Coretan

Ingatan-ingatan yang Menua

Gambar dari sini

Beberapa waktu belakangan ini, saya kerap mengingat atau memimpikan kenangan-kenangan yang lalu. Banyak hal, bahkan kadang terasa cukup nyata ketika saya baru saja terbangun beberapa detik dari tidur. Mungkin saya rindu masa lalu, rindu masa kecil, atau orang-orang dari masa lalu yang merindukan saya 😛 Mitosnya begitu, kan?

Ayah dan Ayah Kedua
Salah satu yang selalu datang ke dalam mimpi saya adalah ayah. Ayah saya meninggal dua tahun yang lalu, dan -entah ini sugesti atau tidak, beliau selalu datang ketika pikiran saya tidak tenang. Hanya ketika saya merasa sedih atau tertekan. Sedangkan versi randomnya, saya punya seorang paman -abang dari ibu saya, yang dulu saya anggap seperti ayah saya sendiri, karena beliau benar-benar selalu menggantikan tugas ayah saya di waktu-waktu tertentu -ketika ayah saya keluar kota misalnya, atau bekerja sampai malam. Beliau kadang menjemput saya sepulang sekolah, mengajak saya beli es krim, beli buku, atau sekadar jalan-jalan. Beliau meninggal ketika saya kelas 6 SD, umur saya ketika itu masih 12 tahun, tapi saya bisa ingat dengan jelas bahwa saya menangis ketika sebuah telepon datang untuk mengabarkan ‘kepulangan’ beliau. Saya tak pernah menangis ketika om-om yang lain meninggal, karena keluarga saya bukan keluarga yang super akrab satu sama lain. Saya tidak kenal mereka dengan baik, jadi saya takkan menangisi mereka. Tapi untuk beliau, saya menangis. Itu hari pertama saya kehilangan seorang ayah, sebelum akhirnya terulang lagi di tahun 2013 lalu.

Sekolah
Saya beberapa kali memimpikan teman-teman dan suasana sekolah saya dulu. Barangkali saya terlalu kangen rumah masa kecil, dan segala yang ada di dalamnya. Saya sempat bermimpi sedang ujian di kelas. Saya mengenakan seragam putih abu. Mereka semua ada di sana, teman-teman yang sekarang tak bisa lagi saya ingat namanya satu per satu.

Guru Tampan di sekolah
Bicara tentang sekolah, saya jadi ingat yang satu ini. Ada seorang guru tampan di sekolah saya dulu. Beliau mengajar bahasa Inggris. Dan, yap, beliau guru muda yang ganteng. Tapi sayangnya sudah punya anak, walau ternyata beliau duda. Seorang teman saya tergila-gila pada beliau. Ralat, semua anak perempuan menyukai wajah dan sikap beliau, tapi teman saya benar-benar naksir, hingga kerap digoda teman-teman sekelas setiap kali pelajaran bahasa Inggris. Beliau guru yang asyik, hampir tidak pernah memberikan materi berat, hanya ada diskusi dan tugas singkat. Saya pernah tertangkap basah main game di ponsel ketika pelajaran beliau. Waktu itu beliau berdiri tepat di depan meja saya, tapi kemudian cuek saja dan berlalu. Saya tak ditegur atau dihukum sedikit pun. Kelas yang ribut seperti pasar juga tidak pernah mendapat teguran. Sungguh, beliau sangat paham jiwa anak remaja. Yang membuat saya terharu, ketika suatu kali beliau akan mempresentasikan materi, di laptop yang beliau bawa, ada foto bersama anak-anak sebagai wallpapernya. Ternyata guru tampan, dan ayah yang baik 😛

Guru yang pacaran dengan murid
Jika ada guru tampan, tentu ada guru galak dan guru aneh. Yang satu ini akan saya sebut guru aneh. Saya tidak pernah memimpikan beliau, tapi karena memimpikan sekolahan, saya jadi ingat kenangan-kenangan lainnya. Beliau guru yang aneh, saya merasa risih saja setiap kali beliau mengajar lalu bertanya pada saya -tentang apa pun. Kalau bisa, saya selalu menjawabnya dengan cepat, berharap beliau tidak bertanya lagi pada saya. Kabar terakhir, beliau pacaran dengan kakak kelas saya yang kala itu masih 18 tahun -dengan usia beliau yang sudah 30an tahun. Ini membuat saya semakin merinding.

Nasi Goreng Berminyak
Sedikit hal lain yang saya ingat dari kantin sekolah menengah dulu, ada nasi goreng porsi kecil yang dijual seharga Rp 2.000,- sekitar tahun 2005. Nasi gorengnya kalah banyak sama minyaknya. Super berminyak, bahkan kadang saya merasa sedang makan nasi goreng berkuah. Tapi setiap hari tetap laku, karena mungkin lapar tak pernah kompromi dengan apa pun termasuk minyak.

Jajanan buka puasa di depan rumah
Ketika bulan Ramadan tiba, saya dan ibu saya sangat suka jajanan-jajanan yang ada di sore hari. Padahal kadang belum tiba jam buka puasa, tapi kami sudah merencakan akan jajan apa hari ini. Banyak makanan-makanan yang hanya bisa saya jumpai di kampung halaman, makanan yang bahkan ibukota pun tak punya.

Beberapa hal itulah yang kerap saya ingat, ketika saya mengingat rumah dan masa lalu. Sungguh, kenangan akan menua, namun tak pernah berubah 🙂

(Visited 56 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *