Coretan

Hujatan Kalian dan (Usaha) Penerimaan Mereka

Beberapa waktu lalu, Amerika menyatakan bahwa mereka melegalkan pernikahan LGBT. Hal ini disampaikan langsung oleh presidennya, Barack Obama, di ranah Twitter. Untuk memastikan berita cihuy itu benar adanya, The White House ikutan RT dan memberikan hastag #LoveWins

As we know, our netizen is very very very hyperactive kalau mendengar berita sensitif begini. I talk about local netizen, actually. Saya nggak tahu dan nggak lihat juga bagaimana netizen luar negeri menanggapi hal ini, tapi yang jelas saya tahu banyak dari mereka yang bahagia. Mungkin mereka-mereka yang dianggap kafir kalau di sini. Tapi yang jelas, kalau di Indonesia sih, sebanyak apa pun yang pro, pasti sebanyak itu juga yang kontra.

Kemudian netizen kita (sebagiannya sih) akan disibukkan dengan kegiatan baru, cuap-cuap mengomentari hal ini, atau bahkan menghujat hal ini. Saya nggak mau ceramah tentang bagaimana seharusnya mereka bersikap. Poinnya cuma satu: budaya kita dan Amerika saja sudah beda. Di sana hidup bebas sudah biasa, nggak beragama sudah biasa, LGBT sudah legal. Beda dengan di sini. Jadi, kita nggak bisa menanggapi kejadian di Amerika dengan menggunakan patokan pemikiran di Indonesia.

Yang mau saya sampaikan di postingan ini adalah, tentang hujatan kaum-kaum ‘lurus dan baik hati’ terhadap mereka-mereka yang LGBT. Kalau ada yang belum tahu, LGBT itu Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender. Kalau ada yang belum tahu lagi, Lesbian itu cewek suka sama cewek, Gay itu cowok suka sama cowok, Bisexual itu cewek/cowok yang suka sama cewek dan cowok (keduanya), sedangkan Transgender adalah cowok yang penginnya jadi cewek dan sebaliknya. Semuanya dianggap menyimpang karena memang tidak sesuai dengan manusia-manusia pada umumnya. Tapi percayalah, itu bukan penyakit. Jangan pandang mereka sebagai seorang yang penyakitan, because you are not an angel. Kita nggak sesuci itu, kok. Nggak perlu memandang orang sebegitu kotornya hanya karena mereka berbeda.

Image from here

Di tengah kericuhan itu, pagi tadi, saya melihat seorang teman membagikan postingan ini ke laman Facebooknya.  Postingan itu berisi tulisan  Goenawan Mohamad, seorang jurnalis senior sekaligus salah satu pendiri Majalah Tempo, Komunitas Utan Kayu, dan Komunitas Salihara. Saya pernah melihat beliau secara langsung sebelumnya, di sebuah acara. Ketika itu beliau jadi pembicara tentang sastra. Tapi saya tak pernah tahu kehidupan pribadi beliau bagaimana, dan saya sejujurnya bukan pembaca buku-buku beliau. Tapi di postingan itu, isinya adalah semacam curahan hati seorang GM mengenai anaknya yang lesbian.

Saya hanya ingat ia mengatakan, “Bapak, kan pernah bilang, saya boleh melakukan apa saja asalkan tidak mencelakakan diri saya dan merugikan orang lain.” Lalu ia menjelaskan dirinya. Saya terdiam sejenak. Lalu dengan suara cemas saya katakan kepadanya, kalau tak salah, Saya sedih. Kamu akan menjalani hidup yang sulit di masyarakat ini”. Tapi Mita berani jujur dan berterus-terang kepada saya membuat saya senang.

Gadis itu bernama Paramita Mohamad. GM kemudian menceritakan bagaimana kisah Mita memberitahu beliau bahwa ia ternyata ‘berbeda’ dari anak perempuan lainnya. Dari tanggapan-tanggapan beliau di postingan itu, saya kemudian merasa kagum. Terlepas dari bagaimana karir beliau sebagai jurnalis, sastrawan, atau karyanya yang memang belum pernah saya baca, saya merasa bahwa beliau adalah ayah yang keren. Menerima kenyataan itu sulit, dan yang dibutuhkan LGBT selama ini memang terutama adalah penerimaan dari keluarga. Beliau mampu melakukan itu untuk Mita. Seorang teman saya bilang, ia menangis membaca artikel tersebut. 🙂

Saya tak ingat persis bagaimana hubungan pernyataan Mita dengan surat cinta dari seorang wanita kepada saya yang ia temukan. Tetapi saya ingat memang mendapatkan sepucuk surat cinta dari seorang perempuan. Ia seorang Amerika dan satu-satunya orang yang pernah menulis surat seperti itu kepada saya. Saya tak mengingkarinya dan tidak pernah menyesal pernah menerima surat cinta itu. Saya memang bukan suami yang setia dan tertib, saya bukan suami yang ideal, tapi ikatan batin saya dengan isteri saya kuat.

Saya bukan tipe anak perempuan yang bisa terima jika ayahnya ketahuan punya ‘orang lain’ di luar rumah. Dan syukurnya sih, selama ini bahkan hingga meninggalnya, (alm) ayah saya adalah orang yang setia. Tapi membaca pengakuan GM yang begitu jujur, saya harus bilang, saya tetap kagum pada sikap beliau mengenai hal ini. Beliau bicara di ranah umum, mengonfirmasi tentang hujatan-hujatan orang pada anaknya yang dikabarkan Lesbian, sekaligus menuturkan apa yang menurut saya bisa dikeep saja, tak wajib diberitahukan ke netizen. Namun beliau melakukannya, membiarkan semua orang tahu dan belajar memahami, bagaimana cintanya untuk Mita, hingga beliau menerima semua kenyataan yang ada.

Nah, sepertinya postingan itu harus dibaca dulu sebelum kita berkomentar tentang LGBT dan segala permasalahannya di mata masyarakat selama ini.

Pengakuan putri Goenawan Mohamad, Paramita Mohamad, yang menyatakan diri sebagai lesbian pun kembali diperdebatkan. Akun Twitter @ayun_febriana menulis: “*spechles RT Ini link pengakuan anak Goenawan Mohamad bhwa dia lesbian, naudzubillah.” Kicauan @ayun_febriana itu dilampiri dengan link terkait pengakuan Paramita yang dirilis sebuah media online.

@budi_maryanto mengklarifikasi hal itu kepada GM: “Bener @gm_gm?” Melalui akun @gm_gm, GM menjawab: “Sungguh benar. Dan ayah serta ibunya sangat mencintainya.”

Artikel selengkapnya baca di sini.

(Visited 543 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *