Coretan

Wajah Jakarta Menjelang Senja

Tempo hari, saya dan Bella mampir ke Gramedia Gajah Mada. Konon katanya, Gramedia yang bangunannya sangat klasik untuk ukuran toko buku ini adalah Gramedia pertama di Jakarta. Tak ada pintu otomatis seperti di mal mewah, bahkan tangganya adalah tangga biasa –mengingatkan saya pada sebuah Gramedia kecil di kampung halaman saya di Sumatera Barat sana, bertahun-tahun yang lalu.

Entah kenapa, saya merasakan kesenangan tersendiri ketika masuk ke toko buku yang satu itu. Walau saya tidak mengambil satu foto pun, tapi saya merasa ‘pulang’ ketika masuk ke dalamnya. Mungkin saya hanya terlalu kangen, atau kedua Gramedia ini terlalu mirip saja.

Saya lalu membeli sebuah buku dan membayarnya tanpa harus antre di kasir. Kami kemudian keluar dan mencari sebuah warung untuk membeli air mineral botol. Sampai akhirnya kami menemukan sebuah lapak kecil di depan ruko-ruko di daerah Gajah Mada -tak jauh dari Bank BCA Gajah Mada. Seorang ibu tua duduk sendirian menunggui dagangannya. Sempat seorang tukang jamu lewat menawarkan dagangan, namun beliau menolaknya dengan nada tak bersemangat.

20150906_174030

Saya mendekati beliau, kemudian membeli sebotol air mineral. Dan sesuai kebiasaan kami yang suka random, saya dan Bella kemudian duduk-duduk di pinggir jalan itu, melihat suasana Jakarta yang mulai muram karena malam akan datang tak lama lagi. Kami diam sebentar, karena saya sibuk membuka buku yang baru saya beli.

Foto: Bella
20150906_174045
Pinggir jalan Gajah Mada

Kemudian, ada satu hal yang membuat kami tertegun sebentar sebelum akhirnya bicara lagi: beberapa lapak kecil mulai dibuka di pinggiran jalan tersebut. Yang pasti, itu bukan lapak tukang pecel lele, soto daging, sate ayam, atau makanan semacamnya. Bukan, itu sama sekali bukan makan malam pengganjal perut, tapi jelas tertulis di kedai mungilnya: obat kuat, viagra, dan sederet nama lain yang tidak saya ingat.

Kami spontan tertawa kecil berdua, seolah sama-sama tersadar. Saya yang pertama kali bersuara, “banyak lapak kayak gitu di sepanjang Pasar Baru, Sis. Ternyata sampai ke sini juga, ya?”

Ini dia nih lapaknya..
Ini dia nih lapaknya..

Bella yang ikut tertawa kemudian nyeletuk, “iya, kan memang daerah prostitusi.”

Kami tidak berdiskusi lebih jauh sore itu, tapi pikiran bawel saya masih berputar dan penasaran, mengapa semua orang tahu di sana ada prostitusi –bahkan sampai ada lapak obat kuat segala, berjejer begitu saja, namun tak ada yang menertibkannya.

Maka, tadi malam, ketika saya ngobrol dengan seseorang –yang tentu saja lelaki, saya kembali mempertanyakan hal ini. Mengapa harus dengan lelaki, bukan perempuan? Seperti kata Ayu Utami dalam bukunya Si Parasit Lajang (KPG, 2013)..

Jika saja anak-anak perempuan lebih terbuka mengenai eksplorasi seksual mereka semenjak dini, mungkin tak terlalu banyak ketakutan yang mereka alami. – Hal. 14

Karena tak semua perempuan terbuka dan santai seperti lelaki, ketika membahas hal tabu semacam ini. Lagipula, saya hanya merasa penasaran dengan prostitusi pinggir jalan itu, dan biasanya lelakilah yang punya banyak cerita menarik.

Jadi saya berkata, saya melihat lapak-lapak obat kuat itu terlalu banyak di daerah Pasar Baru hingga Jakarta Kota sana. Ia -si lelaki, hanya tertawa, kemudian berkata bahwa ia juga tak tahu mengapa orang masih mengonsumsi obat kuat semacam itu, padahal ada efek sampingnya.

Yang lebih lucu, ketika saya dengan polos nyeletuk, “kenapa sih, pada suka pake obat, Kang? Apa bedanya coba.”

Lalu dengan lebih polosnya dia menjawab, “ya biar durasinya lama, Neng.”

Lalu kami mungkin sama-sama tertawa di tempat masing-masing, menertawakan topik bodoh ini, yang nyatanya malah kami pikirkan dan bicarakan. Pada intinya, pertanyaan saya tak pernah terjawab, mengapa prostitusi jalanan itu bisa melenggang dengan santai setiap malam, tak pernah diringkus.

Tapi barangkali memang begitulah adanya wajah Jakarta. Bukankah Jakarta itu kotak pandora -di mana hal-hal baik dan bejat bisa ada di tempat yang sama, orang lurus dan bajingan bisa ada dalam satu kelompok, serta tempat ‘tontonan sirkus kehidupan’ yang lainnya berkumpul?

Kemudian saya menjawab pada diri saya sendiri: ya.

Dan begitulah pada akhirnya.

*

Postingan versi Bella bisa dibaca di sini

(Visited 56 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Wajah Jakarta Menjelang Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *