Tentang Menulis

Apakah Cukup dengan Menjadi Penulis Fulltime Saja?

Gambar dari sini

Beberapa hari ini sudah dua orang yang bertanya pada saya, mengenai pertanyaan yang mungkin sudah bosan didengar penulis-penulis lainnya.

Menurut kamu -yang bukunya pernah terbit di penerbit mayor, kira-kira pendapatan dari royalti itu cukup nggak untuk hidup? Dengan kata lain, tidak bekerja di mana-mana, hanya menulis saja di rumah.

Beberapa orang yang gemar menulis mungkin pernah memikirkan opsi ini. Saya juga memikirkan opsi ini, tapi saya sadar bahwa saya tidak mungkin melakukannya sekarang. Jadi mungkin nanti, setelah saya menikah, lalu punya anak, saya mulai bisa mempertimbangkannya dengan baik. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menjaga anak-anak dengan tangan sendiri, kan? Dan menulis bisa jadi satu kegiatan menyenangkan untuk menemanimu menjaga anak di rumah.

Tapi, jika kamu memikirkannya di usia muda, dalam masa-masa emasmu, barangkali ada beberapa pertanyaan penting yang harus kamu jawab.

  1. Penulis yang seperti apa?
    Ada banyak penulis di dunia ini, kawan. Kamu ingin menjadi yang mana? Sebagian teman saya memang meninggalkan pekerjaan utamanya -baik sebagai jurnalis maupun akuntan, untuk kemudian menjadi penulis fulltime. Karena mereka mungkin tidak puas dengan menjadi penulis paruh waktu. Tapi, perlu saya tekankan, mereka tak 100% menulis fiksi. Sebagiannya freelancer di media online, sebagiannya ghost writer untuk bermacam-macam jenis tulisan. Bicara uang, dua hal itu memang bisa menopang kehidupan pribadi, jika kamu getol menulis, mengumpulkan artikel kepada editormu, lalu membagikan link agar pembacamu jadi banyak. Tapi jika kamu berharap bisa hidup dari menulis fiksi SAJA, tunggu dulu. Saya tidak punya contoh kenalan yang seperti itu. Dan saya juga tidak mau senekat itu. Sebab, setahu saya, para penulis fiksi pun memiliki profesi utama, atau minimal usaha sendiri selain menulis novel. Ini kenyataan pahit, tapi kamu harus tahu bahwa dunia penerbitan kita tidak semenyenangkan dunia penerbitan di luar negeri. Di luar sana, karya sastra sangat diapresiasi. E-Book yang di sini kurang booming pun, di sana laku. Jadi, cuma ada 2 cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dari menjadi penulis fiksi di Indonesia: menjadikan bukumu best seller selalu, terus menerus, atau menjadi penulis bertelur. Saya takkan bicara banyak soal ini, tapi gambaran singkatnya, penulis bertelur bisa diartikan sebagai penulis yang karyanya ada di mana-mana, di penerbit mana pun, terbit kapan pun. Tapi kualitas buku yang ditulis dan terbit dalam tempo singkat, tentu tidak sama dengan buku-buku yang berproses. Ya, begitulah. 🙂
  2. Seberapa besar kebutuhan hidupmu?
    Hal satu ini juga berpengaruh. Seberapa besar kebutuhan hidupmu dalam sebulan? Kalau saya, selalu ada barang yang ingin saya beli. Maka, saya lebih cocok kerja kantor yang penghasilannya tetap, agar saya tetap bisa memenuhi keinginan-keinginan tersebut. Terlebih lagi, selain makanan pokok, saya tipe orang yang tetap harus ke kedai kopi saban beberapa waktu. Dan tidak bisa dipungkiri, nongkrong perlu uang yang lebih, maka saya bekerja.
  3. Rutinitas
    Jika menjadi pekerja kantoran, rutinitasmu mungkin padat, tapi kamu akan selalu bertemu orang-orang baru tanpa kamu cari. Saya tak mengatakan bahwa kamu akan kurang pergaulan jika menjadi penulis fulltime, tentu saja tidak. Sebab, kamu tetap bisa menemukan teman-teman baru jika kamu bergabung dalam sebuah komunitas. Dengan catatan, itu pun jika kamu suka dengan konsep komunitas. Sebab, beberapa orang yang saya kenal, tak suka konsep komunitas atau grup yang begitu ramai. Mereka lebih suka menyendiri. Nah, kalau kamu tidak suka keramaian dunia maya, lalu memilih untuk menyendiri juga dari dunia nyata, kelamaan bisa jadi tidak baik untuk kesehatan, lho 😛 Tapi sebaliknya, jika kamu pintar memanfaatkan situasi, menjadi penulis fulltime akan membuatmu memiliki banyak waktu untuk melakukan banyak hal.
  4. Keteguhan hati
    Ini juga penting. Memilih sebuah jalan –apapun itu, butuh keteguhan hati. Saya butuh keteguhan hati ketika memilih bahwa saya akan bekerja untuk media saja, bukan menjadi bankir yang duitnya banyak seperti impian banyak orang. Saya butuh keteguhan hati untuk menerima, bahwa selain menyenangkan, bekerja di media juga pasti ada susah-susahnya. Semua pilihan perlu keyakinan. Nah, apakah kamu yakin untuk menjadi penulis 100%?
  5. Hidup dengan hobi setiap hari
    Salah satu keuntungan dengan menjadi penulis fulltime adalah, kamu akan hidup dari dan dengan hobimu setiap harinya. Kamu akan menulis dan terus menulis, tanpa berada di bawah tekanan perusahaan. Tidak ada deadline mungkin, jika kamu bukan ghostwriter atau freelancer. Tapi, sekali lagi, apakah kamu sanggup mengatur hidup yang seperti itu? Lalu jika kamu sudah merasa yakin, saya rasa sah-sah saja. Tidak ada salahnya untuk mencoba, kan? Speaking about hidup dengan hobi setiap hari, sebenarnya seperti kata Bapak Walikota Bandung itu sudah benar, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Jadi, sebenarnya untuk fokus di hobi, tidak perlu sampai melenyapkan pekerjaan dari dalam hidupmu. Cukup menjadi pekerjaan yang sesuai saja dengan hobi, terkadang itu membantu.

Sebenarnya ada banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan, tapi saya tidak mungkin menjabarkannya di sini. Kelamaan postingan ini bisa menjadi satu makalah. Mungkin, selain teori, juga perlu ada contoh. Nah, mari simak pengakuan salah satu teman saya berikut ini.

penulis fulltime

 

(Visited 155 times, 1 visits today)

3 thoughts on “Apakah Cukup dengan Menjadi Penulis Fulltime Saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *