Coretan

(Memaksa Orang untuk) Memaafkan

Gambar dari sini

Tempo hari netizen Indonesia dihebohkan dengan munculnya video permintaan maaf seorang artis yang konon katanya hatersnya paling banyak se-Nusantara. Apa sebabnya? *halah, nulisnya jadi kayak nulis di koran* πŸ˜›

Sebabnya, warga menganggap beliau itu merebut suami seseorang. Bukan sembarang orang pula, tapi orang yang sudah membesarkan namanya, mengangkatnya dari rakyat menjadi artis terkenal. Mungkin yang ada di pikiran segenap rakyat Indonesia adalah: tak tahu terima kasih.

Lalu kemudian, saya melihat video itu. Di sana beliau itu menangis tersedu-sedan, menuduh mantan temannya itu nggak ikhlas memaafkan. Katanya secara pribadi sudah dicoba, tapi sepertinya ditolak terus, ndak diterima kehadirannya. Ndak dilayani lagi untuk bicara.

Cuma, gimana, ya. Saya cuma berpikir, apa tujuan video itu dibuat? Bukankah semakin menambah kisruh masalah tersebut, dan malah membuat urusan pribadi diketahui publik, bahkan menjadi bulan-bulanan? Mau menunjukkan penyesalan? Atau apa? Sebab menurut saya, ketika kita bersalah, kewajiban kita adalah minta maaf. Ketika kita tak dimaafkan, ya sudah. Sama seperti kata si Mbak tersebut, kita ndak berhak memaksa orang memaafkan kita, tapi mengapa beliau buat video seolah memaksa si (mantan) teman memaafkan beliau? Bukankah memaafkan atau tidak termasuk hak asasi seseorang?

Dan perihal memaafkan, saya rasa lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan. Cok ko tengok dulu itu, kalau kata teman saya yang orang Batak. Coba lihat dulu itu, kasusnya apa dulu? Nih, saya kalau disuruh diminta memaafkan selingkuhannya mantan pacar saya aja, saya ndak mau kok. Terus nuduh saya jahat? Lho, mending saya jahat tapi saya jujur, kan, ya? Ketimbang saya baik tapi saya pembohong? πŸ˜›

Itu selingkuhnya pas pacaran, gimana si mbak itu yang jadi selingkuhan suami orang yang anaknya sudah 3. Beliau jelas sudah menghancurkan kehidupan 5 orang sekaligus. Sebab ketika kita masuk ke dalam hidup orang, kita kadang bisa mengacaukan apa yang sudah susah payah dibangun pasangannya. Saya pun pernah merasakan itu. Saya merasa hal-hal baik yang sudah saya bangun dihancurkan orang begitu saja. Jadi, kalau ditanya maaf, ya saya akan minta maaf duluan. Maaf, sampai mati pun kita ndak bisa jadi teman. Saya ini bukan perempuan baik, tapi saya adalah diri saya sendiri. Titik.

Lalu kembali lagi, sampai mana dulu beliau mau dimaafkan? Kalau kesalahannya ya sebesar itu dan memang kenyataannya begitu, ya sudah. Kalau memang beliau ndak merasa bersalah, ya ndak usah minta maaf. Kenapa takut? Orang ndak salah itu ndak perlu takut. Saya dituduh selingkuhan pun ndak takut, kalau memang bukan. Saya berani karena saya benar.

Jadi, ya, sudah kelihatan siapa yang drama queen dalam kasus arteis kali ini πŸ˜›

Saya tutup video itu dengan wajah malas. Saya telah membuang 40 menit waktu saya hanya untuk sebuah drama ternyata.

Memang kelam kali dunia arteis itu. *ala-ala Mak Gondut di Demi Ucok*

(Visited 65 times, 1 visits today)

2 thoughts on “(Memaksa Orang untuk) Memaafkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *