Sepertinya terlalu banyak orang yang bercerita belakangan ini 😛 Kemarin, atau kemarinnya lagi –saya lupa pastinya kapan, ada teman yang bertanya. Bunyinya kira-kira begini..

Saya dan dia sudah seperti pasangan, kami melakukan banyak hal sama-sama. Tapi orang di sekitar kami selalu bertanya kapan jadian. Is it really necessary, that relationship status?

Image from here

Entah harus jawab apa. Saya bukan orang yang pintar memberikan saran yahud, malah lebih pandai memberi arahan lewat hal-hal yang pernah saya alami/lakukan. Saya juga tidak tahu lagi, status itu penting atau tidak. Tapi mungkin, berhubung negara kita bukan negara Barat sana –di mana orang-orang yang bukan pasangan pun bisa berciuman di pinggir jalan, atau sepasang orang yang belum menikah bisa hidup serumah sampai bertahun-tahun kemudian punya anak, jawabannya mungkin: penting!

Kalau ditanya mengapa, jawaban pertama yang terlintas di kepala saya adalah, karena perempuan kita terlalu percaya pada satu lelaki, dan lelaki di negara kita seringkali ingkar janji. Saya tidak bilang lelaki di negara lain lebih baik, tapi lebih tepatnya tidak berkomentar tentang kehidupan di negara lain karena tidak begitu paham.

Kembali ke topik masalah. Perempuan di negara kita terlalu mengagungkan janji laki-laki, sesampah apapun janjinya. Dan lelaki seringkali ingkar. Makanya status diperlukan. Kamu harus tahu siapa dirimu; pacarnya, istrinya, istri sirinya, selingkuhannya? Hahaha.

Karena status temenan aja, nggak ada apa-apa, tapi ya jalani aja sangat jarang bisa terjadi di sini. Pertama, karena tidak semua orang senang dengan pemahaman ini. Walau saya sih senang-senang saja. Mungkin pertemanan macam ini yang diberi nama friend with benefits. Saya senang-senang aja selama hal-hal semacam ini menguntungkan. Woiya, saya perhitungan dong, saya ini orang Padang 😀 hahaha. Saya nggak mau terlibat dalam hubungan yang cuma bisa merugikan. Ketimbang pacaran tapi kesal tiap hari, saya lebih santai punya teman yang friend with benefits tapi saya ketawa terus. Di sini konteksnya lawan jenis, ya.

Kedua, karena hubungan semacam ini nggak jelas alurnya mau ke mana. Pasangan bukan, jadi nggak bisa ditebak bakal lanjut ke pacaran atau nikah, atau malah begitu terus sampai kapan-kapan. Jadi, buat yang suka baper sama lawan jenis mungkin kurang cocok menjalani hubungan macam ini. Kamu bakal sakit hati 😛 orang-orang yang menjalani hubungan seperti ini biasanya bebas mau pergi dan main dengan siapa saja. Jadi, jangan pernah menganggap ‘si teman’ itu benar-benar milikmu. Kamu akan bersaing dengan beberapa perempuan/lelaki lain yang juga dekat dengannya.

Ketiga, lebih cocok buat yang sudah lelah dan malas nyari perkara. Kalau pacaran, kamu bisa ribut hampir setiap hari. Punya masalah hari Senin, kalau hari Selasa belum selesai, pasti ribut lagi. Dan lagi. Lagi. Sampai mampus. 😛 Kalau tanpa status apa-apa, kamu nggak perlu mengklaim konfirmasi atau memberikan konfirmasi. Ketika kamu merasa sudah nggak cocok, ya sudah. Silakan cari yang baru. Gitu aja kok repot 😐

Keempat, kamu punya seseorang yang selalu bisa kamu andalkan, tapi tidak kamu miliki. Jelas, kan, bedanya? Kamu bisa mengandalkan dia, tapi jangan baper kalau orang lain juga mengandalkan dia. Come on, jangan manja, dia bukan hak milik kamu. Dia berhak jalan dan keluar sama siapa saja.

Kelima, punya tempat untuk tertawa dan menangis, tapi (seharusnya sih) nggak akan bikin kamu nangis 😛 (selama kamunya nggak baperan).

Makanya, kalau ditanya, apa status itu penting? Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung bagaimana pandangan hidupmu. Dulu, buat saya status itu penting banget, sih. Tapi sekarang saya sedang bosan dan pengin santai dulu, jadi jawabannya: nggak begitu penting, sih, selama saya punya seseorang untuk mengadu, bercerita, menangis, dan tertawa.

Entah nanti di lain hari 🙂

(Visited 37 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *