peduli ia bertuhan atau tidak. Karena semakin ke sini, kita tidak bisa mematok kebaikan hati seseorang hanya berdasarkan kepercayaan yang diakuinya. Karena semakin ke sini, manusia semakin abu-abu.
Karena semakin ke sini, beberapa manusia beragama pun bisa menjadi seorang yang jahat.

Posted from WordPress for Android

(Visited 47 times, 1 visits today)

2 thoughts on “#NulisRandom2015 – Pemahaman, Keyakinan, dan Segala-galanya

  1. “I am… a believing, free thinker,” ungkap Berdyaev. Dan saya mengiyakannya, dengan tetap memegang agama dogmatis saya.
    Kepercayaan emang soal pengalaman dan kesadaran subyektif seseorang. Tapi beragama tak sama artinya hanya dengan punya agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *