Coretan

Nasib

Image from http://chocolateisnttheanswer.blogs.sapo.pt/

Apa yang kamu pikirkan tentang ‘nasib’?

Saya kira, nasib adalah sebuah hal yang sudah diatur dari sananya dan tidak bisa diubah lagi. Tapi di suatu kali, pernah juga saya berpikir, barangkali nasib yang kita kira sudah diatur Semesta itu, bisa saja berubah jika kita mau berusaha untuk mengubahnya.

Kemudian, saya teringat sebuah film pendek yang pernah saya tonton. Kalau tak salah, judulnya (Bukan) Kesempatan yang Terlewat. Satu hal yang sangat saya ingat, pemainnya Dian Sastro dan Christian Sugiono. Mereka dua orang asing yang mendadak saja bertemu di perjalanan, tepatnya di dalam kereta. Keduanya kemudian berkenalan dan ngobrol. Si lelaki suka membuat gambar sketsa, mengenai hal-hal yang dilihatnya. Suatu kali, di sebuah stasiun, si perempuan menuliskan ini di buku sketsanya.

“Turun, yuk?”

Dijawab si lelaki sambil tersenyum, “No.”

Si perempuan tak menyerah, dia menulis lagi. “Next trip?”

Jawaban berikutnya membuat saya mengulum senyum. “Tergantung nasib.”

Tergantung nasib. Kira-kira hal seperti apa saja yang bisa kita gantungkan pada nasib, jika kita tak berusaha? Entahlah, saya bukan Mario Teguh, jadi saya tak tahu jawabannya. Cuma, belakangan ini, pelan-pelan saya percaya, semua hal butuh perjuangan. Seperti misalnya si perempuan asing di kereta itu. Suatu kali dia memang turun sendirian. Hanya beberapa menit, ia merenung, kemudian menyesal dan ingin bertemu lagi dengan si lelaki. Kereta terus berjalan, ia berlari mengejar, ternyata tidak ada waktu.

Kereta itu pergi.

Tapi seperti biasa, film manis selalu punya kejutan. Lelaki itu ternyata turun sesaat sebelumnya, melihat perempuan itu mengejar kereta. Mereka berpelukan bahagia dan the end.

Ending manis seperti itu bisa dituliskan, jika di film atau ceritera fiksi. Tapi dalam hidupmu, tak cukup sekadar menulis, kamu harus memperjuangkannya. Kira-kira apa yang akan terjadi jika itu bukan film? Saya rasa si perempuan akan hidup dalam penyesalan sampai beberapa periode hidupnya. Terlebih jika ketika tua ia bertemu lagi dengan si lelaki. Penyesalan itu mungkin akan semakin menumpuk.

Apa yang kalian pikirkan tentang nasib?

Menurut saya, nasib adalah usaha kita di masa lalu.

Bukankah hidup itu sesimpel; jika rindu ya bilang, jika ingin bicara ya bicara, jika ingin bertemu ya hubungi orangnya, jika sayang utarakan.

Tapi kita manusia, punya penghalang yang kokoh untuk melakukan semua itu: ego.

Padahal kita bisa saja menghabiskan seumur hidup hanya untuk menyesali satu dua hal. Padahal kita bisa saja membuang ego selama satu dua menit hanya untuk bilang, “aku rindu, pengin ketemu.”

Tapi seringnya, kita tak melakukan itu. Kemudian kita menyesal, dan menganggap nasib itu jahat sekali. Menurutmu nasib akan bilang apa? Menurut saya, ia akan bertanya, “memangnya, apa yang sudah kamu perjuangkan?”

Malam ini lagu Ipang mengalun manis.

Sampai kini masih kutunggu datangnya keajaiban

yang mungkin saja bisa memberiku waktu satu kali lagi

seandainya masih bisa kudapatkan

sekali lagi

satu kali lagi..

 

Masih tertunda dan belum semua kukatakan

Biar kutunggu sampai kau kembali lagi di sini

Harus kau dengar, semuanya harus kau dengarkan

Isi hatiku..

..yang belum kusampaikan

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *