Coretan

Kamu adalah (Penguasa) Tubuhmu

Sampai hari ini masih ada yang suka menanyakan pertanyaan retoris –pertanyaan yang sebenarnya mungkin jawabannya sudah ada, namun si empunya pertanyaan tidak mau menerima, dan terus-terusan bertanya pada orang lain hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Pertanyaan keramat itu intinya sama, haruskah saya menyetujui jika pacar saya menginginkan hubungan yang lebih, dan melakukan hal-hal yang aneh-aneh?

Malam ini pertanyaan itu datang lagi, yang nanya sebut saja namanya A. Dek A ini tadi bertanya, “agar pacaran bisa awet, apa aku harus menuruti permintaan pacar untuk melakukan ini itu?”

Sebelumnya nih, sebelum saya nyerocos panjang lebar, FYI aja buat Dek A dan dedek-dedek lain di luar sana, maaf-maaf kata, pacaran awet dan rasa sayang itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan tit*t. Jadi, kalau menurutmu pacarmu itu sayaaaaaaaaaaaanggggg banget sama kamu (saking sayangnya, sampai huruf ‘A’ dan ‘G’-nya tak terhingga), ya nggak mungkin dia minta bobok bareng.

Ada sebuah jokes di kalangan cowok-cowok, bunyinya kurang lebih begini..

Cowok memang nggak apa-apa kalo pacarnya nakal, tapi kalau untuk dijadikan istri, ya pastinya mereka selalu nyari perempuan baik-baik.

Jadi, sudah jelas kan? Kalau dia mau bobok sama kamu padahal kalian belum resmi nikah, ya itu tandanya dia lagi pengin bobok-bobok tsakep aja. Gelut-gelut manja di sore hari nan cerah. Nggak ada maksud apa-apa, apalagi gombalan-gombalan mureh semacam, “nanti kalau ada apa-apa, pasti aku nikahin kamu” atau “sekarang atau nanti kan sama aja, nanti juga kita serumah, kok.”

Pret 😛

Jokes lain pernah bilang, laki-laki itu kayak anjing, dikasih daging segar dari mana aja juga pasti mereka mau. Tapi menurut saya itu terlalu jahat, karena mungkin sepersekian persen laki-laki nggak seperti itu banget. Jadi mari kita perhalus jokesnya. Mungkin lebih tepatnya, lelaki itu seperti ular cobra. Kalau kamu nggak hati-hati, ya bahaya. Tapi sebagai perempuan, jangan mau jadi korbannya ular cobra, jadilah pawangnya! 😛

Kalau dipaksa gimana, Kak?
Tinggalkan. Kenapa kamu harus takut meninggalkan pacar yang seperti itu? Masih ada jutaan cowok lain di luar sana yang jauh lebih baik. Nggak percaya? Coba aja 😛

Image from here

Tapi dia bilang, dia mau tanggungjawab, kok.
Kan katanya 😛 Bagus deh kalo beneran dilakukan. Kalau nggak, apa yang kamu pertaruhkan di dalam kalimat ‘dia mau kok tanggungjawab’ itu? Banyak, kan? Orangtua, masa depan, masa muda.

Tapi Kak, katanya lebih baik minta ke aku daripada dia ‘jajan’ di luar.
Kalo kata seseorang sih, ‘mending kotor pake tangan sendiri ketimbang jajan di luar.’ Camkan itu, dek! Muehehe.

Jadi, tolong berhenti menanyakan stupid question semacam, “aku harus gimana?”

Kalau kamu tegas, harusnya kamu menolak. Tapi kalau kamu berani dengan pilihan itu dan tahu betul apa risikonya, jalani saja. Bagaimanapun, kamu adalah penguasa atas tubuhmu sendiri. Jadi, jangan ragu-ragu. Kalau memang maunya nggak, ya nggak aja. Kalau kamu juga mau, nggak usah pura-pura bingung. Katanya bejat itu nggak boleh nanggung-nanggung. 😛 hahaha.

Tapi yang harus diingat memang hanya ini: tidak ada yang bisa menjamin seseorang akan sama kamu selamanya –nggak peduli kalian udah melakukan apa saja. Kalau dia mau pergi, dia bisa pergi. Kamu nggak bisa menahan-nahan orang yang tak ingin tinggal. Seberapa kuat pun kamu menahan, dia tetap akan pergi jika ingin. Tapi, orang yang menyayangi biasanya menjaga, nggak akan minta macam-macam, dan nggak akan ke mana-mana 🙂

Untuk cemilan ringan, bisa baca postingan kece ini.

*

Postingan lain dengan topik yang sama: Kekuasaan Tubuhmu ada di Dirimu Sendiri

(Visited 44 times, 1 visits today)

1 thought on “Kamu adalah (Penguasa) Tubuhmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *