#KentjanJakarta

Festival Media 2015 Bersama Aliansi Jurnalis Independen

Hari Minggu kemarin mampir ke kampus Atma Jaya, Jakarta, untuk ikut talkshow Keamanan di Era Digital yang diselenggarakan panitia Festival Media 2015, hasil kerjasama kampus Atma dengan AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Tema Festival Media tahun ini adalah tentang kasus pembunuhan wartawan Udin yang hingga kini belum terungkap.

Kalau ada yang belum tahu AJI itu apa, berikut ada penjelasannya:

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lahir sebagai perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rejim Orde Baru.

Sumber: web AJI

Saya cukup bersemangat dengan acara ini, karena entah kenapa saya merasa acaranya akan menarik. Banyak jurnalis/wartawan akan datang meramaikan, ditambah kelas-kelas dan talkshow di hall utama. Bahkan sebenarnya, ada banyak booth yang bisa dikunjungi di sini. Namun, karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat ikut talkshow Keamanan di Era Digital bersama Mr. Jim Nolan dan Bapak Onno W. Purbo –salah satu pakar IT di Indonesia. Dari beliau berdualah, saya kemudian jadi tahu banyak. Plus minus internet terutama bagi kegiatan jurnalis dan narsumnya. Berikut beberapa tweet yang sempat saya posting sebagai live report selama acara:

opening from Mr. Jim Nolan

  1. Di era teknologi, hampir semua hal di dunia maya dikontrol pemerintah. Kita gak pernah tahu data mana yang kita akses dan diawasi
  2. Tp kl kita balik ke metode lama, seperti berkirim surat lewat kantor pos, pemerintah akan tetap mudah mengawasi apa yg kita krm
  3. Dan ini cukup riskan bagi jurnalis utk melindungi narasumbernya.
  4. Bahkan ada kasus di Australia, ketika seorang jurnalis investigasi ingin mewawancarai narsum, narsumnya menolak.
  5. Tapi sendiri sebenarnya sudah membuat aturan tentang perlindungan narsum ini. Bahkan ada bbrp software keamanannya
  6. Tips dari Mr. Jim Nolan, kalau mewawancarai narsum, jangan berkomunikasi lewat warnet. Jangan lupa buat password sesulit mungkin
  7. Dan agak susah juga memastikan sebuah layanan/software itu 100% aman. Bahkan termasuk layanan jadul macam telegram.
  8. Dari browser kita bisa dilacak. Ketika kita (jurnalis) mengerjakan sebuah kasus, org lain bisa melacak kita browsing ke mana saja
  9. Dan juga ada (utk sharing file) yang lumayan aman (walau sekali lagi, nggak 100%) dan direkomendasikan Mr. Jim Nolan.
  10. Mungkin beberapa yang kerja kantor sudah terbiasa sama yang 2 GB pertama gratis tapi setelahnya silakan berbayar.
  11. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah WIFI. Hal pertama, turn off sharing! Dan kamu harus yakin bahwa 100% WIFI itu aman?
  12. Yang kita sering lupa, kita harus selalu ‘forget this WIFI’ setelah disconnect.
  13. Sebab kalau nggak, ketika kita ke sana lagi dan connect otomatis ke WIFI tsb, data kita jg otomatis bisa terbaca atau dilacak.
  14. Utk secure password, di internet banyak layanan yang menyediakan sistem keamanan. Tapi kita juga bisa membuat hint sendiri.
  15. Untuk keamanan smartphone, sebisa mungkin pakai lock number 6 digit, bukan yang 4 digit. Backup data yg ada di HP utk antisipasi
  16. Kamu juga bisa browsing penjelasan di web sebab di sana ada banyak halaman yg menjelaskan materi ini

Setelah Mr. Jim Nolan, Pak Onno W. Purbo yang memimpin talkshow. Beliau  bahkan mengajarkan bagaimana cara hack password, serta menyamar menjadi orang lain. Jadi, singkatnya, kita bisa mengirimkan e-mail untuk seseorang dengan menggunakan nama orang lain (bisa presiden, pejabat, dan lainnya). Bahkan beliau juga bercerita bagaimana kisah database Mabes POLRI bisa dibobol hacker beberapa waktu lalu itu. Seorang anak SMA dikisahkan ‘pamer’ bahwa ia berhasil menerobos masuk ke database dengan menuliskan kalimat jemawa di homepage. Pak Onno berkelakar, “padahal jauh sebelum itu, beberapa tahun lalu, sebenarnya hacker lain sudah berhasil membobol dan bisa masuk kapan saja, tapi hacker senior tak pernah sombong atau pamer. Kalau hacker pemula suka pamer, jadi ketangkepnya cepet. Dan sebenarnya dia hanya membobol kulit luarnya saja, sebab yang lain sudah dikerjakan si hacker terdahulu. Tapi ia merasa bangga karena merasa dirinyalah yang melakukan itu semua.” Dan spontan saya tertawa. Sungguh, ternyata teknologi itu canggih sekali. Dan sebenarnya manusia itu spesies yang pintar, jika tidak jemawa.

Pada bagian Pak Onno sendiri, lebih banyak praktik ketimbang teori, hal ini juga yang saya sukai dari beliau; omongan sebanding dengan kecerdasan. Beliau tidak menggurui atau menggunakan bahasa berat, cenderung ke bahasa yang sederhana saja, namun berhasil mengajarkan banyak hal ke teman-teman jurnalis yang hadir pagi itu.

Dan satu hal lagi yang perlu diketahui, sebab kebanyakan dari kita menggunakan sistem WINDOWS, bahwa sebenarnya WINDOWS adalah sistem operasi yang paling gampang dibobol hacker. Lain halnya dengan LINUX yang lebih rumit karena kebanyakan kode, namun lebih aman dari gangguan hacker iseng. Pak Onno juga menambahkan, bahwa sebenarnya kita bisa membuat jaringan telepon sendiri, atau membuat server sendiri. Mengingat bahwa pihak IT dari Gmail, Yahoo, dan berbagai layanan surat elektronik luar negeri punya hak penuh untuk membobol data-data kita jika diperlukan, maka tak ada satu pun layanan surat elektronik yang aman di dunia ini. Tim IT mereka akan membongkar seluruh data kita dengan senang hati jika FBI atau pihak berwajib lainnya meminta. Lain soal, jika kita menggunakan server kita sendiri, dan menggunakan produk-produk lokal, kita tidak melewati jaringan mereka, sehingga kecil kemungkinan data kita bisa dibobol dari kejauhan.

Nah, buat kalian yang suka berkomunikasi lewat Whatsapp, SKYPE, LINE, dan aplikasi sejenis, sebenarnya menelepon lebih aman lewat apps-apps ini, ketimbang kartu seluler. Karena ketika kita melakukan panggilan suara lewat lewat telepon dan kartu seluler, maka suara kita akan direkam dari pusat. Namun, jika kita menggunakan layanan apps luar, pihak IT dari kantor pusat ***** sana akan kesulitan, sebab mereka harus bisa membobol server apps-apps tersebut, dan itu sulit sekali.

Pak Onno W. Purbo sedang menjawab pertanyaan seorang peserta

Sedangkan untuk chat, lebih baik menggunakan aplikasi bernama Telegram. Aplikasi ini pernah saya coba. Tampilannya sangat mirip Whatsapp namun dengan user interface yang lebih elegan, dan fitur yang memang lebih banyak. Sekilas keduanya sama saja, jika kita tidak memiliki kebutuhan penting. Tetapi, menurut Pak Onno, Telegram pengamanannya jauh di atas Whatsapp.

Bahkan untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, Pak Onno berpendapat bahwa beliau hanya berkomunikasi via internet, dan tidak menggunakan telepon via kartu seluler biasa. Ponsel yang beliau gunakan pun adalah produk asli dalam negeri. Beliau sempat menantang hadirin, menanyakan siapa yang menggunakan ponsel lokal, namun tak ada satu pun orang yang mengangkat tangan. Ternyata negara kita masih begitu terikat pada pihak asing. Iya, saya juga ternyata masih menggunakan ponsel produksi luar negeri, hahaha.

Overall, menurut saya sesi talkshow kali ini cukup menarik dan menyenangkan. Saya jadi banyak belajar betapa pentingnya melindungi kepentingan narasumber dan seberapa besar bahaya yang mungkin saja mengintai para jurnalis maupun narsum mereka.

Semoga di kali lain bisa bertemu lagi dengan Pak Onno. Sungguh, ilmu beliau mengagumkan sekali 😛

Nah, semoga tahun depan berkesempatan untuk menghadiri acara serupa!

Tambahan: sedikit kecewa karena tak bisa melihat acara penutupannya, sebab ada Fajar Merah dan Merah Bercerita 😛

(Visited 43 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *