Cerita pendek

Saat Ini di Masa Lalu

Gambar dari sini

“Ria! Makan malam dulu, Nduk!” Terdengar suara Ibu dari lantai bawah, tepat ketika tanganku membuka pintu kamar.

“Iya, Bu. Aku mau mandi duluuu…,” seruku lelah.

Lalu kuletakkan ransel hitamku di kursi dan merebahkan tubuh di kasur empuk. Perjalanan dua minggu bersama Bapak terasa seperti petualangan dalam film Indiana Jones bagiku. Oke, mungkin perumpamaannya berlebihan. Maksudku, kami–aku, Bapak dan tim arkeologi yang dipimpinnya–menempuh perjalanan ke daerah yang cukup terpencil. Aku tidak yakin tempat itu punya nama di peta Indonesia, kalaupun ada mungkin porsi letaknya nyaris tidak terlihat. Di sana kami mencari keberadaan artefak-artefak kuno lalu menggalinya untuk diteliti. Kadang, ada juga yang sebagian dipamerkan di daerah asalnya–atas permintaan pemerintah daerah setempat tentunya.

Sejak awal kuliah, aku sering ikut dengan Bapak. Mengunjungi tempat-tempat baru dan asing. Pernah aku ikut proyek penggalian benda purbakala di Goa Song Gilap, sebuah tempat di daerah Wonogiri bersama tim arkeolog dari UGM Jogja[1]. Dan juga pernah ikut ketika kami–aku, Bapak dan tim arkeologinya–menemukan sekitar dua puluhan artefak di Hotel Omni Batavia di daerah Kota Tua, Jakarta.[2]

Ayahku, atau yang biasa kupanggil ‘Bapak’ adalah seorang guru besar jurusan arkeologi di sebuah universitas negeri nomor satu di negeri ini. Beberapa kali Bapak ‘dinas luar’ untuk mencari artefak atau meneliti peninggalan kuno langsung di lokasinya. Sejak SD aku selalu merengek untuk ikut, namun Bapak selalu menolak. Alasannya, saat itu aku masih terlalu kecil untuk dibawa keluar masuk ke daerah terpencil. Aku penasaran untuk ikut karena beberapa kali melihat benda-benda aneh namun unik di ruang kerjanya, ketika dulu ikut Bapak ke kampus tempat beliau mengajar. Namun siapa sangka, justru sekarang aku menjadi mahasiswi di kampus yang sama. Dan, jurusan arkeologi juga tentu saja.

***

            “Hello, Bu Arkeolog. Gimana perjalanannya kemarin?” Seorang gadis manis berkacamata frame kotak menghampiri mejaku. Kantin siang ini cukup ramai, dan hampir tidak ada meja lain yang kosong.

Amazing.” Aku mengembangkan senyum. “Lo sendiri? Gimana kabarnya CEO perusahaan yang cakep itu? Jadi penelitian di sana?”

Cessa membenarkan letak kacamatanya lalu tertawa. “CEO-nya ternyata udah punya tunangan, gue tahu dari bisikan asisten pribadinya. Hahaha. Ternyata asistennya itu dulu tetangga gue.”

“Dunia makin sempit, beib.” Aku terbahak, lalu melemparkan pandangan nakal. “Batal dong naik pangkat jadi Nyonya CEO?”

“Kampret, ah. Gue kan ke sana buat penelitian skripsi aja. Juga cuma meneliti tentang limbah lingkungan di pabrik pengolahannya. Jadi nggak terlalu sering nyamperin ke perusahaan. Dia aja yang suka sepik sana-sini. Hehe.”

Cessa atau lengkapnya Piscessa, adalah temanku dari jurusan Biologi. Perkenalanku dengannya diawali kejadian yang umum sekali terjadi di dalam cerita sinetron. Kami bertemu saat tidak sengaja bertabrakan di depan toilet perpustakaan pusat. Kala itu Cessa tengah asik dengan ponsel di tangan kanannya dan membawa cup latte di tangan kiri. Seperti yang umumnya terjadi di dalam sinetron, minumannya tumpah dan mengenai jaketku. Lalu dia meminta maaf dan menawari diri untuk membawa pulang jaket itu untuk mencucinya. Sejak kejadian itu kami menjadi sering bertemu dan menjadi sepasang teman yang cukup akrab.

Saat ini kami sama-sama sedang mengerjakan skripsi, tapi bedanya skripsiku mengharuskanku untuk berkutat dengan penggalian dan riset, bertemu dengan orang-orang daerah setempat. Sementara skripsi milik Cessa membuatnya harus bolak-balik ke sebuah pabrik di perusahaan yang hendak ditelitinya, lalu bertemu seorang CEO tampan kaya raya yang kemudian terpikat padanya. Begitu beruntungnya dia. Begitulah Cessa, gadis Pisces yang menarik, terlebih lagi ia pintar dan baik hati. Mungkin dia akan terlihat lebih manis jika ia mengganti kacamata frame kotaknya dengan softlens. Kacamata kotak itu membuatnya lebih mirip wartawan; well, setidaknya menurutku.

“Jadi, perjalanan selanjutnya lo bakal nyari apa?” Cessa menyeruput es teh manis di gelasku seenaknya. “Sorry, gue lupa beli minum.” Ia cuma nyengir kuda ketika aku menatapnya datar.

Aku meraih kerupuk dari atas piring nasi goreng Cessa. “Gue lagi fokus soal Mataram Kuno.”

“Yang ada Balaputradewa-nya itu bukan, sih? Duh, waktu sekolah gue bego sama mata pelajaran Sejarah. Tapi gue paling suka cerita Balaputradewa yang kalah perang sama iparnya untuk ngerebutin tahta kerajaan di Jawa, dan akhirnya lari ke Sumatera lalu malah bangun kerajaan baru, yaitu Sriwijaya dan jadi raja di sana.”

“Untuk ukuran orang yang bego sejarah, ingatan lo cukup bagus, Ces.”

“Hahaha, sialan lo!”

Aku tertawa lagi, diiringi suara kunyahan kerupuk. Baru saja akan kulontarkan jawaban balasan, tapi ponselku bergetar.

Ario calling..

***

            “Duh, aku nggak bisa, Kak.” Aku memasang wajah memelas. Ario–kakak kembarku, hanya mengangkat bahu.

“Mau ikut Bapak ke lokasi lagi, ya?” Tebakannya benar.

Kepalaku mengangguk. “Kakak kan tahu, ini buat skripsiku.”

“Hmm, oke deh. Nanti aku batalin aja ke puncaknya.”

“Memang kenapa? Ini bukan liburan keluarga, kan?”

“Yaaa, ini liburannya anak TI, Dek.” Ario mengacak-acak rambutku. Ia memang tidak pernah tertarik pada sejarah dan arkeologi. Semenjak sekolah, hidupnya berkutat pada bidang TI. Dan sejak wisuda beberapa bulan lalu, ia selalu kebanjiran job. Alasan Ario menyukai bidang ini karena menurutnya lebih santai daripada bidang arkeologi yang harus sering turun ke lapangan. Aku tidak menjawab, hanya menatap kakakku itu dengan pandangan penuh tanya. “Tapi temen-temen maksa, padahal sebenernya aku males ikutan. Makanya ngajak kamu. Ya, biar seru aja. Kita juga udah lama nggak liburan bareng,” ujarnya kemudian.

“Karena ada Kak Joya?” Aku menebak isi pikiran Ario. Pikiran kakakku itu selalu bisa kutebak dari raut wajahnya, dalam hal ini aku sama dengan ahli dengannya saat dia menebak rencana-rencanaku jika menolak ajakannya.

Actually, yes.” Ario menghela napas panjang. “Aku capek ngeladenin cewek yang susah move-on.”

“Dasar Aries, nggak sabaran banget sama orang lain!”

“Kamu juga Aries!” Ario melemparkan bantal ke arahku. Kami lalu tertawa bersama, hingga kemudian Ibu mengetuk pintu kamar yang terbuka setengah.

“Rio, itu Joya nungguin di bawah. Katanya ada perlu sama kamu.”

Ario menatapku dengan pandangan tuh-kan-dia-lagi!

            Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis dan tatapan udah-sana-temuin-dulu!

***

Perjalanan kali ini lebih luar biasa! Sedikit lebih menyenangkan ketimbang perjalananku sebelumnya. Kami menemukan banyak benda peninggalan dari Mataram Kuno ketika menggali di Situs Liyangan, Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.[3]

Sayang, benda-benda hasil evakuasi ini sementara hanya boleh kami teliti di lokasi karena untuk seminggu kedepan akan dipamerkan di balai desa. Ada banyak bebatuan, arca, pedang, keramik dan berbagai artefak lain.

“Pameran ini sudah sangat bagus sekali, namun harus disertai dengan penggalian tetang sejarah Liyangan yang lebih teliti lagi sehingga sejarah Liyangan yang sebenarnya bisa diketahui oleh seluruh masyarakat,” ucap lelaki yang kuketahui sebagai Bupati Temanggung itu berkomentar saat bercengkrama dengan Bapak. Sementara ayahku hanya mengangguk mengiyakan, sembari memantau pekerjaan timnya yang tengah membereskan penemuan kami selama beberapa hari ini.

Hasil dari perjalanan itu ternyata sangat melelahkan. Seperti biasanya, aku langsung masuk kamar dan merebahkan tubuh. Aku memijit kepala, rasanya berat sekali. Dalam perjalanan terakhir ini aku sempat tidak bisa tidur selama dua malam berturut-turut, hingga akhirnya malam ini aku tak kuasa menahan kantuk dan tertidur tak lama merebahkan tubuh.

Aku terbangun dengan napas terengah di pagi hari berikutnya. Aku bermimpi. Mimpi yang cukup aneh. Mimpi yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Di dalam mimpi itu aku selalu melihat keramaian dan berada di tengah pasar, dengan orang-orang di sana berpakaian seperti orang-orang jaman dulu. Lalu perlahan, pasar itu menghilang dan berganti menjadi suatu tempat perang. Darah berserakan di mana-mana dan tiba-tiba saja sesosok tubuh yang bergelimang darah terlihat begitu dekat di depan mataku.. dan buuushh! Semuanya hilang begitu saja, yang tinggal hanya cahaya terang menyilaukan dan selalu berhasil membuatku terbangun.

Orang-orang asli daerah sana tidak ada yang tahu arti mimpi itu. Mereka hanya cuek dan menyuruhku rajin membaca doa sebelum melakukan apapun di lokasi yang mereka anggap keramat. Tapi kurasa itu tidak terlalu ampuh. Mimpi seperti itu datang lagi di malam berikutnya, membuatku muak dan hendak pulang saja, tapi kemudian aku teringat bahwa penggalian ini ada hubungannya dengan materi penelitian skripsiku. Dan aku memilih untuk bertahan.

***

Penelitian sudah selesai, kini aku sudah di rumah, namun pikiranku terus berputar tentang kejadian-kejadian di tempat itu, mengingat kembali rentetan mimpi yang datangn kepadaku selama empat belas hari di sana. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Dengan cekatan sepasang tanganku meraih tas ransel dan meraba isi dalamnya, meraih sesuatu yang diam-diam kubawa pulang dari lokasi penggalian. Sebuah gelang antik berukiran aneh. Sepasang indera penglihatanku menatap benda itu dalam-dalam. Rumit. Semakin aku berusaha meneliti ukirannya, kepalaku terasa makin pusing. Langit-langit lalu terasa berputar. Aku berusaha menggapai meja untuk menyeimbangkan tubuh sementara gelang tadi terus kugenggam di tangan kanan.

“Na? Ariana? Kamu kenapa, Dek?” Hingga suara itu kemudian muncul dan sepasang tangan mencengkram bahuku erat. “Dek? Are you okay?” Ario menatapku dengan pandangan khawatir.

Aku menggeleng cepat, berusaha mengatur agar pandangan mataku tidak mengabur. Ario meraih gelang tadi dan melemparkannya ke meja. “Itu apa? Kamu kenapa, Dek?”

“Kak….”

Ia masih mencengkram bahuku, mungkin takut jika tiba-tiba saja aku oleng lagi. Terlambat. Mataku terasa basah, ingatanku sudah terombang-ambing.

***

11:23pm

Banyak tab terbuka di browser internet, aku menatap layar MacBook Pro-ku dengan pandangan kabur. Sudah tengah malam, tubuhku lelah namun otakku masih penuh dengan rasa penasaran. Penggalian itu, mimpi-mimpi buruk dan gelang antik itu.. Mataram Kuno..

Tangan kananku bergerak, membaca tab pertama yang halamannya sudah loading dengan sempurna.

Kerajaan Mataram Kuno[4]

Mataram Kuno: Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra

Di Jawa Tengah pada abad ke-8 M telah berdiri sebuah kerajaan, yakni Mataram. Mataram yang bercorak Hindu – Buddha ini diperintah oleh dua dinasti (wangsa) yang berbeda, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Ibukota Mataram adalah Medang atau Medang Kamulan hingga tahun 925. Pada Prasasti Canggal terdapat kata-kata “Medang, Bumi Mataram”. Namun hingga sekarang letak pasti ibukota ini belum diketahui.

Berdasarkan Prasasti Canggal diketahui, Mataram Kuno mula-mula diperintah oleh Raja Sanna. Sanna kemudian digantikan oleh keponakannya, Sanjaya. Sanjaya adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna (Sanna tidak memiliki keturunan). Sanjaya memerintah dengan bijaksana sehingga rakyat hidup makmur, aman dan tenteram. Hal ini terlihat dari Prasasti Canggal yang menyebutkan bahwa tanah Jawa kaya akan padi dan emas. Selain pada Prasasti Canggal, nama Sanjaya juga tercantum pada Prasasti Balitung.

Aku membaca kalimat demi kalimat, alinea demi alinea, hingga akhirnya jenuh sendiri. Aku tidak menemukan apa yang kucari di halaman ini. Maka secepat kilat jemariku bergerak lagi. Tab kedua terbuka, sempurna.

Menyingkir dari Jawa[5]

Teori yang sangat populer, yang dikembangkan oleh De Casparis, menyebutkan bahwa Samaragrawira identik dengan Samaratungga Raja Jawa. Sepeninggal Samaratungga terjadi perebutan tahta di antara kedua anaknya, yaitu Balaputradewa melawan Pramodawardhani. Pada tahun 856 Balaputradewa dikalahkan Rakai Pikatan suami Pramodawardhani sehingga menyingkir ke Pulau Sumatera.

Aku menutup kedua tab tadi, kini yang tersisa hanya tab ketiga. Halaman Facebook terbuka, menampilkan status-status yang baru diupdate. Sudah tengah malam, namun masih banyak teman yang online. Mataku lalu terpaku pada sebuah kalimat yang diposting oleh Chanting–teman sekelasku semasa SMA.

Chanting Anjani
Katanya anak kembar cowok-cewek itu adalah reinkarnasi dari pasangan yang cintanya nggak kesampaian di masa lalu. Hmm.. bener nggak, ya? *aneh-aneh aja*
10 minutes ago from mobile.

Memang aku pernah mendengar tentang mitos itu. Entah apalah namanya, entah mitos atau bukan, aku juga tidak mengerti. Namun memang ada yang bilang bahwa pasangan anak kembar adalah pasangan yang terlahir kembali karena cintanya tak kesampaian di masa lalu. Tanganku meraih figura di samping laptop, menatap fotoku bersama Ario ketika kami SMA. Tidak ada yang aneh, kami berdua tersenyum bahagia di foto itu. Namun sedetik kemudian, sebuah memori lama menelusup.

Tangan kananku menyingkir dari laptop, lalu beralih untuk memijit kepala sendiri. Sambil berdecak kesal, aku melirik jam dinding. Sudah lewat lima belas menit dari pukul dua belas, tapi aku tak juga menemukan hal yang kucari. Memang disebutkan ada peperangan untuk berebut tahta, tapi tetap tidak ada penjelasan tentang Balaputradewa selain ia melarikan diri ke Sumatera lalu menjadi raja karena masih ada kerabatnya yang menduduki Sriwijaya di daerah Sumatera Selatan. Aku masih penasaran dengan mimpi yang belakangan selalu menghantuiku. Wajah lelaki itu rasanya agak familiar, namun aku susah mengenali karena berlumuran darah. Dan aku selalu terbangun ketika melihat wajahnya. Apa itu hanya mimpi biasa? Jika bukan, apa dia selamat atau malah mati di medan perang?

Aku berdecak kesal, merasa gagal menemukan hal yang kucari. Mungkin ada baiknya aku tidur dan mencoba mencari lagi di perpustakaan kampus. Berharap ada buku-buku tua yang mencatat kejadian mirip dengan mimpi anehku. Jam sudah menunjukkan pukul 12:30 ketika aku beranjak ke kasur dan menarik selimut. Tak lama kemudian aku lalu terlelap.

***

            Aku melihat dua orang tengah bercakap-cakap di depan sebuah gubuk sederhana. Seorang wanita yang duduk berlawanan arah dan tak mampu kulihat wajahnya, lebih dahulu mengeluarkan suara. “Aku akan menyusul, Pak.. Aku takut,” ujarnya dengan nada khawatir.

“Mereka sedang di medan perang, Nduk. Dia tidak ada di kerajaan.” Seorang lelaki tua menghela nafas, menjawab dengan sabar. “Sabarlah menunggu, nanti dia pasti kembali untukmu.”

            “Tapi bagaimana jika pasukan Balaputradewa mampu dikalahkan Rakai Pikatan? Bapak, sendiri tahu… peperangan ini tidak seimbang. Dia harus melarikan diri dari sana, Pak.”

            “Patih yang sejati tidak akan mundur, Nduk. Bahkan walaupun ia gugur, Bapak yakin ia akan tetap mencintaimu. Hidup mati itu hanya masalah nyawa dalam raga, Nduk. Tidak akan mengurangi cintanya kepadamu.

Mimpi itu datang lagi. Kali ini terasa lebih nyata. Jauh lebih nyata daripada mimpi-mimpi sebelumnya.

Lalu semuanya berputar lagi, kali ini terihat dua lelaki yang cukup gagah saling memimpin pasukan masing-masing.

“Kita datang untuk menang. Tidak ada kata menyerah, bahkan jika harus mati!” Lelaki kedua memberi komando pada anak buahnya yang berjumlah ratusan.

“SERANG!!” Begitu kedua lelaki itu memberi komando, perang langsung pecah. Seketika saja banyak mayat prajurit bergelimpangan. Aku seolah tak terlihat di sana, namun aku bisa melihat mereka semua. Aku berdiri ketakutan di tengah-tengah perkelahian mereka, namun tak ada satu pun yang menghiraukan.

Pandanganku mengabur, terlalu pusing menyaksikan pertempuran itu di depan mata. Pedang-pedang beradu, anak-anak panah ditembakkan, suaranya riuh memekakkan telinga, beberapa prajurit gugur lagi bersimbah darah. Hingga akhirnya aku melihat lelaki itu di sana. Lelaki yang wajahnya familiar. Ia tengah bertempur mati-matian dengan prajurit lawan. Pakaiannya terlihat berbeda, ia bukan prajurit biasa, namun aku tahu bahwa ia juga bukan pemimpin tertinggi dari salah satu kubu. Kelihatannya, ia hanya seorang patih yang dipercaya di kubu pertama.

Kubu pertama nyaris kehabisan pasukan. Lelaki pemimpin kubu kedua menyunggingkan senyum sinis, “seharusnya kalian menyerah saja.”

Lelaki itu masih di sana. Wajahnya masih familiar. Kelamaan langkahnya mendekat dan mendadak saja tubuhku terasa kaku. Aku mengenalinya, walau penampilannya jauh berbeda. Wajah itu..

“Ariana? Bangun, Rin!” Tubuhku diguncang seseorang hingga segala mimpi itu buyar. Wajah yang sama kudapati di sana, wajah yang sama dengan wajah lelaki di dalam mimpiku.

“Kak….” Aku tidak bisa berkata-kata.

“Kamu tidurnya gelisah.” Ario meraih tisu untuk menyeka keringatku yang sudah bercucuran.

“Kak….” Lidahku terasa kelu. Semua mimpi itu masih jelas teringat. Ada Ario di sana, ia ikut berperang bersama mereka. Kubunya nyaris kalah dan terbunuh..

“Kamu bikin aku khawatir.” Ia memeluk erat tubuhku, terasa begitu hangat.

“Lo sama Ario itu aneh, tahu!”

            “Aneh gimana, sih? Gue ngerasa biasa aja.”

            “Dia itu kan kakak lo sendiri, tapi kalian kelihatan kayak orang pacaran.”

            “Ng?”

            “Iya, lo nggak ngerasa ya kalo perhatiannya Ario itu beda? Kalo nggak, pacarnya nggak mungkin sampe jealous sama lo, Arianaaaa.”

            “Jealousnya nggak beralasan, kami saudara… kembar lagi!”

            “Gimana dia nggak jealous kalo tiap kali yang dipikirin Ario cuma lo.”

            “Iya tuh. Lo inget nggak kejadian bulan lalu?”

            “Yang mana?”

            “Yang waktu kita berenang rame-rame. Lo mendadak keram dan tenggelam. Ario yang paling panik waktu itu.”

            “…tambahan, Na, Ario juga yang ngasih napas buatan. Padahal di sana ada Dodi, kan? Dia pacar lo, tapi tetep aja Ario yang paling sooo sweettt.. Hahahaha.”

            Potongan percakapan tiga tahun lalu itu kembali berkelabat di benakku. Semua teman semasa SMA selalu berkata bahwa kedekatan kami berlebihan untuk status saudara kembar. Walaupun menurutku biasa saja, namun orang-orang memandang dengan cara lain. Ario pun sepertinya tidak pernah peduli.

“Aku mimpi buruk.” Hanya itu yang mampu kuucapkan ketika Ario melepas pelukannya.

“Jangan dipikirin. Aku juga kadang mimpi tentang perang itu.” Gumamnya pelan, nyaris tanpa suara.

“Apa?”

“Iya. Gelang yang kamu bawa dari penggalian waktu itu. Mataram Kuno, ya? Aku ternyata kenal gelang itu.”

“Kakak pernah lihat di mana?”

“Mimpi.” Ia tertawa seolah tidak percaya, seolah menertawakan mimpinya sendiri. “Tapi kayaknya mimpi kita sama..”

“Ada kamu di sana..”

“Ada Kakak di sana..”

Kami mengucapkannya hampir bersamaan, dan lagi-lagi tertegun.

“Tapi jangan dipikirin, Dek. Jangan bikin Kakak takut. Tidur kamu gelisah banget tadi.” Ario menghela napas, lalu mengecup puncak kepalaku.

“Kak….” Aku merasa ini agak berlebihan, lalu berusaha menjauhkan diri.

Ario tidak peduli, ia lalu mengecup keningku, juga menahan tubuhku agar tidak menjauh, lalu membenamkan aku dalam sebuah pelukan. Sekali lagi.

Pada tahun 856 Balaputradewa dikalahkan Rakai Pikatan –suami Pramodawardhani, sehingga menyingkir ke Pulau Sumatera.

*

Katanya, anak kembar cowok-cewek itu adalah reinkarnasi dari pasangan yang cintanya nggak kesampaian di masa lalu…

*

Sumber referensi:

[1] http://www.solopos.com/2013/06/29/temuan-artefak-wonogiri-penggalian-diakhiri-tim-lanjutkan-penelitian-421110

[2] http://www.tempo.co/read/news/2010/11/19/057292898/Artefak-Kuno-Ditemukan-di-Kota-Tua

[3] http://daerah.sindonews.com/read/2013/06/18/30/751006/sejumlah-artefak-mataram-kuno-dipamerkan-di-situs-liyangan

[4] http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-mataram-kuno.html

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Balaputradewa

(Visited 63 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *